REFLEKSI FILOSOFI MEE TENTANG (DIMI & DIMI GAI)

REFLEKSI FILOSOFI MEE TENTANG (DIMI & DIMI GAI)

REFLEKSI FILOSOFI MEE 
TENTANG (DIMI & DIMI GAI)
Dimi Akauwai
(Gai kou woutoko mana beuka)

"Dimi" pikiran Adalah Sebuah anugerah teristimewa yang hakiki serta dimiliki oleh setiap Orang tanpa terkecuali. Dimi disebut juga sebagai guru atau petunjuk yang Mengarahkan, manusia Tanpa dimi bukanlah manusia karena Dimi adalah sebuah sarana yang mengontrol, mengendali memprediksi serta mempertimbangkan sebagainya.

Dimi Lebih kejam ketimbang teknologi yang semakin merajahi, garap dari semua Aktifitasnya. 

Dalam konteks "Dimi dan Dimi gai" ini ada dua makna yang signifikan didalamnya, sebagaimana uraian dibawah ini.

1. Dimi (Akal Budi, Pikiran)

Pikiran adalah sebuah kata kerja yang akan di kerjakan melalui imajinasi khayal oleh setiap manusia sebelum melakukan sesuatu apapun.
Dalam bahasa suku Mee perkataan DIMI dapat diartikan dengan beberapa pengertian yakni: akal budi, pikiran, pandangan, pengetahuan, pendidikan, pengajaran, peneladanan dan juga segala hal yang berkaitan dengan DIMI atau AKAL BUDI 

Dimi mempunyai kedudukan, fungsi, peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dan bahkan amat sentral sebelum melakukan . Tanpa dimi manusia bukanlah manusia. Maka pikiranlah yang membedakan manusia dari segala makhluk lain. Karena manusia mempunyai dimi maka manusia lebih unggul dari semua makhluk lain tersebut dan karena itu pula manusia secara moril berkewajiban berjuang untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi manusia sejati ”

2. Dimi Gai (Berpikir)

Berpikir adalah sebuah kata amatih yang dipikirkan oleh setiap manusia sebelum melakukan sesuatu, maka dahulukannya berpikir sejahu mungkin apa yang harus dilakukan dan dipertimbangkan sesuai pematan dan imajin serta analisisnya.

Secara etimologi perkataan, Dimi Gai mempunyai beberapa pengertian yaitu: berakal budi, (mengakal, membudi, mengakal-budi), berpikir (memikir, memikirkan), memandang, mengetahui dan dalam kaitan dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh dimi atau akal budi itu.

Dimi Gai, dalam konteks kultur-filosofi suku Mee adalah keterpaduan utuh segala unsur kerohanian manusia yang meliputi akal budi, hati nurani, kehendak bebas, jiwa dan roh selaku perinsip hidup/prinsip semangat yang dalam keharmonisan kerja sama melakukan kegiatann berpikir, memikir, memikirkan, memandang, mengetahui dan memanfaatkan akal budi. 

Karena halnya demikian, maka manusia Mee memandang bahwa aspek kerja rohani manusia itu merupakan suatu kegiatan yang bernilai sangat tinggi, sangat mulia, sangat penting, sangat bermanfaat dan merupakan simbol keunggulan manusia dari segala ciptaan lainnya, dari semua makhluk hidup dan mati.

Dimi Gai, bagi manusia Mee merupakan sebuah nasehat kehidupan. Nasehat itu mewajibkan setiap manusia berjuang untuk menjadi manusia yang berakal budi. Singkatnya : Jadilah, Manusia Ber-akal Budi.

Berbagi itu indah
Sa-Fer M Adii 
Iklan ada di sini

Komentar