KUMPULAN PUISI KAKI ABU
BAWALAH AKU PULANG
Bawalah aku pulang ke kampungmu
Ke lubuk pantaimu ke nurani ombakmu
Ke tubuh telukmu ke jiwa tanjungmu
Dengan tabuhan tifa bertautan semesta
Di sana kita bernyanyi tentang diri sendiri
Bawalah aku pulang ke kampungmu
Ke lembah hatimu ke palung jiwamu
Ke lereng imajimu ke dusun ragamu
Dengan merias arang di seraut alam
Di sana kita berdandang tentang diri sendiri
Sampai aku lupa, tak ada sesiapa
Sampai kau ingat, tak ada apa-apa
Kala monster bernama modernitas
Laju menggeliat dalam palung teror
Selalu saja megalomaniak ketertundukan
Hollandia, 08/08/18
Giyai Aleks
MEMELUK KESUNYIAN
Memeluk sunyi dalam pencarian makna
seperti sang penggembara dipadang prahara
sesaat insan lain beramai-ramai menyulam
pintal memilah runduk pada tahta tirani
mengejar dewa-siwa bernecis dipundak
kebiri nurani demi hidup yang edan-edanan
Memeluk sunyi dalam tenggang zaman
ibarat ranting kayu diarus sungai hedonis
pajang persada dipasaran loak dunia
dagang harta bumi dipundak barbarisme
menyita semua demi selembar daun rupiah
biarkan beranda tampak kering kerontang
laksana padang pasir lipur di mata generasi
Memeluk sunyi dalam laju modern
seperti wujud Kristus sesampai kalvari
menyublim hasrat menolak eros hati
menggengam cinta mencari kebenaran sejati
yang tak utopis juga bukan fatamorgana
demi sejarah harga diri yang kian usik
Memeluk sunyi dalam menemu kebebasan
bagai sang Ilahi mencintai dari singgasana sunyi
ketika jelata koloni melamoniak tunduk
diporak-poranda dengan badai material tirani
teguh mencari elegi kebebasan yang misteri
agar memeluk kesunyian menuju exsodus
Toyaimuti, 18-03-20
Giyai Aleks
SIASASI HAKIKAT HIDUP
Insan-insan hitam di selang zaman
Berserak, bersepakan dan bertindih
Bersorak jajaki jejak kefanaan
Di angkara culas menyublim tawa
Tertuju pada istana tuan penindih
Tersunggut berserah seutuh diri
Dengan jiwa bergantung dan pasrah
Mencari necis mengais jubah tirani
Agar leluasa foya di beranda koloni
'Tuk kebiri tanah leluhur yang permai
Betapa hidup diperah bagai binatang
Ajal terus ditebas tapi rela terbudak
Berdengking senyap di telang waktu
Lalu denting tikaian saling adu kata
Melempar batu kutukan lubangi hidup
Senyaring hening tiada merunduk
Melakoni hidup mengsiasati pailit
Engan berat balik pada sang hekekat
Doa-doa menanti jawaban panjang
Usang dalam ketamakan tiada tara
Waghete, 29/07/20
Giyai Aleks
GENERASI MAYANA
Katanya kita generasi mayana
Menulis ribuan status tak makna
Jutaan gaya digenggaman teknologi
Kepribadian dicetak aksara maya
Makan dan minum dalam kamar
Pergaulan tanpa sapa nyata
Hand phone kuasa segala rasa
Sambil tiduran mengelilingi dunia
Lantas kapan kau menginjak tanah
Pada bumimu yang serba rentah
Katamu gaul serba canggih
Dialam nyata kau tertindas
Namamu berganti-ganti model
Wajah sehari sulit tak dikenali
Semua jari hanya dua yang berfungsi
Masihkah kau gunakan nurani?
