SEJARAH MASUKNYA INJIL DI PAPUA MELALUI PULAU MANSINAM
SEJARAH MASUKNYA INJIL DI PAPUA MELALUI PULAU MANSINAM
TERLIBATNYA BADAN ZENDING GOSSNER (BERLIN) DAN HELDRING (NEDERLAND) DALAM
MISI P.I DI TANAH PAPUA (NEW-GUINEA) 1852-1870
Pemimpin Badan Zending Gossner (Gossner-Mission) Berlin dan Badan Zending
O.G.Heldring (Heldring Mission, Nederland merekalah yang pertama kali terlibat
dalam missi Pekabaran Injil ke Tanah Papua (New-Guinea- 1870)
Sejarah Masuknya Injil di Papua melalui Pulau Mansinam Awal yang sulit dan penuh tantangan
Memulai aktifitas dengan ujian pertama Penyelamatan Para Pelaut Jerman
Manokwari Kota Administratif tersulung di tanah Papua.
Perjalanan Geisiser dan Ottow dari (Berlin-Nederland)
Pada tanggal 25 April 1852, Geissier dan salah seorang rekan yang disiapkan
Giosner, Sneider berangkat ke Hrsmen bersama dengan Pdt. O.G.Heldring dan
disana mereka tinggal dua bulan. Pdt. O.G. Heldring adalah seorang penggerak
dibidang Missi Zending ke daerah-daerah bangsa kafir. Kemudian mereka bertemu
pula dengan seorang rekan Missionaris C.W. Ottouw yang sudah dipersiapkan
sebelumnya oleh O.G. Heldring. Dan pada malam tanggal 26 Juni 1852 telah diutus
menumpangi kapal, ABEL TASMAN dan berangkat ke Rotterdam dan menuju Batavia.
Tetapi sebelum mereka naik Kapal Abel Tasman, meraka bersama-sama berdoa dan
menyerahkan diri mereka dengan sukacita kedalam pemeliharaan kuasa tangan
Tuhan.
Pada tanggal 7 Oktober 1852 mereka tiba dengan selamat-aman di tanah
Batavia. Di Batavia (tanah Jawa) C.W. Ottoe dan J.G. Geissier yang akan
meneruskan perjalanan ke tempat tujuan dan kerinduan mereka harus bersabar
selama satu setengah tahun. Dan kesabaran, kesetiaan mereka disini diuji oleh
Tuhan. Disamping itu perlahan mereka menyesuaikan diri dengan iklim negeri
tropik.
Karenanya J.G. Geissler membuka dan memimpin suatu sekolah rakyat di Pusat
Missi Belanda bagi penduduk pribumi di Batavia.
Pada bulan April 1854 terbuka jalan Tuhan suatu kemungkinan untuk menggapai
Tanah kerinduan mereka yaitu Papua. Di Batavia ada seorang saudagar muda
namanya "Ring" pemimpin dan pendiri Perhimpunan Missi memberi
informasi bahwa Pulau kecil Mansinam yang dekat dengan daratan Manokwari
penduduknya ramah, terbuka (namun disini sebenarnya kala itu Tanah Papua
penduduknya hidup tertutup, dianggap buas dan menolak orang asing).
Penduduk dari daratan dore-Mnukwar mengakui Sultan dari Tidore yang dibawah
kekuasaan Pemerintah Belanda rupanya tidak keberatan bila Missionaris Kristen
datang ke Mansinam Papua. Begitu surat jalan dari Pemerintah Balanda yang
sampai ke Ternate, Ottow dan Geisler sangat bersukacita atas berita
keberangkatan ke Papua. Geisler menulis dalam suratnya kepada Gossner sebagai
berikut "Terpujilah Tuhan, sehingga waktunya telah tiba yang telah lama
kami menantikan". Kami akan berangkat kesuatu tempat dimana belum ada seorang
Massionaris datangi dan tinggal karenanya kami tidak dapat mengharapkan
perlindungan dari Dia yang telah bersabda : Aku akan menyertai kamu sampai
kepada akhir zaman (Matius, 28 : 20) Perpisahan dan mereka meninggalkan Batavia
pada tanggal 9 Mei 1854.
Dan akhirnya 30 mei 1854 mereka tiba di Ternate dan diterima dengan sangat
ramah oleh Pdt.J.E.Hoveker dan isteri (yang sejak 1833 sebagai Pdt Jemaat Protestan yang kecil disitu). Serta tinggal bersama dirumahnya.
