Tuhan, Jang Pisahkan Kami dua
Demiii, Tuhan, saya cinta dia. Saya sudah sayang dia dengan hati. Buktinya, saya datang sama-sama dengan dia sama Tuhan. Kalau bisa, jangan pisahkan saya dengan dia.
***
Kulit tak kuat menahan gempuran dingin malam itu. Malam bersejarah bagi kami berdua. Saya dan Vhince. Vhince yang sangat ku cintai. Dia memeluk saya dari belakang.
Ketika motor Vixioan putih itu sudah dalam perjalanan ke Nabire. Pergi ke Nabire, itu sudah komitmen kami berdua. Itu jalan terbaik bagi kami berdua agar cinta suci yang selama ini di pelihara itu tetap tumbuh subur. Entah dimana dan kapanpun.
Demi memupuk cinta yang sudah tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam. Cinta yang sudah kami pupuk dengan kasih dan sayang sejak pertemuan pertama kami dulu.
Vhince, itu namanya. Perempaun asal Obano – Paniai barat yang sangat saya cintai. Pilihan sudah saya jatuhkan kepadanya tanpa dipaksa oleh siapapun selain hati saya. Hati saya menerimanya dengan ikhlas. Vhince, wanita berkulit hitam manis. Badannya tidak terlalu tinggi. Juga tidak terlalu pendek. Jika dia senyum, sangat manis. Menggairahkan. Suka berdebat. Itulah malaikat hati ku. Dia wanita idamanku.
Sejak enam tahun yang lalu, kami dua ketemu. Disana, di badara Enarotali. Barat udara yang dibangun puluhan tahun yang lalu itu. pasar Enarotali yang kadang digenangi.
Saat itu, kami hanya ketemu sekedar saja. Cinta tumbuh dalam pandangan pertama. Dia datang bak malaikat. Akhir Oktober. Saat istri saya meninggal dunia setelah 40 hari 40 malam lewat. Saya turun di Nabire. Setelah tiba dinabire sorenya kita berjumpa dimana jln merdeka yang penuh bersuka cita. Setelah beberapa kali pulang pergi wadou miyou saya hanya bertemu cintaku Vhince sekali waktu, Saya putuskan untuk kembali ke rumah saya. Honai tercinta di bawah kaki gunung manugai ditepian kali pipa watiya. Honai; tempat dimana saya dibesarkan. Honai yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. Disana menyimpan beribu kasih sayang dari bapa dan mama.
Dalam liburan itu, saya bersama kakak Marsel pergi ke Enarotali. Marsel, kakak sepupu samping rumah saya.
Itu awal pertemuan kami. perkenalan selesai. Cinta berlanjut di Nabire. Semenjak ketemu di Nabire, lapangan Kodim. Saat itu, ada pertandingan bola kaki. Sejak itu, cinta kami semakin dalam. Dari sekedar SMS atau telpon sekarang sudah biasa jalan.
Dia juga SMA kelas I tapi kami beda sekolah. Saat SMA, kami sangat jarang bertemu. Kami hanya jalin hubungan lewat SMS dan telpon. Kami berdua putuskan untuk sama-sama selesaikan SMA. Itu wajib.
Dua tahun berlalu. Dan, sekarang sudah dekat ujan akhir di SMA. Kami berdua saling kuatkan. Kami berdua dan berjuang agar kami berdua sama-sama harus dinyatakan. LULUS. Kata itu yang kami berdua mau dengar.
“Kalau setelah SMA, nanti ko lanjut kuliah dimana?” tanya saya suatu saat
“Sa mau jadi suster,”
“Bukan suster biara too,”
“Hahahahaha, kenapa kalau saya jadi suster biara,”
“Ah, ko tra kasihan sa kah?”
“Sayang, nanti sa masuk di Akademi Keperawatan (Akper) Nabire. Biar sa jadi suster. Kalau ko sakit, tra perlu ke rumah sakit lagi. Nanti sa rawat dari rumah saja,”
“Hahahahahahaha. Itu yang pas,” balas ku penuh semangat.