Katamu, aku generasi mayana
Pada diri sendiri sering tidak mengenal
Naluri padat mengkristal tak beku
Dilahap kecanduan dosis mayana
Hollandia, 11/12/17
Giyai Aleks
IBLIS
Sendengkanlah telingamu
wahai insan-insan tertindas
adakala sabda ilahi bertitah
wahyu diatas maha penindasan
ayat dari segala realitas hidup
gigirlah bila menguping kata kolonial
gerahlah jika mendengar kata penjajah
Kolonial adalah iblis dari segala realitas
dia mengutuk alam jadi kering kerontang
dia menguras kekayaan jadi hampa
dia mengkebiri nurani jadi Hedonis
dia menggiring insan jadi musnah
dia mengilas akhlak dan budi
dia mengcibir etika dan moral
Padanya, kau berikan murkamu
Padanya, amarahmu dilimpahkan
Padanya, egomu kau kristalkan
Padanya, lawannya dengan gigih
Padanya, semua bencimu
Enaro-Madii, 12/08/20
Giyai Aleks
MENUNGGU
Menepi...
seperti senja jatuh di kaki langit
lambat-lambat hilang tanpa pesan
tidak kabarkan pulang
pada deretan tunggu di dermaga waktu
Sekujur tubuh...
menahan peluru kenangan
bertubi-tubi menikam tajam
tembusi selembar ingatan
carik dan berlubang
Lalu...
aku bagai angin
terbiar melayang
terkadang hangat dan dingin
dipeluk sepi yang sering
hanya bisa singgah di bukit
menjenguk rindu
menitip sedih di muka sore
Dan pulang...
sesat di ranting kering
mengayun putik-putik layu
luruh ke masa lalu
berharap bertemu lagi denganmu
meski kita telah kehilangan cumbu
Pun rindu...
masih menetap
menjalani hari-hariku
mengintip kisah kemarin
mendengar hening
dari suara angin yang menepuk dan lelah
Sementara aku...
menunggu Tuhan menggantikan hati
untuk air mata ini berhenti
dan luka mati
seperti semula kita tak pernah saling mencintai...
Teletubes, 11-01-22
Puisi Kaki Abu
BERSAMA
Kita hidup;
Bersama manis dan pahit
Bersama kenyang dan lapar
Bersama senang dan sedih
Bersama pelukan dan kehilangan
Bersama kolonial dan penindasan
Kita bernapas;
Bersama senyum dan tangisan
Bersama pelangi dan hujan
Bersama tanya dan jawaban
Bersama nikmat dan cobaan
Bersama kapitalis dan militeris
Kita hidup dan bernapas;
Bersama siang dan malam
Bersama kebaikan dan kemungkaran
Bersama terang dan redup
Bersama hidup dan maut
Bersama ketidakadilan dan pemusnahan
Kita hidup dan akan terus hidup
Menyelami takdir atas misteri
Melukis kanvas hitam kehidupan
Dengan secercah cahaya cinta
Bersama mengurai rahasia-rahasia
Untuk mendapati makna kebebasan
Karadiri, 02/02/21
Giyai Aleks
SENYUM YANG TERTAWAN
Untukmu yang hebat. Hebat karena selalu menyelipkan sabar dalam setiap perjuangan dan pergerakan dengan senyuman. Tabah dalam setia menanggung salib kehidupan dengan keriangan. Kudoakan dirimu menjadi pemilik lengan yang kuat untuk dapat memikul beban. Raga dipeluk tegar, jiwa diterpa tangguh. Hanyut bagai buai sejuk angin, lembut hijaukan kemarau di batin proletariat. Walau khalbu berkecamuk dinamisme penindihan.
Diatas tanah air, terulang dan akan berulang, sepanjang tirani kolonial bertahta di persada koloni. Negara melalui tangan predator serdadunya, merenggut tawa dengan cara yang tak terduga dan luka selalu dan akan tersembunyi lebih indah dari senyum yang tampak pesona. Terlihat penderitaan berteduh dibalik bening mata menyembunyikan ratapan yang menggunung! Mungkin, beginilah cara berbagi kerinduan. Tuhan, menempatkan air mata proletariat, di matamu. Ketika lelah yang memberikan kekuatan. Saat tiada ide membuat inspirasi. Kala sendu menebar senyum. Pabila buntut menunjukkan jalan. Ketika hilang harapan memberikan sejuta kepastian hidup.
