Pola Kepemimpinan Tradisional Suku Mee di Papua

Pola Kepemimpinan Tradisional Suku Mee di Papua


Pola Kepemimpinan Tradisional Suku Mee di Papua

Deskripsi Kepemimpinan Tradisional 

Oleh: Mikael Tekege

 

I.                   Pengantar Kepemimpinan

 

Manusia selalu berinteraksi dengan sesama dan lingkungan. Manusia hidup dalam berkelompok baik kelompok besar maupun kelompok kecil sehingga saling mempengaruhi. Lebih lanjut, dari pola hubungan tersebut akan melahirkan konsep kepemimpinan. Kepemimpinan sangat dibutuhkan oleh manusia untuk mengatur dan mengurus dinamika komunitas itu sendiri. Dan kepemimpinan bisa terjadi di mana saja asalkan sikap para anggota menunjukan tercapainya tujuan bersama, artinya dalam konteks tertentu dilihat dari kelebihan dan keunggulan para anggota dalam  mendengarkan dan melakukan apa yang diperintahkan.

 

Kepemimpinan sama tuanya  dengan kehidupan manusia karena kepemimpinan muncul bersama-sama dengan adanya peradaban manusia yaitu sejak zaman nabi-nabi dan nenek moyang manusia yang berkumpul bersama lalu bekerja bersama untuk mempertahankan eksistensi hidupnya menentang kebuasan binatang dan alam sekitarnya. Sejak itulah terjadi kerja sama antar manusia dan ada unsur kepemimpinan. Pada saat itu, pribadi yang ditunjuk sebagai pemimpin ialah orang-orang yang paling kuat, paling cerdas dan paling berani (Kartini Kartono, 2011: 32). Dengan demikian, kepemimpinan tidak terlepas dari kehidupan manusia itu sendiri. 

 

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaan dan kecerdasannya, tetapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain. Sangat diperlukan jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu dipupuk dan dikembangkan. Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang.  “Dengan ringkas dapat dinyatakan, pemimpin dan kepemimpinan itu dimana pun juga dan kapan pun selalu diperlukan khususnya pada zaman modern sekarang dan dimasa-masa mendatang” (Kartini Kartono, 2011: 33).

Pola atau sistem kepemimpinan setiap suku bangsa, kelompok dan komunitas tentunya berbeda-beda. Kepemimpinan ini juga tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Papua Barat pada umumnya. Sistem kepemimpinan yang dianut oleh masyarakat Papua Barat (Sorong – Samarai) sebagaimana yang ditemukan oleh Antroplog Indonesia Koenjaningrat.  Beliau menemukan empat sistem kepemimpinan serta penganutnya sebagaimana diuraikan berikut ini: pertama, sistem kepemimpinan Pria Berwibawa atau Big Man; sistem kepemimpinan Big Man diperoleh melalui pencapaian, sumber kekuasaan terletak pada kemampuan individual, kekayaan material, kepandaian berdiplomasi atau pidato, keberanian memimpin perang, fisik tubuh yang besar, sifat bermurah hati. Suku-suku di Papua Barat yang menganut sistem kepemimpinan tradisional Big Man atau Pria Berwibawa adalah Orang Dani, Orang Asmat, Orang Mee, Orang Meibrat, Orang Muyu. (Mansoben, 1995).

Kedua, adalah sistem kepemimpinan Kerajaan; sistem kepemimpinan Kerajaaan adalah pewarisan berdasarkan keturunan dan klen. Suku-suku yang menganut sistem kepemimpinan ini adalah Raja Ampat, Semenanjung Onin, Teluk MacCluer (teluk Beraur) dan Kaimana (Mansoben, 1995: 48). Ketiga, sistem kepemimpinan Ondoafi; sistem kepemimpinan Ondoafi merupakan pewarisan kedudukan dan birokrasi tradisional. Wilayah/teritorial kekuasaan seseorang pemimpin hanya terbatas pada satu kampung dan kesatuan sosialnya terdiri dari golongan atau sub golongan etnik saja dan pusat orientasi adalah religi, terdapat di bagian Timur Papua, Nimboran, Teluk Humbolt, Tabla, Yaona, Skou, Arso, Waris. (Mansoben, 1995:201-220). Keempat, adalah sistem kepemimpinan Campuran;  sistem kepemimpinan ini berbaur dari ketiga sistem kepemimpinan diatas dan wilayah yang menganut sistem kepemimpinan ini adalah di wilayah Saireri yaitu Teluk Cendrawasih. Dengan demikian, masyarakat Papua Barat pada umumnya mengangut pola atau sistem kepemimpinan tradisional sesuai dengan tradisi masing-masing suku.