Akhir Juni, kami berdua dinyatakan LULUS dari SMA kami masing-masing. Saya memilih masuk di USWIM Nabire. Ilmu Pemerintahan, itu jurusan yang pilih. Saya mau jadi DPR di Paniai. Komitmen saya saat mau daftarkan diri di universitas ini.
Shella sudah diterima sebagai mahasiswi di Akper Nabire. Jika tidak ada halangan, cita-citanya sebagai suster perawat akan terwujud tiga tahun mendatang. Dia akan menyandang gelar Diploma III keperawatan. Dia memilih tinggal di asrama. Saya juga setuju.
Saya akan menjadi seorang sarjana ilmu pemerintahan. Empat tahun harus selesai. Itu komitmen pada diri saya. Juga kepada Shella. Termasuk kepada orang tua.
***
Dua tahun sudah berlalu. Sejak kami masuk kuliah, kami sudah sering jumpa. Tak tanggung-tanggung, saya berani mengajak dia jalan. Kami dua sudah sangat sering jalan bersama jika saat liburan.
Jika akhir pekan, kami berdua sering menghabiskan waktu bersama di berbagai tempat. Di Nabire, soal tempat wisata sangat banyak. Walau masih alami, banyak tempat yang sangat indah. Seperti, Sepanjang bibir pantai teluk Cendrawasih, Topo, Kilo 38, Wanggar, Yaro, Lagari. Bahkan, masih sangat banyak tempat yang sangat indah.
Berbagai tempat itu kami sudah pernah datangi. Kami dua tinggalkan banyak kenangan. Banyak kisah sudah kami catatkan dalam album kenangan kami.
Suatu saat, kami berdua memutuskan untuk pergi ke Topo. Saat itu, musim buah rambutan. Kami belanja buah rambutan di sana dan lanjutkan perjalanan ke puncak Gamei. Dari puncak Gamei, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah.
Di puncak Gamei ini, pernah ada cerita. Ceritanya, ada orang barat piara ular.
Indahnya alam Papua ada di sana. Hawanya sangat sejuk. Indah rasanya jika kita berduaan bersama orang yang sangat kita cintai. Kami berdua benar-benar menikmati indahnya alam disini.
Nun jauh di sana terlihat barisan bukit yang membiru.
“Alam sangat indah. Tapi sayang, alam ini dirusaki oleh mereka yang mendulang emas secara liar dan illegal logging yang sudah masuk dalam tong pu hutan ini,” ujar Shella pancing saya untuk bicara.
“Benar, sayang. Dong tu tra kasihan tong pu alam ini ka apa e... sampe, dong kas habis tong pu hutan sampe sekarang su mau habis,” timpal saya sambil menikmati buah rambutan.
“Kenapa, pemerintah dong tra peduli deng tong pu hutan ni? Dong tra sayang generasi yang akan datang ka apa?” protes Shella.
Ia menatap saya dengan tajam. Dari sorot matanya saya menangkap bahwa kali ini ia bicara dengan tegas. Ia seakan protes dihadapan pemerintah.
“Pemerintah ka, dinas kehutanan ka, polisi hutan ka, harus jaga tong pu hutan ini baik. Kalau tidak tu, tong pu anak cucu kedepan akan terima dampaknya,” lanjutnya dengan tegas.
Kali ini ia berdiri. Berdiri menghadap bagian kilo 100. Ia memandang dengan seksama. Ada banyak pertanyaan disana. Dialam pikirannya. Entah apa yang ia pikirkan.
“Bicara anak cucu tapi, tong dua belum punya anak saja sudah bicara anak cucu. Jangan saya-saya,” kata saya sambil tertawa.
Dengar saya bicara, dia balik lihat saya dan tertawa. Memang jika Shella tertawa, dia terlihat manis. Kedua pipi hitam manisnya terlihat menawan. Belum lagi, pasukan putih berdiri gagah.
“Sabar too. Kita harus selesaikan kuliah dulu. Tinggal satu tahun lagi,” katanya dengan senyum lebar
.
Kami dua lanjutkan aktivitas. Saya habiskan sisa rambutan yang ada. Shella bermain seorang diri dengan kamera. Ia jepret sana sini dengan kamera Sonny pocket miliknya. Kamera yang sudah membantu kami berdua.
