BAHAGIA YANG KU NANTI

BAHAGIA YANG KU NANTI

BAHAGIA YANG KU NANTI

Melalui ganbar ini ingin mencoba untuk merefleksikan apa yang telah kami punya. Sumber daya alam yang kaya dan sumber daya manusia yang menjaganya.

Ingatan kami bergegas pulang ke kampung kami di pedalaman Papua. Kami makan dari apa yang kami tanam, kami ambil apa yang kami butuhkan, kami rawat tanaman yang tumbuh subur di kampung tanah kami. Kami hirup udara segar dari oksigen yang di oleh oleh tanaman yang kami rawat. Kami minum dan mandi dari air yang jernih di pegunungan yang ada di kampung kami.

Hutan kami, hutan tidak lagi rimbun dan senyum tidak lagi anggun.
Kami takut akan Hijau ini akan kering kerontang bersama harapan pun akan runtuh.

Kemana sudah nada-nada sendu kala itu, kemana sudah janji-manis yang pernah ada disudut mulut.

Kami tidak menolak modernisasi yang belum pasti membuat kami bahagia. kami harus menerima dan kami harus bahagia. Kami harus bahagia melihat anak kami satu persatu pergi dan melupakan tanah tempat tinggal kami.

Kami hanya ingin mati dengan tersenyum melihat anak cucu kami yang juga tersenyum sambil berkumpul menikmati apa yang kami rawat. Kami ingin mati sambil tersenyum dengan tenang dan bahagia melihat perubahan zaman sambil pelan-pelan membuat kami menjadi barang antik. Kami ingin terus tersenyum dengan tenang agar mati kami menjadi tenang.

Di saat bayak orang Papua bahkan menganggap bahwa tradisi dirinya adalah bentuk ketinggalan zaman dan tidak sopan jika digunakan di muka umum.
Padahal tradisi itu merupakan ciri khas dan jati diri yang sesungguhnya.

Jika ada larangan oleh sistem ingat bahwa  larangan itu bentuk oleh para penjaja untuk menguasai daerah kita.

Hilangnya tradisi hilanglah jati dirimu
Kita lupa tradisi sama hal dengan kita lupa diri sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mejunjung tinggi nilai nilai budaya. Untuk itu dapat saya sampaikan dalam tulisan singkat ini untuk terus  kita menjaga dan lestarikan.
Biarkan hinaan cacian makian itu berjalan atas hidup kita, anggap suara burung sedang menghidur kita disaat sedih pelihat realita terkini atas leluhur kita tercinta.

Sa jaga ko
Ko jaga sa
Tong bisa
Torang punya

Oleh:(Frengki Ilintamon)
Iklan ada di sini

Komentar