Kecurigaan Kuat Atas Kematian Filep Karma.

Kecurigaan Kuat Atas Kematian Filep Karma.

Kecurigaan Kuat Atas Kematian Filep Karma.

Oleh Pilipus Robaha Rawarap 

Aktifis Solidaritas Nasional Mahasiswa Pemuda Papua (Sonamappa Tumbuna Dpp Sonamappa )

Rabu 2 November 2022, ketika matahari telah meninggalkan singgasananya di Bumi Cendrawasih. Memberikan peluang bagi jutaan bintang-bintang dilangit untuk memamerkan
cahaya mereka. Cahaya yang tak mampu mengahasilkan terang bagi kepentingan manusia di Bumi terutama bagi ribuan masyarakat Papua dari berbagai lapisan strata social dan pandangan politik yang baru tiba dipekuburan Waena-Kota Jayapura, malam itu. Ribuan manusia yang merubah jalan umum Jayapura-Sentani menjadi jalan milik pribadi itu, mengantarkan jazad, Bapak Filep Jacob Samuel Karma yang ditemukan tak bernyawa di pantai Base’G - distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura-Papua untuk dikebumikan. Jazad salah satu pejuang kelas dunia yang dimiliki orang Papua itu dimakamkan di kuburan Waena, Kota-Japura, atas permintaan anak-anak ideologisnya. Secara kimiawi jazad pejuang tanpa kekerasan itu akan hancur menjadi tanah. Sementara secara rohani, saya imani bahwa sebelum jazad almarhum Filep Karma ditemukan atau ketika jiwanya meninggalkan tubuhnya, rohnya telah kembali kepada para kudus. Juga rohnya telah berjumpa dengan sahabat-sahabatnya yang mengakhiri pertandingan mereka di dunia dengan mempertahankan iman politik mereka, bahwa Papua merdeka adalah pekerjaan penyelamatan karya ciptaan Tuhan di Papua, yang
upahnya adalah kerajaan sorga.

Dan mungkin mereka lagi berdiskusi di sorga melanjutkan diskusi mereka yang tak pernah tuntas selama mereka masih mengenakan gelar separatis yang diberikan oleh pemerintah kolonial Indonesia kepada mereka selama hidup mereka di atas tanah milik nenek moyang mereka. Dan mungkin juga roh almahrum Filep Karma sudah bertemu Theis Eluay dan roh mereka berdua lagi berdiskusi tentang perjuangan Papua merdeka yang mereka tinggalkan di bumi. Tapi bagaimana dengan darah Filep Karma? Apakah darahnya sedang menuntut keadilan di hadapan Tuhan atas kematiannya yang meninggalkan misteri? Entalah. Tapi satu yang pasti bahwa darah
Filep Karma bisa saja menuntut Tuhan, sama seperti darah Theis Eluay yang menuntut keadilan dihadapan Tuhan atas kematiannya. Tapi juga tidak bisa seperti itu. Untuk kematian Theis Eluay, saya dapat bilang bahwa daranya masih terus menuntut keadilan atas kematiannya sebagaimana cerita kaka-beradik, Kain dan Habel dalam Alkitab (Kej. 4:9).

Kematian Theis Eluay tanpa melalui investigasi yang mendalam, dari kronologis yang ada kitong
bisa simpulkan bahwa itu adalah pembunuhan dan pelakunya adalah Negara Indonesia. Berbeda dengan kematian Filep Jacob Samuel Karma yang kronologis terputus sebelum ditemukan tak bernyawa. Sehingga kematian penulis buku “Kitong Seakan Setengah Binatang” itu tentu meninggalkan misteri yang sukar ditebak dengan pasti. Selain meninggalkan misteri yang sukar ditebak. Kematian bapak Filep Karma yang membuat
saya berutang jawaban kepada anak saya. Hingga tulisan ini diselesaikan, saya belum memberi jawaban yang pasti untuk menjawab pertanyaan yang sangat sederhana dari anak saya, Gaia Subardina Robaha yang baru berusia 5 tahun. “Tete dia tidak tahu berenang kah, jadi dia tenggelam di pante” itulah pertanyaan dari anak saya. Pertanyaan sederhana itu bisa ditanyakan, karena saya menolak mengantarkan dia pergi ke pantai dengan mengatakan kepadanya bahwa tete Filep Karma baru tenggelam di pantai, jadi kitong belum bisa pergi ke pantai, sambil menunjukan foto almarhum memegang megaphone kepada anak saya untuk dilihatnya. Bagi saya, pertanyaan dari anak saya itu tidak saja sederhana namun mudah untuk saya jawab. Tetapi saya menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Karena saya tidak ingin memberi jawaban yang tidak pasti kepada anak saya. Sebab hingga saat ini belum ada hasil investigasi mendalam yang menerangkan bahwa Filep Karma meninggal dunia akibat tenggelam. Atau tidak
ada saksi mata yang melihat dia tenggelam.