Disana mereka belajar dan memperdalam bahasa melayu serta belajar mengkaji
berbagai informasi tentang sikon Papua. Dan harus bersabar
menunggu selama setengah tahun. Sesudah itu
Residen Balanda C.Bosscher dari Ternate diharapkan dapat menolong untuk
perjalanan ke Papua. Rekan-rekan Missionaris di Batavia mengirimkan 200 Gulden
kepada mereka. Seorang guru Wehker dari Ternate yang sangat kagum merelakan
putranya yang bernama Frits berusia 12 tahun untuk
menjadi pelayan bagi mereka. Mereka diperbolehkan membawa barang-barang
sebanyak yang mereka butuhkan. Perjalanan itu mereka dibekali beberapa ekor
sapi, ayam, bebek, dan angsa.
Mereka kemudian menerima surat jalan
dari Sultan Tidore yang dogmanya Islam. Disaat residen Belanda menjelaskan
kepada Sultan bahwa Ottow dan geissler mereka adalah Peneliti Alam. Tetapi
Sultan yang sudah lama mengetahui identitas mereka, berkata "ah mereka kan
missionaries pekabaran Injil" jangan merubah status mereka, biarkan mereka
menyebarkan ke Kristenan mereka. Maka Sultan memberikan surat Ijin bagi mereka bahkan memerintahkan kepada para kepala suku untuk melindungi
dan menolong mereka jika mereka kekurangan makanan.
TIBA DI TANAH PAPUA JANUARI 1855
Pada tanggal 12 Januari 1855 bertolaklah mereka dari Dermaga Ternate,
menumpang Kapal (...) Ternate menuju Pulau tujuan mereka Mansinam. Dan ketika
menunggu pelayaran selama 25 hari pada tanggal 5 Februari 1855 Kapal Ternate
membuang sauhnya di depan pulau Manansbari (Mansinam) Dalam agenda Harian
Geislee, menulis kepada Gossner demikian : Anda tidak dapat membayangkan betapa
besarnya rasa sukacita kami pada saat akhirnya dapat melihat tanah tujuan kami,
Minggu pagi Zending sauh dibuang untuk berlabuh di teluk Doreri. Matahari
terbit dengan indahnya, ya semoga matahari yang sebenarnya, yaitu Rahmat Tuhan
yang menyinari kami dan orang-orang kafir yang malang itu yang telah sekian
lamanya merana didalam kegelapan semoga Sang Gembala setia mengumpulkan mereka
dibawah tongkat GembalaanNya yang lembut. (Sekoci pertama yang menuju daratan
membawa kedua orang penginjil itu kedaratan Mansinam pada pagi hari).
Sebagaimana tindakan terakhir mereka lakukan saat berangkat dari Eropa, berdoa,
maka masuk kedalam semak-semak berlutut dan mencurahkan isi hati mereka
("Dalam Nama Allah kami menginjak kaki di Tanah ini") Mereka memohon
kepada Tuhan Allah untuk memperoleh kekuatan, hikmat dan terang, agar dapat
mamulai Missi Pekabaran Injil dengan baik. Tentang reaksi dan respond
(penerimaan) penduduk pulau Manamsbari kurang disentil (F.C. Kamma, ajaib di
mata kita, Jakarta BPK 1981 hal 87) Namun tentunya pendaratan dan kehadiran
serta gerakan-gerakan mereka sebagai orang asing tak dilewatkan, terutama
ketika kedua Mssionaris itu masuk kedalam semak-semak berlutut dan menyerahkan
isi hati berdoa kepada Tuhan.
GAMBARAN UMUM PADA WAKTU ITU
New Guinea ditemukan oleh orang Portugis yang bernama Meneses pada tahun
1526, sedangkan namanya oleh seorang Spanyol yang bernama Alvarado pada tahun
1528 (jadi 300 tahun kemudian) orang Belanda berupaya untuk membuat tempat
pemukiman di Kolobai di Pantai barat yang diberi nama DUBUS bagian selatan
Papua daerah Fakfak sesuai dengan nama komisaris Nederland Hindia namun pada
tahun 1836 mereka menghentikan usaha mereka karena dianggap terlalu mahal dan
sia-sia. Pada tahun 1847 ada beberapa Missionaris Khatolik yang bermukim di
pantai timur laut, namun pada tahun 1852 mereka menghentikannya dan pindah ke
pulau yang lain. Pemukiman besar yang pertama di Puau yang besar, kaya dan
diberkati ini dan diklaim kepemilikannya selama 350 tahun barulah terjadi
melalui kedua orang Jerman Ottow dan Geislert pada tahun 1855.