 

II.                Tipe dan Sistem kepemimpinan Suku Mee

 

Berbicara mengenai kepemimpinan sangat menarik dan dapat ditelaah dari berbagai sudut pandang berdasarkan tipe kepemimpinan yang dianut oleh suku bangsa atau komunitas tertentu. Tipe kepemimpinan tradisional yang dianut oleh suku-suku yang ada di wilayah pegunungan Tengah Papua (termasuk suku Mee) adalah sistem kepemimpinan Pria Berwibawa (Big Man). Status kepemimpinan ini tidak diperoleh dari sebuah hasil warisan tetapi merupakan sebuah hasil usaha seseorang sehingga ia akhirnya mendapat pengakuan oleh masyarakatnya atau warga sukunya (usaha pencapaian atau Achievement status).

 

Secara khusus berbicara mengenai orang Mee  berarti berbicara tentang  tipe kepemimpinan pria berwibawa. Bagi suku Mee di Papua, berdasarkan perkembangan dan kelebihan serta keunggulan yang dimiliki oleh seseorang itu, maka akan ada pengakuan dari masyarakat di sekitarnya dan akan dijadikan sebagai  pemimpin.

Suku Mee tidak mengenal sistem kasta maupun ondoafi. Tetapi dalam hubungan dagang atau dalam kesempatan mencari harta, harus ada orang yang dipertuankan. Yang dipertuankan itu tentu orang yang  mempunyai atau memiliki banyak mege (kulit bia/karang), serta banyak babi. Yang dipertuankan ini hampir ada di setiap kampung, maka dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, yang dipertuankan ini perlu dibuatkan kebun, dicarikan kayu bakar serta perbantukan dalam pekerjaan-pekerjaannya. Orang yang dipertuankan inilah yang akan menanggung biaya pelaksanaan pekerjaan. Setelah harta maskawin diserahkan kepada pihak perempuan, kadang-kadang sebagian harta itu akan dikembalikan kepada yang dipertuankan. Yang dipertuankan itu dinamakan tonawi (Titus Crist Pekei, 2008: 220). Tonawi ini dapat dipercaya oleh masyarakat sekitarnya, sepanjang ia tidak menyalahi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Mee.

Pemimpin federasi dalam kehidupan politik suku Mee jarang tampak, namun akan tampil sebagai salah seorang tonawi ketika memperoleh kekuasaan karena banyak orang yang tunduk dan setia kepadanya. Pengikut tonawi menuruti perintah tidak berdasarkan paksaan, melainkan kemauan masing-masing pengikutnya. Perubahan signifikan yang terjadi dikalangan orang Mee adalah sistem kasta tidak dikenal akan tetapi diakui sebagai tonawi dengan beberapa kelebihan yang ia miliki, dan diakui oleh orang-orang lain sekitarnya (Titus Crist Pekei, 2008: 220-221)

 

Berikut  ini adalah beberapa hal yang membuat orang dapat dianggap sebagai “Tonawi “.  Pada masa lalu, seperti yang dikatakan ( Agus A. Alua, hal 182) bahwa: kepemilikan atas mata uang siput atau mege dapat diperoleh melalui keuletan berdagang melalui pejualan babi pada kesempatan pesta babi ( yuwo ) dan pasar babi - (dedomia ), kepandaian memutar modal dengan turut berpartisipasi dalam pembayaran mas kawin yang sifatnya bantuan yang berbunga ( sewaktu-waktu harus dikembalikan ), memiliki rumah yang besar dan terdiri dari beberapa kamar untuk para istri, memiliki kebun yang luas dan banyak, jujur, pandai berdiplomasi, kepala perang dan didengar dan disegani, sebagai hakim atau penengah ketika terjadi perselisihan, dalam berbagai macam situasi. 

