KEPEMIMPINAN PRIMITIF
KEPEMIMPINAN PRIMITIF
Kita hidup di abad 21. Segala kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan dapat kita nikmati bersama. Ilmu-ilmu sosial tentang tata kelola negara dan organisasi pun sudah berkembang begitu pesat. Organisasi yang menerapkannya berkembang menjadi perusahaan multinasional yang dengan pola pikir.
Abad 21 juga dipandang sebagai masa keterbukaan dan kesalingterkaitan antar bangsa, antar negara, dan anatar organisasi dan interaksi sosial bermasyarakat.
Segala bentuk diskriminasi rasial yang diwariskan oleh tradisi, tetapi juga pengaruh praktek kolonialisme, kapitalime dan kini imperalisme global, Baik diskriminasi berbasis ras , diskriminasi gender dan diskriminasi sara kini menjadi pertanyaan ulang.
Demokrasi lijberal produk kapitalis menjadi sistem pemerintahan yang digemari di seluruh dunia. Bahkan, wacana terkait terciptanya pemerintahan demokratis global juga terus berkembang.
Demokrasi menjadi pandangan dunia global (globale Weltanschauung), karena ia menyediakan pola kepemimpinan yang bertanggungjawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Inti dari demokrasi adalah pertanggungjawaban (accountability). Semua keputusan di dalam kepemimpinan politik dan organisasi harus dipertanggungjawabkan secara rasional kepada semua pihak terkait. Sayangnya, tidak semua pemerintahan maupun organisasi menggunakan pola kepemimpinan semacam ini.
Beberapa organisasi masih menggunakan pola kepemimpinan primitif di dalam tata kelolanya. Dalam arti ini, menurut saya, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang menggunakan pola-pola lama yang tidak lagi pas dengan perkembangan pemikiran dan kehidupan di abad 21 ini.
Pola kepemimpinan ini, sayangnya, tersebar di tingkat pemerintahan, bisnis dan bahkan institusi pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi.
Pola kepemimpinan primitif inilah yang menjadi sumber utama kegagalan kemajuan dalam organisasi perjuangan organisasi sosial maupun pemerintahan di Indonesia lebih khusus di Papua.
Peraktek kepemimpinan prmitif adalah ada lima pola
Pertama, pola kepemimpinan primitif bersifat otoriter. Ia tidak mau dikritik, dan bahkan sangat takut pada pertanyaan. Orang-orang yang melakukan kritik maupun yang mengajukan pertanyaan akan segera dihempas keluar dari organisasi, bahkan dibunuh. Inilah pola kepemimpinan yang diterapkan oleh Hitler dan para diktator dunia lainnya di masa lalu.
Pola kepemimpinan ke dua
Ke Dua, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan pengecut. Sikap pengecut ini lahir dari ketakutan terhadap segala bentuk perlawanan.
Sikap otoriter adalah sisi lain dari sikap pengecut. Padahal, tidak semua perlawanan adalah musuh yang harus ditumpas.
Perlawanan yang sehat adalah penyeimbang yang diperlukan untuk perkembangan organisasi.
Pola Kepemimpinan Ke Tiga
Tiga, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang tuli. Ia tidak mau mendengar saran-saran yang berguna untuk perkembangan organisasi. Ia mengira, bahwa dirinya adalah yang paling cerdas, sehingga hanya ia yang mampu membuat keputusan terkait dengan perkembangan organisasi. Akhirnya, akibat sikap tulinya tersebut, ia akan terjungkal dari posisi kepemimpinan itu sendiri.
Pola Kepemimpinan Ke Empat
Empat, kepemimpinan primitif adalah kepemimpinan yang reaktif. Ia tidak punya strategi jangka panjang. Ia hanya bersikap reaktif terhadap segala kejadian yang ada. Kebijakannya pun bersikap tambal sulam, tanpa ada visi maupun nilai yang jelas.
Pola Kepemimpinan Lima
Lima, kepemimpinan primitif suka sekali menciptakan massa eksklusif. Massa ini adalah kelompok orang yang setia kepadanya, tanpa sikap kritis apapun.
Inilah pola kroniisme yang juga menjalar di dalam berbagai tata kelola organisasi di Indonesia. Dengan massa yang tak kritis ini, sang pemimpin primitif berusaha memecah belah organisasi dengan isu, gosip, ancaman dan penyebaran ketakutan.
Pola kepemimpinan primitif akan menghancurkan sebuah organisasi. Awalnya, moral organisasi itu tersebut akan menurun, karena orang bekerja tidak dengan ketulusan, melainkan dengan ketakutan. Lalu, organisasi tersebut akan kehilangan orang-orang yang justru bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Pada akhirnya, organisasi tersebut akan “hidup segan namun mati tak mau”, lalu lenyap dari ingatan.
Kepemimpinan primitif lahir dari kemalasan untuk belajar dan berpikir lebih dalam tentang kehidupan. Akhirnya, orang memiliki pola pikir dan mentalitas yang tidak lagi mampu berkembang bersama dengan perubahan jaman.
Ketika orang-orang ini naik ke posisi pimpinan, biasanya karena kemampuan menjilat para penguasa sebelumnya, maka awal dari kehancuran organisasi sudah dekat.