Nama Papua berasal dari kata dalam bahasa melayu, yaitu "Pua-Pua"
yang berarti rambut keriting dan kemudian disingkat Papua.
Orang Papua pada waktu itu sangat curiga terhadap orang asing. Disamping
itu mereka terkenal untuk merampok dan berperang serta hidup dari berdagang.
Rumah-rumah mereka dibangun diatas air untuk melindungi dari serangan
musuh. Kebanggaan mereka adalah keberhasilan membunuh orang lain, yang ditandai
dengan jumlah bulu sebagai hiasan kepala.
Kebiasaan untuk memakai manusia juga dijumpai di Tanah Papua Waktu itu.
Mencuri dan perzinahan dipandang sebagai pelanggaran yang besar dan mendapat
hukuman yang besar pula. Seringkala pula terjadi pembunuhan terhadap bayi-bayi
yang baru lahir dan orang-orang yang sakit keras dikubur hidup-hidup.
AWAL YANG SULIT DAN PENUH TANTANGAN
PADA TANGGAL 5 Februari 1855 C.W.Ottow dan rekannya J.G.Gaissler tiba di
Mansinan yang letaknya berhadapan dengan Dore (Manokwari). Sebagai tempat
tinggal sementara mereka memakai sebuah gubuk gudang penumpang batu bara
peninggalan para pelaut ditepi pantai. Situasi yang dihadapi mereka sangatlah
sulit. Kapal yang menghantar mereka sudah kembali. Tidak ada orang kecuali
Frits yang dapat diajak berbicara. Mereka tidak bisa berkomunikasi dengan
penduduk setempat dan bahasanya, mereka mengurusi diri mereka sendiri.
Penduduk setempat tidak memahami maksud dan tujuan kedua orang asing ini
untuk menetap di Mansinam.
Dalam surat pengantar dikatakan Sultan Tidore mengirim mereka sebagi orang
yang baik dan dengan maksud dan tujuan yang baik, tetapi hal itu tidak dapat
mereka percayai, karena Sultan belum pernah melakukan kebaikan terhadap mereka
(penduduk-masyarakat Pulau Mansinam- tetapi juga Papua umumnya). Terlebih
penduduk terbiasa harus menanggung ketidak adilan dari Sultan Tidore.
Dengan alasan pajak setiap tahun mereka dijarah dan anggota keluarga mereka
dijadikan budak, sebab itu tidaklah mengherankan kalu mereka tidak mempercayai
isi surat dari Sutan Tidore dengan segala penjelasannya. Dalam hidup
sehari-hari nampak kecurigaan penduduk setempat terhadap Ottow dan Geissler,
kendatipun mereka tidak berani untuk menyerang kedua orang asing itu, tetapi
dimata mereka, sehingga menurut mereka cepat atau lambat kedua orang asing ini
akan disingkirkan, oleh sebab itu Ottow dan Geissler bersikap selalu waspada.
MEMULAI DENGAN AKTIFITAS UJIAN PERTAMA
Tibalah saatnya untuk memulai Pekerjaan mereka. Pertama-tama mereka harus
mencari kayu yang cocok untuk membuat perahu dihutan Pulau Mansinam untuk
dijadikan sarana transportasi laut untuk menyebrang kedaratan Manokwari, dimana
rencana untuk membangun sebuah rumah. Karena mereka tak berpengalaman dengan
jenis-jenis kayu di Papua, penduduk di Pulau Mansinam pun tidak menolong mereka
dengan memberi informasi, maka mereka berdua berapa kali salah memilih kayu,
sehingga pekerjaan berminggu-minggu menjadi sia-sia. (Kata Camma Geissler
menulis dengan sampai tiga kali pohon kayu yang kami pilih dan tebang adalah
pohon kayu yang besar, kayu besi yang tidak cocok karena berat dan akhirnya
pecah karena kana panas matahari maka kami hampir tidak berdaya lagi. Tetapi
syukurlah saya melihat sebuah perahu di rumah orang Papua, dan saya beruntung
dapat membelinya dengan harga 12 gelden. Dan akhirnya dengan Perahu itulah
digunakan mereka untuk menyeberang ke daratan Manokwari Teluk Dore (Kwawi) dan
di daratan Kwawi setiap hari mereka bekerja menebang pohon. Dan pada malam
harinya mendayung kembali ke pulau Mansinam.