“Sayang, ko masih ingat kah tidak, minggu lalu saat tong dua ke Wami itu tanta Penina bilang kalau puluhan hektar hutan habis dibabat PT Nabire Baru tu,” kata Shella usai minum Aqua. Ia menatap saya.
“Yoo. Saya ingat. Itu kenapa?” tanya saya sambil makan rambutan yang terakhir.
“Itu berarti, banyak sekali hutan yang rusak. Coba lihat saja sepanjang jalan dari Topo ke Nabire, sebelah kiri kanan itu ada banyak kayu yang dong diparkir. Menurut ko, kayu-kayu itu dari mana? Ya, kalau bukan dari hutan dari mana lagi?”
“Kenapa, pemerintah bebaskan orang-orang itu tebang kayu secara sembarangan kah? Kenapa trada Perda? Atau memang ada Perda tapi pemerintah tra mau jalankan Perda itu? Atau su ada Perda tapi penebang hutan liar itu yang tra mau patuhi?” berbagai pertanyaan itu ia lontarkan. Ia menodong pertanyaan itu kepada saya.
Saya diam.
“Sayang, sa ingat lagi. Waktu itu, tong dua ke pantai Cemara. Ada pelabuhan di sana. Pelabuhan itu dijaga Polisi. Dong drop kayu-kayu itu banyak skali. Kayunya panjang-panjang dan besar. Ko ingat itu kah tra?”
“Iyo, itu kenapa?” saya tanya.
“Sayang, ko tu bagemana? Ko tidur kah? Dari tadi saya bicara. Ko lihat, banyak kayu yang orang babat sembarang sampe hutan su mau habis. Pelabuhan di pantai Cemara banyak orang yang tra tau. Mungkin pemerintah su tau tapi dong sengaja kas diam. Su tau too,” cerita sambil berdehem.
“Su tau apanya,” saya balik tanya.
“Pasti pemerintah tau tapi dong diam. Apalagi Polisi. Aeee, itu jang bicara lagi. Pasti dong su baku amankan.”
Ia sudah tidak mau lanjutkan lagi. Ia menggeleng kepala sambil meneguk air Aqua yang ia pegang sedari tadi. Sedang, saya masih duduk disini. Dibawah rindangnya pohon besar. Saya mencoba memahami apa yang diprotes Shella.
Shella, memang soal berdebat, dia jago. Dia tidak akan mengalah. Dia akan pertahankan apa yang ia rasanya. Berdebat dengan dia tiada ujungnya. Dia akan memilih diam ketika dia merasa dirinya salah.
Suatu saat, ia pernah cerita soal hutan. Dirinya merasa prihatin dengan hutan yang ada Paniai. Warga Paniai sudah tidak peduli dengan hutan di sana. Soal hutan, bukan di Paniai saja. Baginya, soal hutan, seluruh warga Papua punya kewajiban untuk menjaga.
Di Kaimana, misalnya. Ada perusahaan yang sudah masuk dan banyak sekali kayu yang dibabat disana. Kayu-kayu yang bagus itu dibawa keluar pakai kapal. Pemilik hak ulayat di berbagai tempat di Papua, ditipu dengan berbagai alasan. Dibayar juga tapi hanya dengan Rp. 100 ribu tau Rp. 200 ribu per kayu. Ini sangat menyakitkan.
Saya teringat kembali. Beberapa waktu lalu, forum kerja (FOKER) LSM sudah berulang kali keluarkan berbagai larangan untuk tidak menebang kayu di Papua secara sembarangan. Banyak poster yang bertuliskan ‘Save Hutan dan Manusia Papua’ juga beredar dimana-mana.
“Sayang, di Topo sudah mau hujan. Ayo, kita pulang,” ajaknya pulang.
Waktu sudah pukul 15.30 WIT. Kami berdua kembali ke Nabire. Motor Vixion berwarna hitam putih milikku sudah di turunan gunung Gamei. Tiba di Kilo 38, hujan sudah memalang. Hujan besar mengguyur Topo. Kami berdua memilih berteduh di warung makan. Kami pesan teh hangat hanya untuk sekedar hangatkan tubuh.
Hampir sejam kami disini. Hujan sudah redah, kami bergegas pulang. Kembali ke Nabire. Ke kos hijau.