 

 Tugas tonowi tidak terbatas pada bidang politik dan hukum saja tetapi juga pada bidang ekonomi dan sosial. Tonowi harus dermawan dalam pengertian yakni menjadi sumber redistribusi atau menjadi tempat simpan-pinjam bukan memberi hadiah secara cuma-cuma. Hal ini menjadi model pengendalian sosial ( social control ) yang menyebabkan kekayaan jarang tertumpuk pada satu orang tetapi justru terbagi kepada anggota-anggota kelompoknya. Tonowi memperoleh kekuasaan politik dari pinjaman yang diberikan, serta Tonowi juga memperoleh dukungan dari para murid yang diterima hidup dilingkungan rumahnya untuk dilatih dalam hal kebijaksanaan bisnis dan diberi pinjaman untuk membayar mas kawin isterinya. Tonawi adalah orang yang memiliki banyak harta kekayaan,  (ternak babi) dan  pekerja keras dalam suatu bidang, misalnya membuat pagar, menggarap kebun,  dan lain sebagainya. Selain  itu, tonawi juga merupakan orang yang pernah mendapatkan suatu karunia yang baik  dan biasa disebut juga dengan “yagome” (orang hebat).

 

Masyarakat suku Mee Papua tidak memilih seorang kepala tonawi yang memimpin kelompok mereka melainkan dengan sendirinya ada dan dilihat dari proses  yang dilalui oleh seseorang  dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, siapa yang berusaha bekerja keras dan mematuhi norma sosial  (diyoo dou) diakui sebagai tonawi.Sebagai seorang tonawi menunjukan diri (Personal branding) dengan mengenakan perhiasan dalam bahasa Mee disebut (wupi, egamo, ego agiya, wawaiyo, waiyo dan kagamapa/benapa). Namun, ada juga yang tidak mengenakan perhiasan tersebut dan merendahkan diri.

 

Bagi yang mengikuti atau mendengar perintah dan melaksanakan pekerjaan tonawi, akan mendapatkan pembinaan sehingga pengikutnya yang membesarkan nama Tonawi . Tonawi hanya memberi perintah kepada mereka yang mau mengikuti pun melaksanakan sesuatu sesuai dengan perintahnya, namun, perintah itupun tidak terlepas dari kepentingan bersama sehingga tidak merugikan pihak lain, melainkan saling menguntungkan. Tonawi juga memiliki banyak keunggulan dan kelebihan sehingga masyarakat mengakui dan menghargai (maa egai). 

 

Orang yang sudah mendapatkan status tonawi  tidak dibatasi oleh waktu dalam menjalankan tugasnya, melainkan ia selalu eksis sampai seumur hidup karena menjadi tonawi bukanlah pemberian dari sesama atau melalui pemilihan seperti saat ini. Mendapatkan status tonawi melalui suatu usaha. Konsep usaha dari seorang tonawi ditransfer secara lisan kepada anaknya sehingga terkesan diturunkan secara turun-temurun (regenerasi) yang kemudian disebut dengan (Ibo epaa atau Tonawi epaa) keturunan tonawi. Hal ini terjadi bukan karena masyarakat Mee menganut sistem kasta, tetapi pengakuan atas proses yang dilalui untuk mendapatkan hasil atau status tonawi. Bahkan segala usaha yang dilakukan oleh seorang tonawi akan selalu berkembang dan membuahkan hasil yang baik, sedangkan masyarakat biasa hidupnya pas-pasan sekalipun berusaha dan berupaya sekuat tenaga. Konteks kehidupan masyarakat Mee ini terjadi ibarat seleksi alam. Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut tentang tonawi.

 

a.      Tonawi Berdasarkan Kepemilikan Ternak Babi dan Harta (Ekina Mege/Agiyo Tonawi)

 

Ekina mege tonawi tahu bagaimana cara merencanakan, mengatur, memelihara dan mengembangkan babi secara teratur.  Kemudian memasarkan pada saat pesta adat yang dalam bahasa Mee disebut “Yuwo”. Kemudian ada juga cara lain yang dilakukan oleh seorang ekina tonawi agar ternaknya tetap berkembang, yakni memberikan atau membagikan bibit ternak babi kepada orang lain terutama keluarga yang tidak punya atau hidup pas-pasan (iyoo) dengan tujuan agar mereka juga bisa memiliki ternak babi.