Betapa anehnya menjadi normal jaman sekarang. Penegak keadilan dan pejuang kebenaran dikutuk habis-habisan. Penebar dusta dan penghianat setiap hari dipuja habis-habisan, manusia. Tak perlu melihat kiri-kanan, masuklah kedalam diri sendiri, Lihatlah. Bahagiakan diri sendiri, kasih semangat buat diri sendiri, kasih perhatian buat diri sendiri, karena apa yang kita rasakan hanya diri kita sendiri yang tahu. Karena keselamatan tak datang dari langit atau melalui di bawah bumi. Namun tuntaskan keresahan dalam dada di depan mata, yang di tatap setiap waktu dalam sinisme.
Hidup itu sangat menarik. Pada akhirnya, beberapa rasa sakit terberat kamu akan menjadi kekuatan terbesar kamu. Ketika kau melihat ruang-ruang kosong sebagai pengisian langkah basis. Ada suatu tempat yang membuat kenyataan menghilang. Yang ada hanya harapan bahwa siapa yang akan kembali menghidupkan kenyataan itu. Iklim hidup memanas, mendengar bisikan hati pun tak bisa.! Kekasih, apa harus mendekam diri di lubang ketamakan, lari dari api yang tak mampu memadamkan baranya.
Kita berani karena kehidupan. Kita hidup di negeri para pemberani, ada yang berani menghianat, ada yang berani menjual kebenaran, ada yang ingkar janji-janji, ada juga yang berani pura-pura tuli, ada yang berani menjadi terbudak, banyak yang berani menjadi pencopet dan penghancur kehidupan. Tak hanya duduk di pelataran, menunggu datangnya keselamatan. Menatap langit dengan khidmat, melahap sunyi dengan nikmat, tuan hening dalam kebisuan. Meruncing dinamika penindasan penuh penghakiman, tapi kau tetap kau, saya tetap saya dan dia tetap dia yang tidak menatap penjahat sebagai penyelamat.
"Hanya karena nama tuan tirani jahanam sudah tersemat dalam sukma, apa guna jika senyum pun tertawan setiap waktu"
Bumi Meeuwoo, 13/03/21
Giyai Aleks
Api Asmara Dijalur Revolusi
Hati membara dibakar api cinta
hangat segar dalam sanubari
langkah cinta nan juang menyatu
dalam rindu yang bercinta sejarah
Biarkan ia membara dalam jiwa, o sayang!
dibakar hangus oleh api asmara
menghangatkan hati yang gersang
eratkan jiwa demi baluti luka negri kita
Adakah hidup lebih bahagia, o sayang!
dari hati yang slalu dibelenggu penguasa
padamu kasih, kita setia pada bangsa
demi pembebasan melebur mesra
kasmaran dijalan-jalan revolusi
Adakah hati lebih gembira, o sayang!
dari luka yang slalu disayat penjajah
padamu sayang, rindu pada kemerdekaan
cinta kita kembang dalam jalan revolusi
melepaskan maklhuk yang tertindas
Oh sayang, kekasih hatiku
bawalah dirimu kita bercumbu bibir
dan saling bergenggam jemari erat-erat
kepakkan tangan kiri berdua bersama
terjang tumbuk pada tirani-tirani benggal
yang berserakan dipenjuru bangsa kita
Hollandia, 01/08/17
Aleks Giyai
KONTROVERSI TAK KENAL KOMPROMI
Paling nestapa, di mana manusia saling membelati dan menikamnya sendiri dengan belati kebenaran. Mereka saling asa kebenaran, memperuncing tajam dan tak ingin di sunting menjadi satu tombak kebenaran. Mereka saling merebut kebenaran. Kebenaran yang di percayainya dengan ego dan memaksakan kehendak dengan perintah nalurinya. Dengan kebenaran itu, selalu melurai tubuhnya sendiri di antara hidup yang lama di telanjangi kaum barbarisme.
