NEGARA KESATUAN REPUBLIK IBLIS

NEGARA KESATUAN REPUBLIK IBLIS

Prolog

NKRI kepanjangan dari “Negara Kesatuan Republik Iblis”. Akronim seperti inilah 
yang kami gunakan pada judul catatan ini. Pertanyaannya Mengapa ?. 

Pertama, Rakyat Papua sudah sangat jelas menyatakan menolak Otsus dan Pemekaran DOB di West Papua. Penolakan tersebut dinyatakan dalam berbagai aksi, seperti demontrasi, mimbar bebas, pers realese, kampanye media dan menghimpun Petisi Rakyat Papua Menolak Otsus dan Pemekaran DOB. Semua aspirasi Penolakan itu telah diserahkan kepada wakil rakyat, dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Papua dan sudah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Repbulik Indonesia. Bahkan, aspirasi sudah sampai ke telinga presiden Republik Indonesia. 

Kedua, NKRI sepertinya “tuli” dan “buta”. Penolakan Rakyat Papua tidak ditanggapi, malahan dengan paksa NKRI memberlakukan Otsus dan Pemekaran DOB Provinsi di West Papua. Bagi NKRI, Apsirasi rakyat tidak penting, yang terpenting adalah kepentingan politik – ekonomi kaum borjuis dan kapitalis berdasi di Istana. 

Ketiga, “suap-menyuap” pasal Otsus dan pasal pemekaran DOB. Bahkan nyata di depan mata kepala, pejabat-pejabat NKRI di West Papua dan NKRI di Jakarta melakukan praktek suap-menyuap, terkait dengan pasal-pasal di dalam Otsus dan pemekaran DOB. 

Keempat, pemuda, rakyat dan mahasiswa Papua yang melakukan penolakan Otsus dan Pemekaran DOB dengan cara-cara damai, malahan dibalas dengan kekerasan oleh 
negara melalui TNI/POLRI. Setiap demontrasi selalu saja dihadang, diblokade dan bahkan menggunakan gas air mata, water cannon, penembakan dan penangkapan dilakukan oleh NKRI di West Papua.

Keenam, pejabat-pejabat Papua yang pro rakyat malahan dijadikan tersangkah korupsi dengan alasan yang tidak masuk akal. Sementara mereka yang terang-terangan melakukan praktek suap-menyuap dilindungi oleh NKRI.

Ketujuh, “Manis di Bibir, Lain di Hati”, seperti itulah NKRI. Produk Otsus dan Pemekaran NKRI wacanakan demi penegakan Harkat dan Martabat Orang Asli Papua (OAP). NKRI katakan “itu untuk kesejahteraan Orang Asli Papua”. Seperti itulah di “Bibir”. Padahal di dalam “Hati”, NKRI merancang pemusnaan OAP secara terstruktur dan sistematis. Sangat nyata, Operasi Militer masih dilakukan. NKRI katakan itu “Operasi Damai Cartenz”, tetapi buktinya lain di lapangan. Pelanggaran HAM, NKRI katakan akan dituntas, tetapi kasus Paniai saja yang dijadikan Barometer tidak memenuhi rasa keadilan. Belum lain kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya, seperti Byak Berdarah, Wamena Berdarah dan Wasior Berdarah yang telah masuk dalam daftar pelanggaran HAM. 

Kedelapan, “Manis di Bibir, Memutar Kata, Mala Kau Tuduh Akulah segala Penyebabnya”. Begitulah NKRI. Bahasanya manis-manis, NKRI pandai memutar kata, dan NKRI akan menuduh Orang Asli Papua adalah penyebab segalanya. Orang Asli Papua sudah jadi Gubernur, Bupati, DPR, MRP, Kepala Distrik, Kepala Kampung dan menduduki jabatan-jabatan penting di dalam system NKRI. Semua Orang Asli Papua. Tetapi rakyat 
tidak sejahtera. Itu bukan salah Jakarta, itu bukan salah NKRI, tetapi itu adalah Kesalahan 
Orang Asli Papua sendiri. Itu adalah Kesalahan Gubernur OAP, Bupati OAP, DPR OAP, 
MRP OAP, Kadis OAP dan kesalahan pejabat-pejabat OAP sendiri. 

Kesembilan, “Lembar batu Sembunyi tangan”. Itulah NKRI, ia pandai sembunyi tangan setelah melempar batu. Disinilah NKRI pandai menciptakan situasi; PMP (Papua Makan Papua), PJP (Papua Jual Papua) dan PBP (Papua Bunuh Papua). Tidak heran, kita 
temukan peran-peran Protagonis dan Antagonis sesama OAP serta kelompok Anonim (tidak jelas antara prota dan anta). Peran-peran ini dimainkan oleh OAP sendiri sebagai actor dan NKRI sebagai sutradara di balik layar. 

Kesepuluh, “Madu di tangan kanan, racun di tangan kiri”. Otsus dan Pemekaran 
DOB itu seperti “Madu di tangan Kanan”. Sedangkan Operasi Militer, Pembunuhan tokoh-tokoh pejuang, jerat korupsi, pembungkaman ruang demorasi, eksploitasi Sumber Daya Alam yang menuju kepunahan Manusia dan SDA Papua adalah “Racun di Tangan Kiri”. Tergantung OAP, mana yang mau dipilih.

Ya, sekurang-kurangnya sepuluh alasan di atas dapat menggambarkan apa itu Akronim dari NKRI. Silahkan tambahkan sendiri alasan lainnya. 

Catatan ini berisi 20 peristiwa dan atau kampenye yang terjadi di West Papua. 
Kami mengawali dengan Selpius Bobii dan Gerakannya menyeruhkan Doa Rekonsiliasi 
dan ditutup dengan peristiwa Pengibaran Bintang Fajar di kampus USTJ, 10 November 
2022. Catatan peristiwa lainnya kami masukan dalam Lampiran I: dari Theo van den 
Broek. Di dalam catatan lampiran I, Theo van den Broek mencatat lintasan peristiwa di 
West Papua dengan menggunakan thema-thema umum dan diatur sesuai persoalan sectoral. Kami memasukannya secara utuh, sebab sebagian besar dinamika tahun 2022, dicatat oleh Theo. 

Lampiran selanjutnya, kami memasukan kampanye-kampanye media berupa 
brosur, seruan aksi dan slogan-slogan. Di bagian lampiran-lampiran itu, kami memuatnya secara tematis. Dari OTSUS dan Pemekaran DOB, sampai pada kampanye presiden GIDI, gembala DR. Socratez Sofyan Yoman. 

Perlu disampaikan bahwa, kami tidak membuat kesimpulan. Kesimpulannya silahkan sidang pembaca simpulkan masing-masing. 
Catatan berjudul: NKRI, Negara Kesatuan Republik Iblis: Manis di Bibir, Pahit di Hati; Lempar Batu Sembunyi Tangan merupakan karya Universitas Kaki Abu (UNIKAB), 
sebagai bentuk pengabdian di tengah-tengah Rakyat Papua di West Papua. 

Akhir kata, Selamat Ber-enang! Di Hari Idhul Adha. Allahu Akbar! ALLAH MAHA BESAR ! 

Ibu Kota West Papua, Port Numbay-Tabi 
29 Juni 2023

Russel Black 
Ketua Yayasan
Iklan ada di sini

Komentar