 

Tonawi memberikan ternak babi kepada orang lain untuk dipiara dan hasilnya digunakan untuk kepentingan dan kebutuhan mereka sendiri. Namun, ternak induk yang  diberikan itu tetap milik Tonawi, sehingga ketika memasarkan babi induk itu maka hasilnya diberikan kepada pemiliknya (tonawi). Sedangkan bibitkan yang dikembangkan dari induk tersebut tetap milik yang memelihara itu.

Tonawi yang memiliki banyak ternak babi, mengakibatkan  istrinya lebih dari satu dan harus bekerja keras untuk mencari makanan artinya bahwa, perempuan harus kerja keras dan rajin cari makanan ternak babi. 

 

b.      Tonawi Berdasarkan  Kerja Keras (Keitai/Ekowai Tonawi)

 

Masyarakat dan kerabatnya akan mengakui sebagai ekowai tonawi ketika seseorang menunjukkan imagenya dengan kerja keras dalam mengerjakan suatu bidang pekerjaan yang ditekuninya. Dan pekerjaan sebesar apapun dapat dikerjakan dalam kurung waktu  singkat dan hasilnya akan berbeda dengan orang lain atau lebih unggul ketimbang yang lainnya. Dengan kata lain, ia memang unik dari yang lainnya. 

 

Meskipun ada banyak orang menyamakannya tetapi hasilnya akan tetap berbeda karena akiya iye-iye (bidang masing-masing) yang tidak bisa dicampuri oleh orang lain. Dengan demikian, masyarakat mengakui bahwa ia adalah keitai/ekowai tonawi (tonawi dalam bidang kerja) sehingga para pengikutnya akan mendengarkan perintah atau pembicaraannya yang berkaitan dengan keitai/ekowai (kerja). Dengan kata lain, ia bicara berdasarkan bukti yang kongkrit atau pembicaraannya sejalan dengan tindakan yang nyata. Namun, sebaliknya masyarakat tidak akan percaya, apabila tonawi  tersebut berbicara diluar daripada bidangnya yang ia tekuni karena tidak ada bukti yang disaksikan secara langsung.

 

Tonawi yang ini memiliki filosofi seperti yang dikatakan oleh Yohanes Tekege bahwa “tangan adalah pabrik” yang menghasilkan segala sesuatu untuk menunjang kebutuhan mereka.

 

c.       Tonawi Berdasarkan Kepandaian Berdiplomasi (Mana Wegai/Duwai Tonawi)

 

Pada dasarnya semua orang bisa berbicara dimana saja dan kapan saja, namun esensi dari berbicara adalah mengetahui dan mengerti terhadap hal apa yang dibicarakan pada konteks tersebut, dan bisa mendatangkan sesuatu yang baik serta memecahkan persoalan. Orang yang berbicara panjang lebar tetapi tidak mengerti dan tidak menangkap inti persoalan sama saja  bohong. Oleh karena itu, yang saya maksudkan disini adalah bahwa orang yang bisa memecahkan suatu persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Memecahkan persoalan sebesar apapun bukan hanya sekali saja, melainkan berulangkali dan dalam pembicaraannya akan menunjukkan perbedaan dibandingkan dengan pembicara yang lainnya secara netral.

 

Tidak ada seorang tonawi yang membawahi tonawi yang lainnya sehingga semua bergerak dibidang masing-masing dan melihat persoalan yang berkaitan dengan bidang apa untuk dipecahkan (mana godooto dou). Ketika yang berbicara adalah orang yang telah mendapatkan karunia, maka pembicaraannya mudah dimengerti oleh rakyat bahkan mudah memecahkan persoalan sebesar apapun.

Pembicaraannya mudah dimengerti dan diterima oleh masyarakat dan tidak mengorbankan pihak lain atau tidak memihak kepada pihak manapun (netral).  Menawegai tonawi (tonawi yang pintar berdiplomasi) memiliki bakat untuk memecahkan persoalan.  Dengan kata lain, banyak pembicara tetapi hanya seseorang yang bisa menyelesaikan persoalan (mana umina wegado tiyaa yamake, mana yuwe mekato yewe) itulah yang disebut tonawi yang pintar berdiplomasi.