***
Sudah lima tahun sudah kami jalin hubungan cinta kami. Kami berdua takkan dipisahkan oleh siapa pun. Juga dengan cara apapun. Tuhan, saya sudah cinta Shella. Dia itu sebagian dari diri saya. Separuh jiwaku ada padanya. Jangan pisahkan kami. Kami sudah komitmen. Kami berdua tak kan dipisahkan oleh siapa pun. Juga maut. Dalam maut, kami berdua akan bersama. Saya yakin, Tuhan sudah tahu lebih dari segalanya tentang kami berdua.
Itu tulisan tangan saya sudah tempelkan di kamar kos saya. Tahun lalu, saya ambil kos di Girimulyo. Beberapa foto berdua, saya pajang disana. Tentunya, ada wajah bapa dan mama diantara fotonya kami.
Memasuki tahun kelima, badai itu datang. Cinta kami diuji. Bahwa, orang tuanya tidak berikan restu. Orang tuanya sudah jodohkan dia dengan orang lain. Shella, orang yang paling kucintai akan menjadi milik orang lain.
“Sayang, sa pu orang tua marah saya. Mereka tra setuju sa deng ko. Tapi, jujur saja, tidak ada orang lain di dalam sa pu hati selain Paskalis Yatipai,” katanya sambil mencucurkan air mata.
Dia memelukku. Sangat erat. Pelukan ini tidak seperti biasanya. Dia memeluk ku seakan tak ingin pergi. Bahkan kepada kedua orang tuanya. Air matanya membasahi kedua pipinya. Dia tersedu di dalam pelukanku.
“Sayang, sa su terlanjur sayang ko. Saya tra bisa. Saya tra bisa tanpa ko. Demi,” ucapnya lirih dalam linangan deraian air mata.
Saya ikut terbawa. Tanpa sadar, kedua bola mata saya sudah tumpahkan air mata yang sedari tadi siap mau keluar. Malam itu, kami berdua menyebrang ke pulau mimpi bersama dalam perahu pelukan.
Bayang-bayang akan kehilangan Shella muncul tiap hari. Saya tak mau kehilangan dia. Saya tidak mau dia jatuh didalam pelukan orang. Saya sudah cinta dia. Semahal berapapun harga maskawin, saya akan bayar. Dia harus menjadi istri saya.
“Adik Paskal, hari Sabtu besok kita bicara di Kalibobo. Kami mau pisahkan ko dengan sa pu ade Shella. Ko jangan ganggu dia lagi,” teriak kakak Andi di kampus.
“OK. Saya akan datang,” jawab ku singkat.
Mendengar kata-kata itu, telinga saya panas. Terik sang raja siang yang bakar kulitku ikut memanaskan. Hati mulai tak karuan. Hari itu saya lebih memilih pulang ke kos dari pada harus masuk kuliah.
Ternyata, hal itu juga sudah dengar Shella. Tiba-tiba dia datang ke kos saat saya sedang masak di dapur. Tanpa bicara banyak dia memeluk ku. Air matanya kembali ia jatuhkan. Ia bersumpah serapah bahwa dia sangat mencintai ku.
Dan, hari Sabtu jam 16.00 WIT. Kami sudah di Kalibobo. Di rumahnya kepala suku. Kedua orang tuanya sudah ada. Sanak saudara dari Shella juga sudah. Saya bersama beberapa orang dari keluarga saya.
Pembicaraan dimulai. Orang tuanya dan sebagian dari sanak saudaranya tidak restui. Mereka mau kami berdua harus pisah. Jangan ada cinta diantara saya dan Shella. Mereka minta bayar denda.
Ah... Kenapa minta bayar denda? Kenapa tidak minta saja maskawin? Kenapa perasaan cinta yang muncul dari hati kami ini harus dibatasi dengan alasan yang tidak masuk akal?
Hari itu kami dipisahkan. Kami dilarang untuk kami bertemu lagi. Jika bertemu lagi, saya akan dikenakan denda uang dengan harga yang mahal. HP milik Shella dihancurkan saudara laki-lakinya. Dan, kami pisah.