Karena mereka bekerja begitu keras pagi hingga malam sehingga akhirnya
mereka jatuh sakit. Pertama-tama anak Frits menjadi sakit dan kemudian Ottow
terkena kelengar mata hari, sehingga Ottow hampir meninggal . menghadapi
keadaannya itu Geissler menulis dalam buku hariannya, saya sangat sedih dan
memikirkannya, tetapi saya berdoa kepada Tuhan.
Tuhan saya membutuhkan dia dan orang-orang kafir ini membutuhkan dia, dem
kerajaan-Mu, pulihkanlah dia kembalidan Tuhan yang Maha Mendengar seruan doa
hamba-Nya dan akhirnya Ottow menjadi sembuh. Tak lama kemudian Gaissler yang
kena giliran sakit. Tamu yang jahat yaitu demam Malaria menyerang dia. Juga
terkena luka borok (abses) di kakinya yang sangat membahayakan atau
menyakitkan. Ottow juga berulang kena radang otak. Demikian mereka berdua
terbaring dalam kesakitan, lemah dan tanpa pertolongan apapun di gubuk mereka
di Mansinam.
Penduduk Mansinam mulai sadar bahwa kedua orang ini tidak membahayakan,
kendati demikian mereka tidak menolong, acuh dan tanpa perasaan terhadap Ottow
dan Gaissler. Ada sekelompok orang dari penduduk setempat sempat datang ke
dalam gubuk untuk menengok , tetapi mereka hanya duduk saja, hanya
memperhatikan Ottow dan Gaissler selama berjam-jam tanpa menolong sedikitpun.
Tidak ada tangan yang diulurkan untuk memberikan segelas air.
Akhirnya datanglah pertolongan yang diharapkan. Gaissler menulis : Sesudah
demam malaria meninggalkan saya dan saya untuk pertama kalinya dapat keluar
gubuk. Saya merasakan kesakitan di kaki kiri saya, Borok itu semakin besar dan
memerah, sehingga saya tidak dapat meninggalkan tempat tidur. Kesakitan saya
begitu luar biasa, sehingga saya berteriak dan terus merintih dan berdoa kepada
Tuhan yang menjanjikan : Mintalah, carilah, ketuklah. Meskipun kami tudak
mempunyai harapan akan jalan keluar dari penderitaan ini, akan tetapi tetaplah
benar apa yang Tuhan katakana : Tidak ada hal yang mustahil bagi mereka yang
percaya, walaupun tidak terjadi mujizat yang luar biasa, tetapi Tuhan telah
memimpin hati manusia seperti aliran sungai sehingga tanpa terduga datanglah
sebuah kapal uap ke Mansinam, sehingga saya diselamatkan. Saya harus kembali ke
Ternate. Tetapi keputusan ini sangatlah berat bagi saya. Beberapa tuan besar
diatas kapal tersebut termasuk dokter kapal berusaha untuk meyakinkan saya,
tetapi sia-sia karena saya masih tetap mau bertahan di Mansinam. Akhirnya
Residen Belanda sendiri mengirim pesan sampai ketempat tidur saya dan
mengatakan :
Saya memberikan kebebasan kapada Anda untuk datang ke Tanah Papua dan untuk
berusaha hidup, tetapi karena kepada saya disampaikan Anda dalam keadaan kritis
(hampir mati), maka saya hanya dapat mengatakan Anda harus kembali. Demikianlah
akhirnya saya menyerah dan ikut ke Ternate.
Di Ternate J.G. Gaissler mendapat perawatan dan akhirnya sembuh, tetapi
harus menunggu Kapal selama sekitar 10 (sepuluh) bulan untuk kembali ke
Mansinam.