 

d.      Tonawi Berdasarkan Karunia (Kamuh Tetai Tonawi/Yagome)

 

Mendapatkan karunia tidak semudah membalikkan telapak tangan, melainkan melalui proses dan cobaan yang sangat panjang sekitar 2-3 tahun lamanya. Dengan kata lain, untuk mendapatkan karunia harus menderita dan itulah syarat utama. Dan setelah itu ia akan mendapatkan karunia mengusir atau menyembuhkan orang sakit  (Yagomee atau tonawi). Penderitaan tersebut antara lain, menjadi orang gila, sakit parah, anak istri menjadi korban, dan ternak peliharaan mengalami kematian dan lain-lain. Jadi untuk mendapatkan karunia harus melalui penderitaan yang sangat menyedikan dan setelah melalui semua itu akan disebut kamuh tetai tonawi atau didi beu awetai tonawi (tonawi atau orang hebat)

 

Sama halnya dengan mendapatkan status seorang tonawi yang memang membutuhkan pengorbanan dan perjuangan yang tidak menyalahi aturan atau norma-norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Mee itu sendiri. Sehingga seorang tonawi berbicara atas dasar bukti dan tindakan yang nyata dan diyo dou  (mentaati norma) yang dijadikan sebagai pegangan hidup berdasarkan filosofi hidup suku Mee, yakni Dou Gai Ekowai (melihat, berpikir, dan bertindak) berdasarkan Diyo Dou (norma).

 

III.             Tonawi Bukan Pemberian dari Luar

 

Tidak mudah mendapatkan sesuatu tanpa usaha dan tindakan yang nyata. Esensinya kita harus bekerja, begitupun dengan pembicaraan harus sejalan dengan tindakan yang nyata agar didengar oleh orang lain. Begitu pula dengan mendapatkan status tonawi.

 

Untuk menjadi tonawi bukanlah semata-mata disebut dan diakui  sebagai tonawi, melainkan melalui pengorbanan dan proses yang sangat panjang. Akan ada pengakuan tonawi dari masyarakat dan kerabatnya ketika masyarakat mengetahui pengorbanan dan proses yang dilalui oleh seseorang. 

 

Ada dua cara untuk menjadi tonawi, yakni: pertama, menjadi tonawi melalui upaya dan usaha kerja kerasnya, seperti ekina mege/agiyo tonawi, ekowai tonawi, dan manaduwai tonawi (tonawi yang memiliki harta, kerja keras dan pintar diplomasi); dan yang kedua, menjadi tonawi karena karunia, seperti kamu tetai tonawi/yagome (tonawi atau orang hebat). Semua itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan tidak terlepas dari diyo dou (mematuhi norma). Dari situ ada sebuah penghargaan, kepercayaan dan diakui keunggulan akan bidangnya oleh publik karena memang dengan sendirinya ada dan tidak bisa dipaksakan untuk mencampuri urusan orang lain. Dengan kata lain, tidak bisa disamakan dengan orang lain, meskipun bisa tetapi hasilnya tetap akan berbeda karena “akiya iye-iye, aki gane-gane, akiya emoo-emoo” (bakat masing-masing).

 

IV.             Eksistensi  Seorang Tonawi

 

Menurut pandangan adat, seorang laki-laki Mee mendapatkan gelar tonawi ketika ada pengakuan dari kerabat sekitarnya karena sudah melalui segala usaha dan perjuangan yang panjang dan dengan segala upaya dan usaha untuk mencapai status tonawi dengan usaha-usaha kongkrit serta memiliki nilai dermawan terhadap sesamanya, bisa menyelesaikan masalah yang menimpah warganya, dst. (Titus Crist Pekei, 2008:284). Tonawi harus melalui kucuran keringat dan kerja keras serta pengorbanan, baik tenaga dan waktu sehingga mendapatkan pengakuan dari masyarakat setempat. Bukan semata-mata mendapat pengakuan tonawi karena mempunyai harta benda seperti saat ini, tetapi ada pengakuan dari masyarakat karena dilihat dari proses yang dilalui oleh seseorang.