Kebenaran seperti apa yang di perlihatkan langit kepada bumi manusia untuk bercermin sebagai sebuah dasar keyakinan pijakan ideologi. Bumi manusia meyakini bentuk kebenaran seperti apa untuk di perjuangkan. Kepada mereka yang mempunyai kerajaan nurani dalam takhta sanubari, akan mengajak jiwanya untuk mengsiasati sejarah sebagai kebenaran sejati bagi bangsa tertindasnya.
Kebenaran sejarah selalu penuh kontroversi yang menjadi dinamis antara kaum koloni dan heroik, walau pun ia satu tetapi itu menjadi dinamika konfrontasi banyak. Ia selalu berujung memecah bela guna menumbangkan keyakinan kolektifas. Konspirasi baru selalu di tampakkan demi benturkan yang lama dan semacam itu selalu berkembang tumbuh semenjak colonial bertahkta menindas hingga kini tertindasnya. Kepada jiwa-jiwa yang beronani menciptakan jurang pemisah, tak mau berkaca kepada jalan sejarah panjangnya, ialah bagai anak panah di tembak melenceng ke arah kepincangan.
Banyak terjadinya percikan konspirasi perbedaan naratif dalam pandangan mengenai realitas penindasan, darinya tidak pernah menciptakan ruang dialektikanya untuk saling berkompromi secara nyata dalam argumentative kolektif. Bangsa yang besar menerima perbebaan pendapat dan bangsa yang di kucilkankan akan terus memelihara perbedaan untuk terus tertindasnya. Bangsa yang tidak berkompromi akan di perkucilkan dan selalu akan di perkucilkan untuk tak berkompromi secara kolektif bagi penjajahnya.
Bumi Koloni, 09-09-19
Giyai Aleks
MENARASI JIWA HEROIK
Terserap makna dimimbar waktu
gegurah jiwa jiwa menjawab
satu persatu hadir bersekutu
menjelas pro kontra beradab
beradap rasa pasti berbeda
seperti siang membenih malam
setitik risalah demi menanda
untuk diri dalam berkalam
Berkalam cinta dengan tulus
rindu harus terpatri didalam hati
perbedaan itu kelengkapan rumus
menuju satu tumpuan dihayati
menghayati separuh tentang hidup
haruslah ada untuk pelengkap
cinta dan cita harus diluruskan
untuk dapatkan langkah kolektif
Seiya-sekata dipadanankan dalam dialektika
perselisihan kompromi harus di setarakan
konfrontasi idealisme musti seimbangkan
kontroversi argumen jua sesamakan
seperti kincir diseting berarah mata angin
agar tiada luluh dalam egosentris yang menggental
Kumpullah bibir-bibir patriot gagah berani
bawa semua kata dalam imajimu untuk membedah
tiada win-win dipuncak naluri berdikari
saat beriklar berkali-kali terurai berkali-kali
dalam kubangan kelam tirani yang mengucilkan juang
Bumi Koloni, 07/07/20
Giyai Aleks
Layu lebih cepat daripada mekar
Berpisah lebih awal daripada bertemu
Bersatu lebih lama daripada hilang
Muram lebih lama daripada senyum
Perihal kisah sebuah bangsa keriting
Tubuh dibudak sementara waktu
Naluri dipelintir halilintar tirani
Jiwa bebas meronta seketika
Namun hati merintih sekian lama
Seiring tirani menindih bergilir
Keberaniannya tak meninggalkan
Dia bermain dialam fatamorgana
Berjalan diam-diam bersama waktu
Ketika relung hati berpinta henti
Akan digubah hidup jadi merah
Semerah darah-darah hitamnya
Hollandia, 07/01/22
Aleks Giyai
SETIAP WAKTU YANG MENDUNG
Gunung-gunung lemas dalam rindu, lembah-lembah karam dalam rindu, pohon dan daun-daun gigil bertalu-talu dalam rindu, burung-burung berkicau ria dengan rindu. Beberapa waktu kenangan menghunjam laju, deras hujan tirani mencumbu memisah jalan-jalan yang telah kehilangan temu, di mana wajahku selalu berpapasan dengan wajahmu, hingga akupun gagal menghafal tahun-tahun yang kita belum pernah bersatu, entah pada kapan.
