ARTIFICIAL INTELIGENCE SEBAGAI REALITAS PARADOKS: Catatan Catatan Filsafati
Judul: ARTIFICIAL INTELIGENCE SEBAGAI REALITAS PARADOKS: Catatan Catatan Filsafat
Penulis: Dr Ignasius Ngari OFM
Penerbit: Arta Media
Tahun: 2025
Harga: Rp120
Lokasi: Kampus STFT Fajar Timur Padang Bulan, Abepura-Jayapura
Narahubung: +62 813-5651-9175
Sinopsis
"IA adalah sebuah kecerdasan yang berbeda dari peralatan teknologi sebelumnya, karena IA dapat mempelajari, memutuskan, memprediksi, dan menciptakan sesuatu secara independent. Ia kita tanpa disadari telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Perkembangannya makin eksponensial. Kita tak bisa menghindarinya karena keuntungan yang dihadirkannya. Akan tetapi tak sedikit ia menentukan pemikiran, tindakan, dan tingkah laku manusia yang berdampak pada degradasi keberadaan manusia yang rasional, humanis, dan etis. Dengan memikirkannya secara mendalam, kita dapat membangun sebuah relasi yang makin memanusiakan kita. Namun di sinilah tantanganya , dapat dibuatnya menjadi tak berpikir dan menjadikannya sebagai subjek yang dengannya kita berelasi."
Kami menghaturkan puji dan syukur atas hadirnya buku kedua dari Dr Ignasius Ngari OFM. Penulis ini adalah satu pemikir terkemuka almater kami di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur (STFT FT). Beliau juga saat ini menakodahi kami sebagai Ketua Sekolah STFT Fajar Timur menggantikan Ketua Sekolah sebelumnya Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA yang saatnya menjabat sebagai Uskup Keuskupan Timika. Buku sebelumnya berjudul 'Budi Ilahi: Menelusuri Pemikiran Filsafat Profesor Nico Syukur Diester OFM' (2024). Ini adalah 'cenderamata ilmiah' yang Bruder Ino persembahkan kepada Guru Besar STFT Fajar Timur, Prof. Dr. Nico Syukur Diester OFM.
Sementara buku kedua sendiri ini punya perjalanannya yang khas. Di tengah kesibukannya, Bruder Ino demikian dirinya disapa tidak henti menghasilkan karya-karya pustaka menawan. Belia melihat IA sebagai sebuah 'ladang riset' yang kaya dan subur ketika tidak sedikit kaum akademisi yang melihat AI sebagai sebuah candu mematikan yang membunuh daya kreasi akal budi manusia.
Kita semua tahu bersama bahwa artificial inteligence memiliki dua muka ganda. Ia menjadi berkat tetapi juga petaka tergantung siapa yang memakainya dan untuk apa? Buku semacam ini penting untuk memberikan kita rambu-rambu etis sebagai bekal penjelajahan jagat digital. Kita sendiri melihat dan mengalami bahwa publik maya kita terlalu sentimental, infantif, dan banalistik atau bahkan animalistik. Ruang privat dan ruang publik bercampur menjadi satu. Kita mengalami krisis rasionalitas, untuk itu bernalar sebelum klik adalah latihan rohani yang mesti selalu kita jaga demi kedaulatan dan stabilitas publik gawai yang waras dan sehat. Semoga buku ini dapat mengisi sisi-sisi ruang yang kosong dalam jagat digital kita.
~ Degei Siorus
🌺
@sorotan
Iklan ada di sini
Komentar