C.W. Ottow dengan pembantu mereka Frits tinggal sendirian di Pulau
Mansinam. Walaupun terkadang di serang, Demam Malaria tapi selalu memperoleh
keberanian, tenaga keteguhan hati pada keyakinan dan visinya. Untuk mengatasi
kesepian Ottow mengintensifkan hubungan dengan para penduduk terutama melalui
imbal dagang. Ottow membeli hasil-hasil penduduk, kacang-kacangan, ikan, burung
cenderawasih, kerang, perisai- senjata tradisional, teripang dan di jual kepada
saudagar dari kapal Van Duivenbode, hasil uang dari penjualan tersebut
digunakan untuk belanja kebutuhan pokok, obat-obatan. Pada tanggan 12 Januari
1856 (Gaissler) berangkat sengan kapal kembali ke Tanah Papua Mansinam di
sertai 5 orang tukang kayuuntuk membangun rumah disana.
Tugas pewartaan pemberitaan Firman.Injil, atau penyebaran.
Pada tanggal 25 September 1858, dating 12 orang dalam kondisi lemah yang
selamat dari kecelakaan kapal Belgia "Constant" Kapal tersebut pada
tanggal 12 Juni 1858, menabrak batu karang dan pecah akibat salah leinnya
disebelah selatan pulau karang Mansinam. Orang-orang Papua yang ramah pada saat
itu melihat pada punggung salah satu awak kapal terdapat tulisan doa dalam
bahasa Belanda akhirnya membawa mereka kepada Ottow dan merawat serta memberi
makan pada anak buah kapal yang kena musibah tersebut selama 6 bulan.
Kedua misionaris dengan bantuan dari tukang dari Kapal tersebut, bersama 4
orang tukang dari Halmahera (Gelela) Ottow mengadakan pelayanan kebaktian
setiap hari Minggu kepada mereka dalam bahasa Belanda. Dengan penuh rasa syukur
mereka menngalkan Mansinam dan menggunakan perahu layer pada tanggal 11 April
1859 dan tiba di Ternate 1 Juni 1859 dan dalam bulan Oktober tahun yang sama
mereka tiba di Amsterdam.
Nb. Gaissler dalam buku hariannya menulis : sering berulang-ulang menolong
para Pelaut yang karena kapal-kapal dagang Jerman dan Belanda yang karam di
perairan Papua. Hal menolong bukanlah sesuatu yang mudah, karena membutuhkan
pengorbanan yang tidak sedikit dan bersedia untuk merawat, memelihara sejumlah
besar pelaut dan pengobatan.
PENYELAMATAN PARA PELAUT JERMAN YANG KAPALNYA KARAM
Pada bulan Maret 1857 mereka mendengar berita tenteng karamnya Kapal dagang
Jerman yang terdampar pada batu karang di kawasan Teluk Cenderawasih, untuk
menyelamatkan anak buah Kapal demi terhindar dari perbudakan dan kematian sebab
ada tiga (3) orang anak buah kapl itu sudah dibawa ke Windesi. Ottow dan
Gaissler menyiapkan barang-barang dagang untuk barter dan uang menyewa sebuah
perahu dengan 22 orang laki-laki tenaga pendukung, setelah melalui suatu
perundingan untuk menentukan siapa diantara mereka yang harus berangkat, sebab
seorang harus tinggal di Mansinam, akhirnya membuang undi, dan pilihan jatuh
pada Gaissler. Sehngga ia yang berangkat dengan para pendayung, dan pada
tanggal 11 April 1857 ia berhasil menyelamatkan dan menebus 3 orang awak kapal
sedang yang seorang berada di tempat yang jauh, namun setelah mendengar berita
bahwa ia telah meninggal, para bajak laut sudah mengambilnya dan membunuh
dengan kejam di semenanjung Wandamen. Leh sebab itu Gaissler dan para
pendayungnya segera berangkat kembali ke Mansinam. Ketiga awak kapal yang
diselamatkan itu, mereka dalam keadaan sakit dan terus dirawat oleh Ottow dan
Gaissler. Sesudah mereka sembuh lalu mereka berangkat dengan kapal dan tiba
dengan selamat di tanah air mereka (Jerman).