Langit gelap menghumban paras persada bumi keriting ini ke sudut hitam pekat, warna-warna tanggal dari bunga-bunga gugur di terpa rintik kolonial, pesan-pesan angin jatuh dari telinga yang tuli, jendela sembunyikan dunia dari mata yang luka, pintu hati telah kehilangan mata tuk membuka diri, barangkali cedera oleh keegoisan tanpa melihat penidasan, sedang nyatanya yang lain menjatuhkan airmata tanpa sengaja, ingin bersatu.
Berpuluh-puluh jalan coba kususuri, mengintai bayang-bayang persatuanmu lewat langit yang mendung, gerimis hujan yang berderai, lewat cela pohon dan dedaunan atau laju waktu yang tak menungu, terkadang aku mengejar dikau menuju ke rumah yang belum kita, di sana ada matahari dan langit jingga yang merah merona, warna kebebasan. Sementara di sini, hanya hujan sedang menggila dari langit mendung tirani colonial.
Kusembunyikan separuh hatiku di dalam tubuh puisi, ketika malam menyikat cahaya di paras rembulan yang sepi, padahal petang masih benderang. Mengikat kenangan di tirai pintu gelangsar, sesekali angin merayu dan membuai rindu tentang persatuan kolektif, memujuk ingatan pasionis dengan manja, menggoda luka di bathin berkali-kali, insan manusiawi pun jatuh berkali-kali; namun hujan koloial di luar sana masih tertawa enggan berhenti.
Kesepian ini bersambung lagi dan tak pernah melepaskanku sendiri. Kesepian ini membunuhku. Kadang-kadang terasa menikam dadaku, memberiku pilu, sesekali seperti kematian yang belum aku tandatangani dengan rindu. Sedang kau, bersambung dengan riuh kemeriangan tirani dalam keegoisan, sesekali menandatangani kematian bangsamu dalam tawa terbahak-bahak, nyatanya persada negerimu setiap waktu mendung di bawah langit tirani colonial yang jahanam.
Onago, 31-07-20
Giyai Aleks
BANGSA YANG TERSALIB
Hidup hanya selembar kertas tipis belaka, ditulis dengan peluh darah dan debu tanah, keluh dan penuh bayang ilusi. Dia bukan takdir tapi berwujud misteri. Tampak, sebagian insan menuju jalan yang benar hingga kekokohan nalurinya genggam idealisme dan sebagian nafas berbelok pada jalan dusta mencari dunia fatamorgana.
Keluh terpendam dipalung kehidupan yang dihengkang serdadu tirani. Penindihan semakin tua di antara muatan kekejian dan kebiadaban yang tua. Insan yang gerah hati yang meronta pun nafasnya di buntut, hingga berujung di kirimkan ke pusara dan lain ke bui oleh serdadu dan predator. Pada persada negeri koloni, hanya pendusta, penghianat, penceboh dan pembudak mampu bersambung kehidupan.
Ketika tampak, doa-doa insan tertindih, selalu berujung terborgol pada bedil serdadu kolonial yang tak pernah sampai pada pintu bala serdadu Ilahi yang semawi. Begitu pula nyanyian-nyanyian insan koloni kian ringkih di bilas cakar hukum dan dibilas tangan jahil, yang selalu hambar pada permukaan bumi manusia dan tak pernah keadilan bala tentara surgawi mengiringi bersama simponi surganya.
Ini, doa dari kisah kaum heroik di persada bangsa tertindas. Insan patriot gerylia di hutan dikejar dan insan patriot di kota di buntut, serta insan lain jiwanya tersembelih kegetiran dengan kebanyakan hadirnya militer. Kau bahagiakah, jika hidup bakti pada bangsa jahanam dan bengis itu..?
Ruang hidup tak ada maknanya, bila insan heroik di buntut dan digiring pada bui. Sehelai nafas tiada artinya, jika sekali hembusan nafas saja di pasung dengan pasal-pasal tirani. Pijakan kaki pun tak mampu ketika yang di jumpai tiap sisi dan sudut hanya serdadu. Kenyataan penindasan di persada koloni tersalib di atas bedil yang dipaku oleh hukum-hukum kolonial.