Tiba di kos. Air mata mulai banjir. Kamar hijau ku hanya membisu. Puluhan buku yang berjejer pun ikut diam. Saya biarkan air mata mengalir. Lantunan musik terdengar keras didalam speaker hijau yang dibelikan Shella pada ulang tahun ku tahun lalu. Lagu-lagu itu menjadi teman saya pada saat ini.
Shella? Ko dimana? Kenapa ko tra datang? Saya sangat rindu ko. Sungguh! Saya ingin peluk. Shella, ko su tra sayang saya lagi kah? Kalbu merintih. Tak rela. Tuhan, kenapa Shella memilih pergi? Kenapa?
Ah... Biar sudah.
Folder lagu country Rio Diamond, Michael Learn To Rock, Lucky Dube, Black Sweet dan Black Brothers datang silih berganti. Suara-suara manis itu datang menemani.
Beberapa hari kemudian, dia muncul. Shella ku datang. Marshella Gobay, pujaan hati ku. Datang ke kost hijau. Kos kebanggaan ku. Badannya agak kekurusan. Saya yakin, dia tidak makan baik beberapa hari. Juga tidak mengurus dirinya.
“Ko kenapa datang? Saya tra mau masalah lagi. Ko ikut saja ko pu orang tua,” cegat saya sebelum dia masuk ke rumah.
“Sayang, dalam alam maut pun kita akan pergi bersama,” katanya singkat. Kembali ia menitikan air mata.
Walau sudah dipisahkan, kami berdua kembali bersama. Cinta kami kuat sekuat tembok raksasa Cina. Sekuat gunung Deiyai. Sekuat ombak di pantai Holtekamp Jayapura.
Dalam satu tahun itu, kami dipertemukan dua kali di rumahnya kepala suku. Dan, kami dipisahkan. Tapi, maaf. Cinta kami kuat. Kekuatan cinta kami tak akan pernah dipatahkan dengan cara apapun.
Kuliahnya sempat terganggu. Begitupun juga saya. Tapi, kami berdua saling menguatkan dan yakinkan. Kuliah harus harus selesai. Itu komitmen.
Dan, kami telah selesaikan kuliah kami masing-masing. Saya sudah sandang gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan. Sementara, beberapa bulan lalu Shella telah wisuda dan gelar Diploma Keperawatan sudah disandangnya.
Akhirnya, kami dipanggil ke rumah orang tuanya di Enarotali.
“Sayang, sa pu orang tua dong su bicara banyak. Katanya, mereka su mau jodohkan sa dengan laki-laki lain. Jadi, begini. Sebentar, sa akan ikuti apapun yang orang tua dong akan bicara. Nanti sa akan hancurkan HP. Termasuk kartu ini. Tapi, jam 07.00 malam tepat, saya akan tunggu ko di rumah sakit Madi dengan Merry. Saya dan Merry tong dua su bicara. Biar malam, tong dua harus turun ke Nabire,” suara manis di sebarang sana berurai panjang rencananya. Dia menelpon ku pagi-pagi.
“Paskal, saya tra mau. Kali ini ko harus dengar saya. Pleeeeaasse! Kita harus pergi ke Nabire. Apapun yang terjadi, kita harus pergi. Kita harus pergi,” suaranya mulai merendah. Saya tahu dia menangis.
“OK. Jam tujuh malam pas nanti saya jemput. Salam buat Merry,” kata ku.
Sorenya, kami dipertemukan yang kelima kali. Kedua orang tua saya dan semua sanak saudara saya sudah ada. Saya merasa kuat. Ada semua saudara saya. Orang tua dan semua sanak saudara dari Shella juga sudah ada.
Pembicaraan masalahnya dimulai. Hampir dua jam. Dan, kami dipisahkan. Itu keputusan. HP saya dihancurkan bapa saya. Begitu juga HPnya Shella. Saya tertawa saja dalam hati. Saya yakin Shella juga ikut tertawa.
“Shella punya suami sudah ada. Minggu depan sudah mau ambil maskawin jadi jangan ganggu saya punya anak lagi,” kata bapak Shella sangat tegas dengan nada marah
Usai masalah, kami pisah. Bapa, mama dan semua keluarga memilih kembali ke kampung Bibida. Saya sampaikan kepada orang tua saya, besok pagi saya harus kembali ke Nabire. Saya diberikan sejumlah uang dari kedua orang tua.