 

Pandangan masyarakat suku Mee kepada seorang tonawi adalah proses, bukan hasil. Hasil tidak menjamin untuk menjadi seorang tonawi karena masyarakat tidak melihat dan menyaksikan serta menunjukkan proses untuk mendapatkan hasil tersebut. Dengan melihat proses tersebut, masyarakat sangat menghargai dan mengakui bahwa ia adalah tonawi berdasarkan pengalaman dan telah diketahui oleh masyarakat baik kelemahan maupun kelebihan yang dimilikinya. Dengan kata lain, masyarakat sangat mengenal dan mengetahui proses untuk menjadi tonawi. Hal ini bertentangan dengan realitas saat ini, banyak tonawi bermunculan ditengah masyarakat dengan menunjukkan segala macam keunggulan serta harta benda yang dimilikinya dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat, tetapi mereka tidak menunujukkan proses yang telah dilaluinya sehingga kurang ada pengakuan dari masyarakat karena masyarakat sangat menghargai proses, bukan hasil.

 

Proses menunjukkan segala usaha yang dilakukan oleh setiap orang untuk mendapat pengakuan tonawi, karena tonawi yang menunjukkan hasil belum tentu melalui usaha dan upayanya sendiri (haram/halal) dan masyarakat tidak mengetahui dan tidak mengenal siapa dia yang sebenarnya karena muncul begitu saja sehingga memaksakan dan mengakui dirinya sendiri tonawi tanpa ada pengakuan dari masyarakat.

 

Mengakui secara subyektif, bukan hanya pembicaraan semata, melainkan disertai dengan bukti yang kongkrit. Dan sebaliknya tidak menutup kemungkinan akan mendapat pengakuan secara obyektif karena memang ada bukti (proses) yang dilihat secara langsung oleh masyarakat.  Apa yang dibicarakan harus sesuai dengan tindakan nyata dan disertai dengan bukti. Dengan kata lain berbicara sesuai dengan apa yang dilakukan dan yang pernah dilakukan atau dialami. Jangan  berbicara sebaliknya supaya pembicaraan diterima oleh publik. Ketika memberikan kritikan terhadap suatu kegiatan yang dilakukan oleh orang lain, harus disertai juga dengan solusinya agar tidak terkesan lempar batu sembunyi tangan. Kita harus mempertanggungjawabkan perbuatan dan pembicaraan yang telah diutarakan sehingga merasa diri bisa atau mengakui secara subyektif dan juga tentunya akan ada pengakuan secara obyektif. Cara pandang nilai individualitas yang kooperatif ini akan nampak pada pribadi orang Mee dalam beberapa bentuk atau wujud atas pedoman hidup yang yang dipahami secara subyektif dan obyektif. 

 

Secara adat budaya Mee sangat jelas bahwa, merasa dirilah yang lebih hebat apabila menyelesaikan masalah besar, memiliki bakat pandai bicara dan pandai melihat soal, orang yang membantu mege/uang untuk menyelesaikan soal, mengerjakan suatu pekerjaan besar, memiliki nilai dermawan terhadap orang-orang yang membutuhkan, memiliki status sebagai tonawi, memiliki istri lebih dari satu, dan lain-lain. Hal ini berpikir secara subjektif, namun tidak menutup kemungkinan secara obyektif pun  akan mendapat pengakuan akito iboo/akito maa. Dengan sebutan kata-kata bahasa mee, manayawegaya mee to ibo, mege yagidiya mee to ibo, dst. (Titus Crist Pekei, 2008: 303). 

 

V.                Realitas Tatanan Hidup Masyarakat Mee

 

Tipe kepemimpinan pria berwibawa (big man) atau tonawi yang sangat menghargai proses bukan hasil. Dewasa ini sudah tidak relevant  karena semakin terdesak oleh sistem di negara Indonesia yang sangat mengikat. Seorang pemimpin harus dipilih oleh rakyat berdasarkan sistem yang diterapkan di negara ini, berdasarkan  gelar dan pengalaman karier yang kemudian menghasilkan pemimpin yang tidak bermoral  sehingga berakibat pada hilangnya tipe kepemimpinan pria berwibawa. Disamping itu, tradisi yang ada dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki arti atau makna dan digantikan dengan budaya baru termasuk tipe kepemimpinan tradisional itu sendiri. 