Maka memimpin organisasi harus nasionalis mampu menjalankan sentralisme demokrasi. Karena persatuan esensinya adalah demokrasi dalam tempat mengelola perbedaan pandangan disatukan dalam perdebatan sentralisme demokrasi.
Jadi masalah dalam organisasi gerakan pembebasan di Papua selama ini adalah kepemimpinan primitif tidak menjalan prinsip organisasi gerakan dan mendidik kader menjadi revolusioner, patriotik, disiplin dan memiliki garis politik berdasarkan prinsip organisasi. Yang terjadi adalah kepemimpinan primitif melahirkan perpecahan dengan politik identitas dan budaya patron, pengkultusan membuat manusia dogmatis tidak bisa obyektif melihat realitas objektif dinamika gerakan.
Kini bukan jamannya lagi organisasi dijadikan alat oportunis oligarki untuk memuluskan kepentingan kelompok. Organisasi harus dipimpin oleh kaum revolusioner yang nasionalis yang memahami demokrasi tidak lagi mempertahankan kepemimpinan primitif.
Sejak abad ke 19 sampai dengan abad ke 21 ini organisasi pemerintah maupun organisasi sipil termasuk organisasi perjuangan mempraktekkan sistem demokrasi kebebasan atau sentralisme demokrasi.
Ada kebebasan kepada semua orang punya hak yang sama mengeluarkan pendapat dalam organisasi revolusioner yang menganut sistem sentralisme demokrasi.
Tentu kita tau demokrasi liberal produktif kapitalisme tetapi dalam organisasi revolusioner dan organisasi sebagai simbol persatuan harus buka gran demokrasi.
Apa lagi sebuah organisasi sifatnya front persatuan baik itu front taktik maupun front strategis selalu ada ruang demokrasi reguler untuk memperdebatkan prinsip prinsip perjuangan yang membentuk nasionalisme.
Organisasi gerakan perlawanan sipil harus dimotori oleh orang orang revolusioner yang punya kemampuan leadership mengerti kemana arah dan garis politik.
Jika manusia yg memimpin organisasi tidak paham menjalankan roda organisasi apalagi kepemimpinan primitif tidak menjalankan sentralisme demokrasi akan menghancurkan organisasi sebagai alat perjuangan dan salat persatuan.
Ditambah lagi kelompok reformis liberal atau kelompok kanan konservatif yang kontra dengan revolusi ada dalam organisasi maka akan ada demoralisasi organisasi perjuangan revolusioner.
Seorang pemimpin organisasi maupun anggota organisasi perjuangan harus punya kesadaran politik dan kesadaran kritis melihat realitas objektif baik dalam tubuh organisasi maupun kondisi external baik ancaman maupun peluang yang datang.
Mamanya pimpinan organisasi revolusioner setidaknya belajar kepemimpinan pada serigala dan belajar kepemimpinan dari air, supaya bagaimana taktik maupun strategi mempertahankan organisasi sebagai simbol persatuan atau alat di sisi lain perjuangan bersama.
Di Sisi lain seorang pemimpin tau bagaimana merawat organisasi sebagai alat perjuangan yang demokratis, kepemimpinan kolektif dan mengambil keputusan berasaskan pada konsensus bersama.
Kita perlu peka terhadap kehadiran para pemimpin primitif ini, dan mendesak mereka berubah diri, atau melepaskan jabatannya.
Dan agama, karena ia pernah melewati masa kepemimpinan primif, akhirnya agama terasa primitif, agama terasa menjadi penyebab keterbelakangan. Sebab, Dikembangkan oleh para penganutnya melalui pola-pola di atas.
Disisi lain paktor primodialisme dan politik indntitas dalam organisasi perlawanan juga akan berdampak suburnya kepemimpinan primitif dalam organisasi.
Patronisme anggota organisasi kepada seseorang yang dikultuyskan sebagai pemimpin dalam organisasi atau senior junio. Mereka akan selalu mendegar apa yang disampaikan oleh seniornya atau pigur tertentu dijadikan suatu kebenaran yang mutlak dan mereke menjadi manusia dogmatis dan patron.
Dengan demikian selalu ada kontradiksi dalam internal organisasi dan ada pebelotan kemudian mereka akan menjadi kelopok oportunis dan apatis terhadap jalanaya roda organisasi dan tiadak lagi loyal terhadap kepemimpinan yang baru.
Inilah budaya berorganisasi gerakan perlawanan di Papua mesih telihat kepemiminan primitif budaya patronisme berdampak pada sentimen sesama pejuang tanapa melihat dinamika obyektif dalam perjuagan pembebasan Nasional Papua Barat,.
Kita tiadak membohogi kondidisi obyektif hari ini dalam organisasi perjuagan pembebasan Nasional Papua Barat. Secara obyektif kita melihat realitas atau dinamika dalam gerakan hari ini.
Sekian.....
Sumber dikutip dari https://www.facebook.com/100082818100415/posts/pfbid05Xoi8yMGW25ytw8bCZJh9ix98F384otNxyPZsrWs8NWhdZKAUvxbHnoET1BcPjgJl/?app=fbl
Iklan ada di sini
Komentar