Bahagiakah dikau, kau akan diam dan pasti terdiam bila kebenaran bersemayam. Tapi, tidak mau diam dan pasti tidak pernah diam andai keadilan terbungkam. Tak ada yang bisa disembunyikan oleh seorang manusia yang sedang tertindas kecuali memberontaknya.
Bumi Koloni, 01/06/21
Giyai Aleks
REKONSTRUKSI
Oleh; Giyai Aleks
Pada mulanya, Allah menciptakan pulau Papua beserta segala isinya. Di bumi berjejeran kemilau emas, di langit bertaburan bintang, awan dan di udara burung-burung. Dia melihat segala ciptaan-Nya baik adanya, lalu bentuklah seorang manusia sesuai rupa diri-Nya. Manusia hitam, rambut keriting di atas tanah Papua dan membagikan pada ke setiap suku, marga di tiap masing-masing kampung untuk mendiaminya supaya menjaga, merawat, melindungi serta menghidupi selamanya.
Percayalah, Tuhan menempatkan kita pada tanah air yang paling tepat namun hidup dalam situasi kehidupan yang kurang tepat. Ketidaktepatan hidup bukan maksud Ilahi tetapi hanya karena sebuah keserakahan insan ciptaan dari bumi lain. Oleh karenanya, lakukan dan kerjakan semampu sesuai dinamika. Tak selalu ratapi dan jangan hanya mengeluh pada realitas kehidupan. Kebanyakan pengeluhan akan membuahkan perbuntutan ruang dan berujung melahirkan keruntuhan tak terduga, jikalau sesegera tak bergerak merekonstruksi keping-kepingan yang retak pada tatanan kehidupan sosial masyarakat kita.
Janganlah takut dan gentar tetapi memberanikan diri dengan dalam perdebatan, perselisihan, kontradiksi untuk berdialektika tentang persoalan bukan penyesalan dengan rakyat. Merambat, alur cerita mulai mendekat akan semakin pekat di atas bait tegas tercatat. Lalu kau akan menemukan celah logika yang berkembang di tengah rakyat, doktrin-doktrin yang berdominan di tengah rakyat, falsafah yang mendasar di tengah rakyat. Soal lelah biar Tuhan yang mengurusi dan perihal harapan yang patah biarkan bersama rakyat menuliskan takdirnya.
Kau hebat, sayang. Keadaan meminta kau untuk menjadi kuat. Air mata memaksa kau menjadi tangguh. Realitas membuat sukmamu menjadi tegar dan keretakan sosial mengasa logika untuk menjadi bijak. Supaya dengan keuletan dari pengetahuan dan idealisme bisa membangun berbagai sektor yang ingin di bangun untuk rakyat berdikari. Pembangunan dan perjuangan yang bersumber dari kekuatan rakyat sebagai subjek pergerakan untuk sebuah perjuangan selalu dan pasti akan mencapai tujuannya.
Janganlah hanya sang suara yang berkisah lantang namun menghujam, sang sunyi yang melerai kegundahan batin dan rohani, atau mau ingin menjadi sang doa yang memulihkan luka dan mendatangkan transformasi. Saatnya mencampakkan penat dalam dada yang menggunung dengan keresahan, pada tepatnya di jantung relung-relung jelata dan hikmahnya menjadi bekal pengetahuan dari setiap kegundahan rakyat. Cinta ini tahu kepada siapa harus bersama dalam kehidupannya, seperti pengetahuan harus tahu di mana tempat pengabdiannya. Tidak perlu menyalahkan situasi, selama masih ada kebebasan untuk bersikap.
Berbahagialah diri dari dalam pada setiap perjuangan, untuk membangun kehidupan yang layak sesuai kemampuan dalam realitas kehidupan, karena dengan semua proses dari hasil keringat hari ini, hari esok anak cucu akan bersukacita serta berbangga atas memiliki dikau, yang telah melandaskan pondasi energi positif untuk sebuah kehidupan demi masa depan yang lebih baik.
