Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam khotbahnya pada pemberian Sakramen Krisma di Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire pada Minggu (22/03) mengatakan, ada skenario besar untuk menghabiskan orang muda Papua.

Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam khotbahnya pada pemberian Sakramen Krisma di Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire pada Minggu (22/03) mengatakan, ada skenario besar untuk menghabiskan orang muda Papua.

Nabire, Mapegawuu.blogspot.com —Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam khotbahnya pada pemberian Sakramen Krisma di Gereja Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire pada Minggu (22/03) mengatakan, ada skenario besar untuk menghabiskan orang muda Papua.

Dalam khotbahnya, Uskup juga mengingatkan, 30-an tahun terakhir banyak anak muda Papua yang meninggal bukan pada saatnya.

“Kita saksikan hampir setiap hari di media sosial selalu ada foto atau video tentang orang mati khususnya orang-orang muda dari Sorong sampai Merauke hampir sudah ratusan bahkan ribuan yang sudah meninggal percuma. Mati begitu saja, merugikan semua pihak (kita semua rugi) karena banyak orang muda yang sudah meninggal sebelum waktunya, sebelum saatnya,” jelasnya.

Yang menjadi pertanyaan, lanjut Uskup, mengapa ini terjadi? Mengapa banyak orang-orang muda kita, banyak yang meninggal. Banyak yang meninggal di jalan, di parit-parit, meninggal di tempat kos, meninggal di rumah keluarga, di kampung, dan seterusnya.

Menurut Uskup, terdapat dua faktor yang menyebabkan kematian anak muda di Tanah Papua.

“Yaitu, faktor internal dan eksternal. Ada faktor internal dalam diri kita, banyak anak-anak muda ini tidak disiplin dalam hidupnya. Tidak disiplin dalam hidup menjaga tubuh. Keluyuran sampai pagi-pagi tertidur, sampai ayam berkokok baru mau tutup mata, pagi dari sore s ampai tengah malam sibuk dengan HP, sibuk dangan Facebook, sibuk dengan yang lain-lain, sehingga tidurnya baru mau pagi baru tidur dan pola itu dilakukan sekian tahun, maka cepat atau lambat tubuh (shark) ini, tubuh mentalnya, tubuh rohnya layu dan mati,” tegasnya. 

Uskup juga mengatakan faktor internal yang membuat orang Papua tidak mampu bertahan hidup dalam situasi perubahan hidup dari tradisional ke situasi modern.

“Perubahan dunia dari tradisional ke dunia modern membingungkan, khususnya orang-orang Papua ini. Dengan adanya pemekaran, banyak lompatan terlalu jauh, orang Papua tidak tahu cara mengatur diri dan hidup yang baik, bingung untuk mengatur disiplinnya bagaimana, ikut arus dunia sehingga tiga tubuh ini menjadi ambruk dan hancur. Banyak orang muda menjadi hancur, hidupnya sudah tidak berguna lagi bagi kemajuan gereja, bagi masyarakat di tanah Papua ini,” kata Uskup.

Lanjutnya, Uskup juga mengatakan kita (orang papua) kehilangan banyak orang-orang muda yang berpotensi, tapi karena situasi internal ini, pergeseran budaya, pergeseran pendidikan, pergeseran keluarga, keluarga tidak tahu mendidik anak-anaknya lagi.

“Tidak tahu kasih nasehat-nasehat adat lagi, tidak tahu kumpulkan anak-anak untuk beritahu maka anak-anak mulai cari sendiri dan mengikuti pola hidup modern antara ambiguitas, mau maju atau mau tetap pertahankan yang tradisional. Di situlah jalan kebingungan dan jalan kegelapan,” ungkapnya.

Sementara, faktor eksternalnya, Uskup mengatakan ada skenario besar oleh para penguasa tertentu yang menjadikan tanah Papua sebagai tanah tujuan eksploitasi sumber daya alam dan mereka lihat orang muda ini menjadi momok bagi mereka untuk masa depan di tanah Papua.

“Orang muda harus dihancurkan dengan kehadiran minuman keras di mana-mana. institusi-institusi negara justru yang menjual, TNI/Polri justru yang menjual itu minuman-minuman. Di mana-mana dan anak-anak baru minum dan di sanalah mereka menjadi hancur,” kata Uskup. 

Menurut Uskup, banyak institusi-institusi yang dengan sengaja merencanakan skenario untuk membunuh orang-orang muda Papua ini, untuk kepentingan eksploitasi sumber daya alam di tanah Papua. 

“Faktor eksternal ini banyak terjadi karena ada kepentingan-kepentingan investasi di tanah Papua. Ada kepentingan-kepentingan perusahaan-perusahaan raksasa yang masuk di tanah Papua, ada kepentingan eksploitasi emas di tanah Papua sehingga diciptakan konflik di mana-mana. Datangkan minuman beralkohol kelas tinggi di tanah Papua agar generasi muda Papua habis dan punah di atas tanah ini. Itu adalah skenario yang dirancang dengan sengaja, mau dan tahu,” tegasnya.

Melihat dinamika ini, Uskup juga mengatakan, “Jika orang muda Papua banyak mati tidak lama orang Papua akan punah di atas tanah dan ini adalah genosida terbesar dan kejahatan terbesar akan terjadi seperti orang Aborigin di Australia.”

Di akhir khotbahnya, Uskup mengajak kepada para umat, orang Papua, dan penerima sakramen Krisma agar (meneladani) sama seperti Yesus Kristus untuk membangkitkan orang-orang kita agar mereka hidup kembali, agar mereka hidup dari identitasnya, jati dirinya budayanya, dan martabatnya.

“Gereja di tanah Papua tidak bicara ini maka kita ikut membenarkan kejahatan, skenario terbesar untuk genosida di tanah Papua ini,” kata Uskup.

Dalam khotbahnya, Uskup juga berpesan kepada penerima Sakramen Krisma agar membawa misi untuk menghidupkan teman-temanmu yang lain. Misi untuk mengajak mereka yang menuju kepada kematian ini, agar mereka menemukan kehidupan sejati, misi untuk mengajak mereka tinggalkan dunia aibon, dunia alkohol, dunia seks bebas agar mereka juga menemukan hidup sejati di dalam dunia ini.

“Karena itu, teman-teman yang hari ini menerima Sakramen Krisma, Anda bukan hanya menerima untuk dirimu sendiri, bukan hanya untuk persyaratan administratif paroki, bukan hanya untuk kepentingan identitas sebagai orang Katolik, tapi lebih dari itu adalah misimu. Anda harus bermisi keluar untuk mengajak dan menyelamatkan sesamamu orang muda yang sedang mati karena dimatikan dalam diri mereka sendiri maupun dari luar diri,” kata Uskup.

Sejalan dengan itu, dalam Homili pada Minggu (04/01) di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Pastor Amandus Rahadat, Pr juga mengatakan, martabat manusia Papua tidak sedang baik-baik saja karena orang Papua tidak merasa dihormati di atas tanahnya sendiri.

“Perjuangan OPM dan orang-orang Papua yang ingin memisahkan diri dari republik ini, bukan sekadar aksi politik, tetapi masalah martabat. Martabat manusia Papua karena menjadi merdeka itu bukan soal Bintang Kejora saja, tetapi soal harkat dan martabat dan ingin berdiri sejejar dengan bangsa–bangsa lain di dunia ini dan tidak mau tetap dianggap sebagai daerah tertinggal dan semua hal disuplai dari pusat (Jakarta),” kata Pastor Amandus.

Pastor Amandus juga menegaskan, “Mohon negera mendengarkan ini.” ***
Iklan ada di sini

Komentar