Saya ke kampung Kopo bersama teman saya, Sam. Saya mulai cerita rencana saya dan Shella kepada Sam. Sam setuju. Sam memaksa mamanya untuk masak makanan cepat.
Usai makan malam, Sam minta ijin sama mamanya untuk pergi ke luar beberapa menit. Kami dua keluar. Langsung pergi ke rumah sakit Madi. Benar, Shella dan Merry ada disana. Tanpa menunggu waktu yang lama, Shella sudah naik diatas motor. Motor Vixion putih hitam sudah siap mengantar kami.
Seperti biasa, kemana pun kami pergi, pasti motor Vixion hitam putih itulah teman sejati saya. Dia sangat mengerti. Walau dia akan diam seribu bahasa. Apapun keadaan saya, dia tahu.
“Sam dan Merry, trimakasih banyak. Kam dua su mau bantu tong dua. Tolong doakan tong dua e... jang sampe ada apa-apa di jalan,” kata saya.
“Hati-hati di jalan. Pasti Tuhan menyertai,” kata Merry.
“Ah, tong dua ada apa-apa juga trapapa. Yang penting, kalo mo mati, tong dua harus mati sama-sama,” tambah Shella.
Dan, motor Vixion hitam putih sudah ada di tanjakan Madi. Dalam kecepatan yang sangat tinggi, melawan malam yang pekat. Dalam waktu yang singkat, sudah ada di jembatan kali Yawei. Saya hentikan motor. Saya mencium Shella. Dia balas dengan lembut.
Kembali kami lanjutkan perjalanan. Kami dipisahkan. Tapi, dua hati kembali bertemu. Dan sekarang sudah bersama. Bersama akan pergi. Shella memeluk ku erat dari belakang. Lampu-lampu di Wagete terlihat samar. Kami hanya bisa lihat dari kampung Okomo.
Saya melawan gempuran angin malam. Kulit ku dicabik dingin. Malam ini sudah tenang. Sangat syahdu. Gelapnya malam mengantar kami berdua. Tak lama, kami sudah ada di Iyaadimi. Kembali saya parkirkan motor dan saya balik peluk Shella. Ku kecup bibirnya. Dia balas dengan sangat lembut. Gunung Deiyai melihat aksi kami dan dia tersenyum seakan dia mengerti apa yang kami sedang alami.
Setiba di Moanemani, hampir semua kios sudah tutup. Malam itu Lembah Hijau Kamuu sangat tenang. Senandung Jelata malam terdengar merdu. Mereka mengiri perjalanan kami. Pepohonan di Degeidimi bergoyang melambai. Saya tidak mengerti tapi deduanan sangat kompak melambai pada kami berdua.
Tiba di jembatan Kilo 171. Kecepatan masih tinggi. Motor melaju cepat. “Fer, demi, saya cinta ko skali,” kata Vhince lembut.
“Sayang, saya juga cinta ko. Kalau tidak, tidak mungkin saya bawa ko sini,” jawab saya.
Saya keasyikan bicara. Motor melaju sangat cepat dan saya kehilangan kendali.
Dan...
“Tuhan, saya bawa datang dia. Saya sudah cinta dia. Kami dipisahkan orang tuanya. Tapi, kami sedang lari ke Nabire,” kata saya kepada Tuhan.
“Benar Tuhan. Kami tidak salah. Kenapa, kami dipisahkan? Sekarang, kami dua ada turun ke Nabire,” sambung Vhince
.
.
Tuhan diam.
“Tuhan, saya sangat mencintai Shella.”
“Benar, saya juga sangat mencintai Paskal.”
“Tuhan, kalau bisa, jangan pisahkan kami dua.”
Tuhan masih diam.
Dan, dari sini kami dua lihat, besoknya orang bawa jasad kami bawa ke tempat pemakaman. Kami dua bahagia disini bersama dalam cinta kami.
Kamar 03
Asrama Serviam Kamuu, Waena Jayapra
Awal Maret 2016
Philemon Keiya
Iklan ada di sini
Komentar