Juga saya belum bisa menjawab ke anak saya bahwa tete Filep Karma tahu berenang. Karena
saya hendak menghindar dari pertanyaan berikutnya lagi. Jika saya menjawab ke anak saya bahwa tete Filep Karma tahu berenang maka, tentu pertanyaan berikutnya akan muncul, dan yang paling mungkin adalah, kalau dia tahu berenang, kenapa dia bisa tenggelam.

Jika pertanyaan kenapa bapak Filep Karma yang memiliki lisensi menyelam bisa tenggelam.
Atau sederhanya seperti yang saya duga akan ditanya lagi oleh anak saya, kalau tete dia tahu
berenang kenapa dia bisa tenggelam? Sudah pasti saya tidak bisa menjawab bahkan kepada anak saya pun saya tidak akan menjawab. Karena jawaban atas pertanyaan itu tentu lebih dari satu, tapi dalam kemungkinan. Seperti; mungkin kakinya kram atau tikus-tikus dalam air, atau mungkin tabung oksigennya habis, atau mungkin dibunuh sama penunggu pantai Base’G, dll, dan semuanya itu hanyalah kemungkinan-kemungkinan. Tidak ada yang pasti. Saya pun tidak akan memilih salah satu dari jawaban kemungkinan-kemungkinan di atas untuk menjawab pertanyaan, kenapa dia bisa tenggelam padahal dia punya lisensi menyelam. Atau membenarkan sebuah pesan WA dari nomor yang tidak saya ketahui yang nyasar ke saya, yang mengatakan bahwa almarhum Filep Karma adalah milik orang Biak bukan perjuangan Papua merdeka dan beliau meninggal, murni kecelakaan atau murni tenggelam.

Saya tidak bisa menjawab seperti itu, bukan saja karena tidak ada saksi mata yang melihat. Atau
karena kesimpulan Filep Karma meninggal karena tenggelam terlalu premature. Tapi ini soal
memberi jawaban yang pasti kepada anak saya yang baru berusia 5 tahun atau memberi jawaban pasti kepada masyarakat Papua dengan jawaban yang pasti dari sebab akibat kematian bapak bangsa Papua, Filep Karma. Sehingga tidak ada pertanyaan baru yang muncul lagi karena meragukan jawaban yang dikasih. Atau tidak meninggalkan kesan bahwa sebab akibat kematian Filep Karma adalah tenggelam seperti yang dibesar-besarkan di media dan operasi intelejen melalui kiriman pesan WA adalah pembohongan.

Kenapa seperti itu!? Karena logika dasarnya adalah, Filep Karma memiliki lisensi menyelam dan kemampuan menyelamnya diakui banyak orang. Sehingga tidak mungkin dia tenggelam. Apa lagi Filep Karma pernah membuat gempar satu tanah Papua terlebih khusus masyarakat adat Papua yang mendiami kampung Skouw; Yambe, Mabo dan Sae ketika Filep Karma hilang
kontak dari teman-temannya ketika mereka menyelam di pantai Mandala Jayapura, dan dia
terdampar di pantai Skouw setelah melewati salah satu tanjung di kampung Skouw yang
dianggap angker. Bahkan bagi masyarakat di kampung Skouw bahwa sangat mustahil seorang berenang sejauh yang dilakukan Filep Karma, apa lagi sampai berhasil melewati tanjung di kampung mereka yang diyakini sangat berbahaya dan angker itu. “Ade, itu luar biasa. Pace Filep Karma dia bisa berenang lewat tanjung yang ada di ujung kampung itu luar biasa skali. tanjung itu sangat angker. Ombak yang pecah di depan tanjung itu besar-besar rumah ini, dan harus buang ke pasifik. Jadi tidak mungkin beliau selamat apa lagi
 tiba di pantai Skouw” 1 ungkap salah satu kepala Suku di kampung Skouw Mabo, ketika saya dan istri berkunjung ke rumahnya beberapa hari setelah almarhum Filep Karma menggemparkan tanah Tabi dengan berita dia hilang (Minggu/12/12/2021) saat menyelam di perairan pantai Base’G dan ditemukan terdampar di pantai Skouw Yambe (Senin/13/21/2021).