Sebagai tanda terima kasih kepada enyelamatan anak buah kapal Jerman dimana
Pemerintah Belanda (Den Haag) mendengar bagaimana kedua missionaries
Ottow dan Gaissler mempertaruhkan nyawa dan milik mereka untuk menyelamatkan
anak-anak buah kapal yang karam itu, kepada Ottow dan Gaissler diberikan hadiah
kepada masing-masing sebesra 250 Gulden kepada mereka. Dalam agenda Gaissler
menulis, Mereka merasa bersukacita bahwa sekarang mereka tidak perlu lagi hidup
semata-mata dari uang persembahan Missi/Badan Zending, tetapi dapat hidup dari
gaji Pemerintah Belanda, sehingga mereka lebih leluasa dalam menjalankan tugas.
MANOKWARI KOTA ADMINISTRATIF (PEMERINTAH) TERSULUNG DI
TANAH PAPUA
Kebupaten Manokwari adalah Kabupaten tersulng di Tanah Papua yang amat
penting dalam sejarah peradaban dan perubahan budaya orang Papua. Oleh karena
Kota Manokwari sebagai pusat penyebaran agama Kristen dan pusat Pemerintahan
pertama di Tanah Papua. Kota Manokwari menjadi start Gereja (Zending) dengan
Pemerintahan Belanda memulai pembangunan semesta (modern) bagi suku bangsa yang
mendiami Tanah Papua. Kemungkinan atas dasar tersebut, orang Biak Numfor
mengabadikan/mengungkapkannya dalam etimologi, dari tiga morfem dasar Mnu,
Kampung- dan kwar, lama + "dia" itu) Kemudian disebut dengan nama
Manokwari yang diartikan dengan ungkapan "Kampung yang didahulukan,
tertua, terlama", dimana dimulainya sebuah peradaban dan budaya asing
dalam konteks terang penyebaran Kekristenan tentang Injil Kristus. Sejarah
dengan mencatat sejak Tokoh Legendaris berkebangsaan Jerman yang pertamakali
bergabung dalam missi Pekabaran Injil Zending (Goissner) Jerman (Heldering
Nederland) di Tanah Papua melalui utusan Missionaris Ottow dan Gaissler yang
mulai menginjakkan kaki di Pulau Mansinam tanggal 5 Februari 1855 dengan doa
Sulung mereka, "Dengan Nama Allah kami menginjak Tanah ini".
Menandakan bahwa pembangunan yang modern di Tanah Papua sudah dimulai sejak
Injil Kristus atau penyebaran Agama Kristen mulai masuk dan menerangi kegelapan
dan kekafiran orang Papua Tempo itu di Pulau Mansinam Manokwari. Oleh sebab
itu, siapapun tidak dapat menyangkal bahwa hasil karya besar yang
diperjuangakan dengan susahpayah oleh para Pekabar Injil dulu ituah yang setiap
suku bangsa dari manapun yang mendiami bumi Telik Cenderawasih Tanah Papua
boleh menikmati dan alami saat ini di era demokrasi-otonomisasi ini dalam
berbagai bidang sektor pembangunan di Tanah Papua.
Dokumen sejarah Pekabaran Injil juga dapat mencatat bahwa atas jasa, kerja
keras dan perjuangan gigih yang panjang yang dilakukan oleh zending (Gereja)
terus menerus dan mendesak pemerintah Belanda untuk segera menetapkan dan
melaksanakan pemerintahan secara definitive d Tanah Papua untuk menghentikan
perlakuan yang betahun-tahun dilakukan oleh Kesultanan Tidore dan Pemerintah
VOC dalam bentuk pembunuhan-perampasan harata benda-penjualan-pembelian budak
pembakaran kampong-kampung penduduk orang Papua dan sesama etnis Papua saat
itu. Oleh sebab itulah kota Manokeari pada tanggal 9 November 1896, Pemerintah
Belanda secara definitive atau resmi memulai sistim Pemerintahan di Tanah
Papua. Dengan demikian secara resmi di Kota Manokwarilah pihak Pemerintah
Belanda ertama kali memulai system pemerintahannya untuk membangun orang Papua
menuju kehidupan modern.
Gereja Kristen Injili Di Tanah
Papua (Anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Badan Pekerja Klasis
Manokwari
Ketua/Chairman : Pdt.L. Marisan. S.Si Th; Wakil Ketua/Vice Chairman : Pnt.
drg, H.Sembiring;
Sekretaris/Secretaris : Pdt. M. Warobay, S.Si Th; Wakil Sekretaris/Vice
Secretaris : Pnt. Y. P. Sayori;
Bendahara/Treasure : M.Jarangga

Komentar