 

Tonawi pada saat ini rupanya mengalami banyak perubahan walaupun berjalan dengan lambat, baik dalam hal tugas maupun fungsinya dengan perubahan yang dapat dilihat seperti: memberikan bantuan berupa uang dalam pembayaran maskawin dan status sosial formal atau jabatan dalam pemerintahan bukan ukuran sebagai Tonawi melainkan dipandang sebagai orang besar atau dalam bahasa Mee disebut “Mee ibo”. Saat ini tidak ada penghargaan dan pengakuan sehingga merasa semuanya bisa.

 

 Seorang pemimpin ditunjukkan dan dipilih oleh masyarakat, hanya karena gelar dan pengalamannya, tanpa mengenal dan mengetahui kapasitas yang dimilikinya. Konteks ini sangat terbalik atau bertentangan karena dikatakan tonawi hanya karena ukuran kedudukan atau memiliki banyak uang haram/halal. Dewasa ini banyak orang terutama para politisi pintar berbicara dan mengkritik tetapi tidak sejalan dengan tindakan sehingga sulit mempercayai bahkan masyarakat bosan mendengarkannya karena realitas konteks sosial  dewasa ini yang terjadi adalah ibarat pencuri yang satu menegur pencuri yang lainnya.

 

Pemerintah negara Indonesia menganggap masyarakat Papua pada umumnya tidak mempunyai budaya, bahkan budaya yang ada merupakan suatu ancaman atas bahaya hilangnya kendali atau kontrol negara ini. Seperti yang dikatakan oleh Wanaha, “para pembaharu dan perancang pembangunan menganggap masyarakat lokal “tidak memiliki budaya” sehingga patut “diberikan budaya baru” untuk menggantikan budaya tradisional mereka yang dianggap primitif dan patut diganti dengan budaya modern” (Adrianto 2001: 58). 

 

Padahal tradisi yang dimiliki setiap daerah merupakan kekayaan warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan secara regenerasi. Menurut Tim Sintesis Kebijakan  mengatakan keyakinan tradisional mengandung sejumlah besar data empiris yang berhubungan dengan fenomena, proses dan sejarah perubahan lingkungan sehingga membawa implikasi bahwa sistem pengetahuan tradisional dapat memberikan gambaran informasi yang berguna bagi perencanaan dan proses pembangunan(www.Wikapedia.com). 

 

Keyakinan tradisional dipandang sebagai kearifan budaya lokal (indigenous knowledge), dan merupakan sumber informasi empiris dan pengetahuan penting yang dapat ditingkatkan untuk melengkapi dan memperkaya keseluruhan pemahaman ilmiah. Kearifan budaya atau masyarakat merupakan kumpulan pengetahuan  dan cara berpikir yang berakar dalam kebudayaan suatu etnis yang merupakan hasil pengamatan dalam kurun waktu yang panjang. Kearifan tersebut banyak berisikan gambaran tentang anggapan masyarakat yang bersangkutan tentang hal-hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan manusia, serta hubungan-hubungan manusia dan lingkungan alamannya.

 

Daftar Referensi

Dr. JR Mansoben, (1995) Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya (Papua)

Pekei Crist Titus, 2008, Manusia Mee di Papua: Proteksi Kondisi Masa Dahulu, Sekarang dan Masa Depan diatas Pedoman Hidup, Yogyakarta,  GalangPres

Agus A Alua, Suku Ekagi Di Kabupaten Paniai, dalam Etnografi Irian Jaya, hal  : 182 ).

http://www.budparpapua.com/artikel-23-gambaran-umum-suku-mee-dan-tonowi.html

Benediktus Goo, (31, 2012),  Peralihan Sistem Kepemimpinan Suku Mee di Papua Barat: tabloidjubi.com

 

Wawancara:

 

Yohanes Tekege, (15/12/2013), Tentang Proses Mendapatkan Status Tonawi: Mogodagi, Paniai

Nopias, Noni Yoka Degei, (16/12/2013), Tentang Eksistensi Seorang Tonawi: Dei, Paniai

Melianus Tekege, (16/12/2013), Tentang Tonawi Menikah Lebih Dari Satu: Onepa, Paniai

 

Iklan ada di sini

Komentar