CERDAS TAPI GALAU?

CERDAS TAPI GALAU?

CERDAS TAPI GALAU?

(Fenomena Krusial Kaum Milenial)

Dunia tempat manusia berpijak dan membasu pilu ini terbagi menjadi tiga, yaitu dunia nyata, dunia baka, dan dunia Maya (Multi-universe: Meta-Universe) Syarat post-modren mewajibkan semua insan manusia untuk bisa menyelami, memahami, mendalami, dan mengalami keniscayaan tri-dunia ini; Keniscayaan Homo Digitalis (Mahluk Digital).

Dunia nyata merupakan ruang fisik tempat multi-interaksi sosial berlangsung, dunia sehari-hari, irama dari pagi sampai malam. Dunia nyata ini riil, 5 Indra manusia bisa mengecapnya. Bahwa tempat awal dan akhir umat manusia menjadi sejarah di dalamnya.

Dunia Maya atau dalam trem Jurgen Habermas, seorang filsuf Post-modren asal Negeri Pemenang Piala dunia 2014 (Munchen-Jerman) Cyber Room atau digital world telah dan akan konsisten menjadi ruang interaksi sosial warga milenium.

Dalam banyak riset IPTEK lintas dunia, banyak data menunjukkan bahwa hampir semua warga dunia terdaftar sebagai pengguna media digital. Gambaran raksasa data pengguna internet ini sedikit-banyaknya menihilkan bahwa opini filosofis Habermas bukanlah sebuah pseudo intelektual Post-modrenitas. Jadi dunia Maya itu adalah nyata dan absolut bagi penghuni jagat raya.

Sementara dunia baka menjadi sebuah tempat tak terhindarkan bagi manusia, dalam sebuah Makam tua di Amerika Latin ada sebuah tulisan filosofis klasik yang sangat tersohor berdentang MEMEMTOMORI, yang berarti KAMU ADALAH KAMI YANG LALU DAN KAMI ADALAH KAMU YANG AKAN DATANG SADARILAH BAHWA KAMU JUGA AKAN MATI.

Memang aura dan power kata ini cukup menggentarkan jiwa hinnga bulu kuduk berdiri serentak. Namun itu kehidupan, tidak clop bila tidak ada keseimbangan, ada jahat ada baik, ada hidup ada wafat, rasanya spirit Yin-Yan khas China kuno berlaku di sini.

Jadi dunia baka ini abadi, ruang terakhir semua manusia berkumpul dan hidup dalam iklim Eudaimonia; kebahagiaan sejati umat manusia (Bhs. Yunani).

Baca juga;https://www.detikpapua.com/2023/04/26/skizofrenia-digital-sebagai-pemantik-ateisme-global/

Jadi menjadi manusia berarti menjadi penghuni tri-world, tiga dunia yang niscaya bagi umat manusia, khususnya manusia di abad post-modren.

Dalam tulisan ini penulis mau mengajak pembaca budiman untuk sama-sama berselancar dalam kehidupan dunia digital atau world cyber. Terlebih khusus dalam sebuah fenomena krusial kaum Milenial yang hingga kini walau sudah hidup era yang serba mudah, cepat, dan tepat masih saja merasa galau, putus asa, dan hilang haluan dan harapan hidup, padahal informasi dan inspirasi untuk hidup bahagia, aman, tentram, dan damai sudah sangat melimpah ruah menghujani mereka di dalam dan melalui media Cyber atau digital.

PANORAMA ABSOLUT CYBER WORLD

Umat manusia sudah hidup, berdinamika dan berdialektika dalam sejarah dari zaman lepas zaman hingga kini masuk di era post-modren, milenium ketiga (3000 tahun sejak manusia bereksistensi di dunia). Salah satu ciri khas abad post-modren ialah resolusi IPTEK (Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi) yang termanifestasi konkret dalam wujud discovery-discovery gempar atau penemuan-penemuan dan penyingkapan barang-barang baru super canggih. Revolusi cukup radikal terjadi di bidang informasi dan komunikasi cyber atau digital, lebih spesifiknya heand phone (hp).

Di atas karpet digital itu yang menurut banyak pakar hebat sebagai sebuah dunia paling ramai, heboh, dan viral, semua hal yang menjadi kebutuhan pokok atau tambahan umat manusia ada dan siap konsumsi. Semua perkara yang sulit menemui solusi final di abad-abad lalu sudah gampang terselesaikan; tranportasi cepat, komunikasi gampang, belanja mudah, cari sahabat tidak susah, dan ragam kemudahan hidup lainnya.

MENGENAL KAUM MILENIAL

Kaum Milenial adalah generasi yang lahir dari tahun 1984 hingga kini, mereka yang bereksistensi saat warna kemajuan dunia sangat dominan. Jadi sederhananya kaum milnial itu adalah generasi zaman sekarang atau anak-anak zaman now. Generasi ini sangat menguasai media digital daripada generasi terdahulu.