“Hanya sebuah renungan demi memotivasi diri sendiri”
Bumi Meeuwoo, 09/01/21
Nyeri, Ngeri Sebuah Negeri
Oleh; Giyai Aleks
Nyeri, ngeri pada sebuah negeri. Bahasanya fakta bukan cerita fiksi, kata-katanya misteri tak terduga bukan takdir praduga. Geliat kematian yang mencekam, misteri jeritan insan hitam mengerang. Bayang-bayang yang bukan ilusi tapi nyata, maut hadir menunggangi hidup, mencabut paksa jiwa-jiwa di wilayah sebuah bangsa. Wabah kematian datang dari berbagai penjuru dalam banyak rupa, menyublim jasad dalam bisu menuju liang, pusara-pusara tak bernama pun jejer pada permukaan persada.
Sebilah belati sadis mencincang, menggerogoti nan menyayati palung hidup. Drakula bertaring menancapkan taringnya, cakar-cakar kuku tirani menghujam insan di bumi jajahan, menyayati. Ibaratnya, Zombie yang haus darah, ingin cekik leher untuk diteguk darahnya, kapan saja dan di mana saja, tiap detik dalam setiap waktu. Wabah kematian menjelma seperti tulah, memutilasi hati manusia-manusia. Racun-racun ditanamkan dan terus berkembang, kematian tertawa gembira memecah leluasa di tanah koloni. Di atas takhta tanah air, dijamah angkara, robek masa depannya insan Ilahi. Nyeri, ngeri pada sebuah negeri, musnah kian masif dan nyata.
Sangat mustahil jadi arif dan bijak, sedang di mata gemerlap cahaya ketamakan masuk bertubi-tubi dengan begitu hebatnya. Harta dan kekuasaan praktis menggenggam wilayah nurani, penjarakan keinginan tuk memulihkan. Walaupun, hari-hari samar bayangan kematian dikejar, bahkan lonceng kematian berdering tiap waktu menenggelamkan jiwa-jiwa di kedalaman sumur paling kering. Selain dahaga yang takkan pernah terpuasi di sana dan tersimpan jurang kesengsaraan, berawalnya sebuah kematian. Duka-duka hidup meliuk lamban seakan tak ingin ditamatkan. Luka-luka hidup menanar memar seakan tak ingin dituntaskan. Misteri yang tak mampu terpecahkan oleh akal yang sekedar hidup, namun memerlukan nurani yang ingin kebebasan seumur hidup.
Wahai insan yang tertindih, jiwa-jiwa yang terkulai patah, bathin-bathin yang tersayat pilu. Kuhitung sebagian orang memilih rayakan duka saat hidupnya patah. Sebagiannya lagi memilih mulai berdoa meski terpatah-patah. Jika doa membutuhkan satu alasan, maka sebaik-baik alasan adalah doa-doa syahdu tentang kebebasan hakiki. Maka, berapa lama lagi engkau akan terus mendatangi orang-orang, berapa langkah lagi engkau menjelajah dunia. Terlena sinis dalam ego yang sadis dan terus bercumbu harap pada bangsa-bangsa barbar yang penuh tamak. Carilah pada dirimu sendiri, dan apabila engkau telah menemukan dirimu sendiri, maka kau akan temukan kebebasan dalam dirimu.
Seperti tapak pada jejak, perlahan ia akan terhapus embusan angin, tapi kenangan luka hidup tetap ada, terjaga baik-baik dalam ingatan. Masa lalu yang belum terpecahkan selalu kembali. Kematian-kematian terus akan mendatangi mengetuk tiap insan di bumi koloni. Kehidupan adalah samudera, dan kita jangan hanya mengapung di antara luasnya, dengan sampan mungil yang di nahkodai oleh takdir. Penindasan begitu kencang, jalan juangmu pincang-pincang, lelahmu kocak-kacik. Namun, tetaplah bertahan dalam pencarian makna pembebasan, lewat lorong tak berpintu dalam misteri yang penuh rindu, kau akan kembali membuka pintu kemerdekaan.
Bumi Meeuwo, 10/01/21
Iklan ada di sini
Komentar