Jadi sangat wajar jika sampai sekarang ini, masyarakat Papua mengatakan menolak “cerita”
tenggelam sebagai sebab akibat kematian Filep Karma. Juga wajar bila hingga sekarang ini saya
belum memberi jawaban kepada anak saya bahwa tete Filep Karma sebenarnya tahu berenang. Hal itu saya lakukan untuk menghindari jawaban yang akan melahirkan pertanyaan baru dari anak saya,kalau tete dia tahu berenang kenapa dia bisa tenggelam.
Dan pula menurut hemat saya, bahwa sangat wajar bila mayoritas masyarakat Papua di seantero tanah Papua hari ini dalam diskusi-diskusi takterjadwal mereka. Mereka menggunakan kacamata 1 Tanggal dan pernyataan lengkapnya tidak saya ingat, namun kurang lebihnya seperti yang saya sampaikan di atas. Dan Kepala suku yang dimaksud memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan istri saya, dan kami sering berkunjung ke rumah sang kepala suku dan saya menjadi teman diskusi sang kepala suku.

curiga dalam diskusi mereka untuk melihat dan menilai kematian Filep Karma. Bahwa “jangan-
jangan” almarhum Filep Karma bukan tenggelam tapi ditenggelamkan. Karena seperti yang saya
sudah singgung di atas bahwa logika dasarnya adalah, tidak mungkin almarhum Filep Karma
yang memiliki lisensi menyelam bisa tenggelam di laut Tabi yang pernah ditaklukannya. Kecuali
ditenggelamkan di laut Tabi untuk menghilangkan sebab akibat yang sebenarnya. Ini masuk akal. Untuk membuktikan dengan pasti sebab akibat kematian Filep Karma, wajib hukumnya untuk membentuk tim investigasi yang independen dan professional guna melakukan menginvestigasi.

Dan tim ini harus bebas dari intervensi dan terror Negara. Karena ada kecurigaan di rakyat Papua
dalam diskusi mereka, kalau Negara ada dibalik kematian Filep Karma. Sebagaiamana yang
dikatakan beberapa nelayan di Dok IX ketika memberi sumbangan ikan hasil tangkapan mereka ke rumah duka waktu Jenaza Almarhum Filep Karma masih ada di rumah. Bahwa orang tua ideologis mereka, bapak Filep Karma tidak mungkin tenggelam, tapi ditenggelamkan dan dengan yakin mereka menuduh Kopasus sebagai pelakunya. “Orang penyelam baru masa tenggelam, itu tipu. Dong bunuh dia di darat baru buang ke laut dan itu kopas 2 punya kerja” 3. Dan kecurigaan seperti itu sangatlah wajar karena ada beberapa kematian pemimpin perjuangan Papua merdeka yang sama seperti kasus kematian filep Karma yang dilakukan oleh Negara Indonesia. Seperti Arnod Clemens Aap dibunuh oleh Komando Pasukan Khusus pada 26 April 1984 di pantai Base’G, pantai dimana jazad almarhum Filep Karma ditemukan begitu juga dengan koleganya, Eduar Mofu. Juga Ketua KNPB Sorong, Martinus Yohame yang dibunuh
tahun 2014 lalu dibuang ke laut dan ditemukan oleh seorang nelayan di laut Kota Sorong.
Sehingga wajar bila Negara dituduh ada dibalik kematian Filep Karma. Tapi juga mengingat
posisi antara Negara Indonesia dan orang Papua adalah penjajah dan yang dijajah. Indonesia
adalah penjajah dan orang Papua adalah korban penjajahan Indonesia yang lagi berjuang untuk
merdeka. Sementara Filep Karma adalah salah satu pemimpin perjungan Papua merdeka yang
disegani dan dicintai oleh rakyat bangsa Papua.
Jadi sangat wajar kalau orang Papua yang dijajah mencurigai Indonesia yang adalah penjajah sebagai pembunuh Filep Karma, salah satu pemimpin perjuangan Papua merdeka. Dan bagi saya, jawaban yang kuat untuk menjawab pertanyaan kenapa Filep Karma tenggelam di pantai Base’G adalah, karena dia ditenggelamkan dan Negara pasti terlibat, dan jawaban ini akan kusampaikan kepada anak saya, sebelum ada hasil investigasi atau pun otopsi jenaza. Jika Negara tidak ingin
dicurigai dan dituduh oleh masyarakat Papua sebagai pembunuh Filep Karma. Maka Negara
harus mengisinkan tim investigasi independen yang dibentuk Dewan Adat Papua untuk bekerja
mencari tahu sebab akibat kematian Filep Jacob Samuel Karma, tanpa menghalang-halangi
proses investigasi yang dilakukan. #Hidup Filep Karma #Bebaskan Victor Yeimo.

Penulis Adalah Aktivis SONAMAPPA

Catatan:

2 Kopas = Komando Pasukan Khusus/Kopasus

3 Pernyataan seorang nelayan di dok IX kali saat saya dan Ketua I KNPB mengambil sumbangan ikan dari nelayan yang berjualan di depan Toko Saga Dok IX Kali, pada hari Selasa, sekitar pukul 5 sore.
Iklan ada di sini

Komentar