DIRIKULAH MUSUKU

DIRIKULAH MUSUKU

DIRIKULAH MUSUKU

Semua yang terjadi pada diriku bukanlah kesalahan orang lain namun dirikulah Aktor utamanya yang Menyebabkan problematika. 

Siapakah musuh saya?
Diriku adalah Musuku yang selalu saja Mengadakan Masalah dari kata-kata, Sifat, dan tindakan yang selalu menerapkan pada orang lain. Cobalah renungkan dan mengamati pada diri Bahwa jika diri saya Membenci orang lain, Membohongi orang lain, Menghina orang lain, Memaki dan meludahi orang lain, dan menggosipkan orang lain, maka dirikulah Aktornya yang Mengundang dan Menyebabkan masalah pada diri. 

Mengapa musuh itu ada?
Musuh itu ada karena diri sendirilah yang tak sadar yang seringkali Menjadi sumber untuk Mengadakan rasa benci kepada orang lain, Membohongi orang lain, Menghina orang lain, dan menggosipkan orang lain, maka dirikulah Aktornya yang Mengundang dan Menyebabkan masalah pada diri. Maka dirikulah Sumber yang mengadakan Semuanya itu.

Sebaliknya juga Menyajikan makna Untuk Melihatkan diri, Merenungkan diri, dan Merefleksikan diri. bahwa jika diri saya diam tanpa berkata, Tanpa membenci orang lain, tanpa dibohongi orang lain, tanpa Rasa Amarah pada orang lain, dan tanpa Menggosipkaan seseorang Sekalipun maka diriku bukanlah sumber, justru pihak ketiga yang bersalah dihadapan diri pribadi.! tentunya masalah datang itu bukan sumbernya dari dirinya Maka mudah diselesaikan.

Jika dirinya Mengatasikan itu maka
Menyadarikan itu bahwa disitulah dirinya Mengangapkan bahwa orang yang memahami akan kebenaran. 

Diri saya sering bertanya bahwa sebetulnya kebenaran itu ada dimana? dan sumbernya dimana? dan bagimana akan Mengalikan kebenaran itu, sering kali itu menjadi bahan Kritikus pada orang lain. Ternyata kebenaran itu ada dan hadir dalam diri saya, Anda, dan dia yang selalu dibungkam dari seribu kata kepahitan dan beribu tindakan, Ia sering kali Muncul pada diri dalam hidup melalui kasih dan mengasihi kepada sesamanya namun lupakan itu tak memahami tentang apa itu kasih dan menghasihi karena kebenaran itu ada dan seakan bersumber dari kasih dan mengasihi kepada orang lain.

Terkadang diri saya merasakan bahwa diriku ini menganggapkan Orang yang benar dan seakan benar tanpa melihat kesalahan besar dari padaku. kemudian Merasakan juga bahwa Masalah yang aku hadapi ini mungkin itu saya sendiri yang merasakan hadapi dan menimpa dalam hidupku, tanpa melihat kelu kesa orang lain, Namun itulah satu satunya cara yang membuat diriku terpukau dalam Keburukan.

Utama dan terutama adalah mengacakan pada diri Melihatkan kelu kesa dan kesensaran dalam hidup diri dan kehidupan orang lain. bahwa hidup ini tidak jahu berbedah antara kita sesama manusia bahwa jika Merasakan pada diri saya maka diri saya inilah musuku tanpa disadari Serasa, senasib dan sehidup didalam dunia Maya.

Sebab itulah pentingnya untuk Kasih dan mengasihi tanpa Memandang ia siapa karena itulah kehendaknya dan Melihatkan itu bahwa disitulah mengenali diri secara luas

Sebetulnya diriku menyadari bahwa musuh abadiku adalah diriku tanpa Membenci orang lain, Aktor utama untuk mengundang dan mengadakan masalah dalam hidupku.

Begitulah Pahitnya hidup ketika Asam terasa asin, asin terasa pahit dalam jalannya hidup.

Karya: Sa-Fer M Adii
Apo Gunung 18 Agustus 2022
Sajak Merefleksikan diri
Iklan ada di sini

Komentar