SEMUA BUKU-BUKU SEJARAH BANGSA PAPUA BARAT DIBAKAR ABRI (kini:TNI) SEJAK 1 MEI 1963

SEMUA BUKU-BUKU SEJARAH BANGSA PAPUA BARAT DIBAKAR ABRI (kini:TNI) SEJAK 1 MEI 1963

Fakta: Bangsa Papua Barat hidup buta/ kegelapan dalam sejarahnya sendiri.

SEMUA BUKU-BUKU SEJARAH BANGSA PAPUA BARAT DIBAKAR ABRI (kini:TNI) SEJAK 1 MEI 1963

” Watak kolonial ialah laburkan sejarah bangsa yang dijajah dan diduduki. Hancurkan bukti-bukti sejarah sehingga tidak bisa lagi diselidiki dan dibuktikan kebenarannya.”

Oleh Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman

Apapun resikonya dan pendapat orang, saya dengan keyakinan yang kokoh dan keteguhan hati nurani, saya mengabdikan ilmu saya untuk menulis buku-buku sejarah peradaban dan setiap kejadian di atas TANAH ini. Supaya anak-cucu dari bangsa ini, ke depan, akan belajar bahwa bangsa ini mempunyai pengalaman sejarah penjajahan dan penderitaan panjang. Penjajahan itu sangat pahit dan amat buruk yang memilukan hati yang dilakukan dari penguasa kolonial modern Indonesia.

Karya-karya  ini, saya abadikan dengan bolpen tulang belulang, tintanya air mata dan darah serta penderitaan bangsaku, orang asli Papua di atas TANAH  leluhur kami.

Seluruh penderitaan orang asli Papua sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963 sampai sekarang yang ditulis dengan tinta akan terhapus, tapi saya menulis penderitaan bangsaku  ini semua dengan bolpen tulang belulang, tinta air mata dan darah di atas TANAH ini.

Dalam hal ini, kalau saya tidak menjadi bolpen untuk menulis penderitaan bangsaku, saya cukup menjadi alas penghapus di tangan TUHAN untuk menghapus tetesan air mata  di pipi mereka dan darah dari tubuh mereka.

BENARLAh, apa yang dikatakan Juri Lina melalui Architects of Deception-Secret History of Freemasonry, bahwa ada tiga cara untuk melemahkan dan menjajah suatu bangsa, yaitu:

  1. Kaburkan sejarah bangsa yang dijajah dan diduduki.
  2. Hancurkan bukti-bukti sejarah sehingga tidak bisa lagi diselidiki dan dibuktikan kebenarannya.
  3. Putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan mengatakan leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Watak kolonial yang sebenarnya ialah biasa mereka menghancurkan beberapa pilar penting bangsa yang diduduki dan dijajah, yaitu hancurkan pendidikan, hancurkan kebudayaan, hancurkan bahasa, hancurkan ekonomi, hancurkan kesehatan dan hancurkan sejarah dan dokumen-dokumen penting. Para kolonial memang tidak pernah hargai sejarah bangsa yang diduduki dan dijajah. Ini wajah yang dimiliki bangsa kolonial moderen firaun Indonesia.

Pastor Frans Lieshout, OFM memberitahukan kepada kita semua perilaku kejam dan barbar penguasa Indonesia dan TNI membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting tentang Papua.

“Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Kejahatan kolonial modern Indonesia terhadap orang asli Papua yang paling kejam, biadab, brutal, dan barbar serta primitif ialah membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting yang dimiliki penduduk asli Papua. Kekejaman dan kebiadaban penguasa kolonial Indonesia disemangati dari rasisme, fasisme dan militerisme. Kekejaman dan kolonialisme primitif ini wajar karena Indonesia adalah pemerintahan berkultur militer.

Dewan Gereja Papua (WPCC) pada 5 Juli 2020 menyatakan: “Begitu mendapat tempat di Papua (setelah UNTEA tanggal 1 Mei 1963), para elit Indonesia yang menampakkan kekuatannya dan membakar semua buku, dokumen-dokumen, jurnal dan semua tulisan tentang Sejarah, etnografi, penduduk, pemerintahan; semua dibakar di depan orang banyak di halaman Kantor DPRP sekarang di Jayapura” (Lihat, Acub Zainal dalam memoarnya: I Love the Army).

“Pembakaran besar-besaran tentang semua buku-buku teks dari sekolah, sejarah dan semua simbol-simbol nasionalisme Papua di Taman Imbi yang dilakukan ABRI (sekarang:TNI) dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Mrs.Rusilah Sardjono.”

Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

” Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.”

“Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Fakta lain ialah pada bulan April 1963, Adolof Henesby Kepala Sekolah salah satu Sekolah Kristen di Jayapura ditangkap oleh pasukan tentara Indonesia. Sekolahnya digebrek dan cari simbol-simbol nasional Papua, bendera-bendera, buku-buku, kartu-kartu, sesuatu yang berhubungan dengan budaya orang-orang Papua diambil. Adolof Henesby dibawa ke asrama tentara Indonesia dan diinterogasi tentang mengapa dia masih memelihara dan menimpan lambang-lambang Papua” (TAPOL, Buletin No.53, September 1982).

Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno mengeluarkan Surat Larangan pada Mei Nomor 8 Tahun 1963.

“Melarang/menghalangi atas bangkitnya cabang-cabang Partai Baru di Irian Barat. Di daerah Irian Barat dilarang kegiatan politik dalam bentuk rapat umum, demonstrasi-demonstrasi, percetakan, publikasi, pengumuman-pengumulan, penyebaran, perdagangan atau artikel, pemeran umum, gambaran-gambaran atau foto-foto tanpa ijin pertama dari gubernur atau pejabat resmi yang ditunjuk oleh Presiden.”

Pemerintah Indonesia melarang beberapa buku tentang Papua, sebagai berikut:

  1. Pembunuhan Theys Eluay: Kematian HAM di Papua ( Dr. Benny Giay, 2005).
  2. Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (Socrarez S.Yoman, 2007).
  3. Tenggelamnya Rumpun Melanesia (Sendius Wonda, 2007).
  4. Jeritan Bangsa ( Sendius Wonda, 2009).

DR. Veronika Kusumaryati dalam disertadi Program S3-nya dengan judul: Ethnography, of Colonial Present: History, Experience, And Political Consciousness in West Papua” sebagai berikut:

“Bagi orang Papua, kolonialisme masa kini ditandai oleh pengalamam dan militerisme dalam kehidupan sehari-hari. Kolonialisme ini juga bisa dirasakan melalui tindak kekerasan yang secara tidak proporsional ditunjukan kepada orang Papua, juga narasi kehidupan mereka. Ketika Indonesia baru datang, ribuan orang ditahan, disiksa, dan dibunuh. Kantor-kantor dijarah dan rumah-rumah dibakar. Kisah-kisah ini tidak muncul di buku-buku sejarah, tidak di Indonesia, tidak juga di Belanda. Kekerasan ini pun tidak berhenti pada tahun 1960-an” (2018:25).

Doa dan harapan penulis, artikel pendek ini menjadi berkat. 

Selamat membaca. Tuhan memberkati.

Waa…Waa…Wa….

Ita Wakhu Purom,  Kamis, 12 April 2023

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Amggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Kontak : 08124888458 (WA)
08128888712 (Telp)

Iklan ada di sini

Komentar