Hampir semua orang yang konsisten terdaftar sebagai pengguna media komunikasi adalah kaum milnial. Mereka ini adalah komoditi berharga sebuah bangsa, negara, Agama, dan Budaya. Maka aset pembaharu dunia ialah generasi Milenial. Sehingga edukasi milenial itu merupakan sebuah panggilan dan pekerjaan rumah bersama semua Stakeholders atau semua pihak pemangku kuasa dan kursi.

Salah satu dari sekian banyak upaya konstruktif, ialah literasi digital kaum milenial yang komprehensif. Artinya mentalitas generasi muda mesti digembleng dalam mengoperasikan media digital sehingga mereka mampu tampil menjadi Agen perubahan dan duta kemajuan.

Jadi sebagai manusia yang hidup dan eksis di tengah zaman multi-instantnisme atau super mudah serta serba bisa generasi milnial seharusnya bisa keluar dari kunkungan dan pasungan diematisnya; galau, putus asa, dan hilang haluan harapan hidupnya.

GALAU SEBAGAI “ANOMALI” KAUM MILENIAL

Sebagai manusia normal yang pernah mengukir sejarah romantisme pada fase muda, semua orang sudah merasakan suatu tabrakan gelombang emosi seksual yang sering disebut galau. Galau ini terjadi ketika sosok yang.menjadi spesial menampik janji manisnya, ketika seorang kekasih mencicipi buah penghianatan yang diberikan oleh kekasihnya sendiri.

Kendati sudah banyak menyerap informasi dan inspirasi dari beragam sumber media digital, tetapi ironisnya banyak generasi milenial sulit keluar dan bebas dari penjara kegalauan. Seakan kegalauan itu merupakan sebuah masalah tanpa solusi atau sakit tanpa obat, lalu selama berselancar dalam ruangan digital apa saja yang mereka lakukan? Kenapa media komunikasi itu tidak berdampak positif dalam kehidupan mereka? Apakah solusi atas masalahnya nihil eksis di media Cyber?

Adanya pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa generasi milenial akan menjadi generasi spesialis wacana. Tahu bicara tidak ada bukti, punya visi lupa misi, latihan lain main lain, tulis lain buat lain, lihat ini bicara itu, dan keanehan-keanehan hidup lainnya.

Menjadi ‘Stoik’: Membudayakan Ataraxia

TIKUS MATI DI LUMBUNG PADI

Potret fenomena miris kegalauan kaum milenial di abad post-modren yang serba mudah, cepat, dan pasti ini masih ada orang muda yang masih terpenjara dan sulit bebas dari jeruji kegalauan. Gambar ini bisa digambarkan dengan majas TIKUS MATI DI LUMBUNG PADI.

Sangat irasional dan inlogic sekali di tengah kemudahan masih ada kesusahan yang sukar teratasi secara final. Kegalauan itu luka lama, dan obatnya sudah ada dan sangat banyak tersedia di beragam fitur digital, hanya saja mengapa kaum milenial sulit mengatasinya, ini sebuah proret miris yang menggelitik. Gilanya lagi tidak sedikit orang muda yang mengcurhatkan kegalauannya kepada dedengkot gelap; miras, narkoba, seks bebas, perselingkuhan, bahkan pembunuhan, dan peluapan-peluapan emosi galau yang kurang cerdas lainnya.

Kini saatnya literasi digital menjadi vaksin bagi kaum milenial untuk lepas bebas dari cengkeraman virus kegalauan. Langkah awalnya ialah menjadikan sarana komunikasi sebagai tempat untuk mencari dan menemukan solusi atas ragam masalah dan persoalan hidup, bukan sebagai tempat hiburan sesaat tanpa makna. Apalagi menjadikan ruang cyber seperti Facebook, Twitter, Instagram, Mensengger, dan fitur digital lainnya sebagai panggung sandiwara, tempat curhat, lanan penyebar hoaks, rumah untuk bertengkar, modus penipuan, dan lainnya.

Dengan demikian sangat memedihkan dan memiluhkan sekali melihat fenomena krusial kaum milenial yang selaluh menghiasi ruangan Cyber dengan wajah tangisan, keributan, kebencian, dan bingkai kelabu lainnya. Harapannya semua pelancong di media sosial sadar bahwa dunia Maya itu tidak nyata, semuanya metafisik, memang punya koneksi ke dunia nyata namun harapan yang ada teramat absurd tidak ada jaminan akan menjadi. Saat menyelami, mendalami, memahami, dan mengalami dunia Maya dengan pikiran cerdas, hati jernih, kehendak bijak, dan tindakan bertanggung jawab. (*)

)* Penulis Adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Filsafat “Fajar Timur “ Abepura-Papua.
@pengikut 
@sorotan 
Gertak Kadepa Kebadabii Kadepa
Iklan ada di sini

Komentar