BABI BERPOLITIK
PROLOG
Setelah wacana Otsus mulai redup di West Papua, kembali mencuat lagiwacana Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB). Seperti halnya Otsus,Pemekaran DOB juga menimbulkan polemik yang tdak kunjung usai di awaldan pertengahan tahun 2022 ini.
Respon Pemuda, Mahasiswa dan Rakyat Papua tetap sama, yaitumenolak Pemekaran DOB di West Papua. Namun apa boleh dikata, halserupa kembali terulang seperti pemaksaan Otsus Jilid II. Lagi-lagi sikap
tegas penolakan sudah disampaikan kepada pemerintah Daerah(DPRP/DPRD) setempat. Aspirasi penolakan bahkan telah sampai ke
tingkatan pusat, DPR RI, Kemendagri dan sangat jelas telah didengar oleh
presiden Indonesia, Ir. Joko Widodo.
Sayang, Aspirasi murni rakyat Papua diperlakukan seperti “Kertas Tisu
Toilet” untuk mencebok “Mencretnya” para kapitalis dan borjuis perampokberdasi di Istana Negara, di gedung DPR RI. Lebih, parahnya, “tradisi” cebokpantat itu bukan dilakukan oleh mereka, tetapi oleh penjilat-penjilat yangmerelahkan dirinya, memasrahkan dirinya dan bahkan relah mengorbankandirinya menjadi “tumbal” pesugihan “cebok pantat”.
Lebih aneh, bin ajaib, para pencebok itu, bukannya datang dari luarkalangan masyarakat dan rakyat Papua, bukannya dari luar pejabat danoportunis Papua; malahan ia sendiri adalah anak asli Papua, putra asli Papua.
Seperti bermuka dua, layaknya siluman “manusia jadi-jadian”, penuh trik
dan intrik, menyusup di hati rakyat, berikan harapan, janji-janji manis “gulagula politik” pemekaran DOB. Di tengah rakyat, ia nyatakan tegas menolak,namun di bawah meja ia setujui pemekaran DOB.
Ada yang tegas, terang-terangan mendukung, ada yang “curi moment”,tolak untuk cari perhatian dan terima ketika ia “kebelet pipis”.
Aneh, seperti ‘laki-aki’ malahan kebelet “datang bulan” dan buruanmencari “pembalut” yang pas; apakah itu softex ...? Untuk menutupi darah‘haidnya’.
Entah hendak kita umpamakan seperti apa ...? Apakah “kawin paksa”keburu demi membayar hutang orang tua yang menumpuk..?
Tidak, ini persoalan lain.
Bukan masalah pesugihan cebok pantat. Bukan masalah jilat menjiat.Bukan masalah kertas tisu toilet yang habis dan terpaksa menggunakankertas aspirasi rakyat untuk mencebok pantat. Bukan masalah manusia jadi-jadian. Bukan masalah “gula-gula politik”. Bukan masalah kebelet pipis.
Bukan masalah datang bulan dan mencari pembalut yang cocok, sepertisoftex. Bukan masalah menutupi darah haidnya laki-laki atau perempuan.Bukan masalah kawin paksa karena hutang orang tua.
Lantas, masalahnya apa ...?
Masalahnya adalah BABI BERPOLITIK
.......................:............................
Dalam tulisan ini kami menggunakan analogi BABI untukmenggambarkan dinamika pro – kontra pemekaran DOB di West Papua.
Penafsiran terhadap analogi ini ada pada sidang pembaca.
Selamat Berlayar
Ibu Kota West Papua
28 Juni 2022
Share: Adama krido
Iklan ada di sini
Komentar