SELAMATKAN PEREMPUAN PAPUA DARI PENINDASAN

SELAMATKAN PEREMPUAN PAPUA DARI PENINDASAN

SELAMATKAN PEREMPUAN PAPUA DARI PENINDASAN 

Masalah demi masalah yang terus menjadi ladang penyakit sosial membuat kaum perempuan Papua menjadi lemah akibat intimidasi, kesewenangan, hujat paras, tuntutan ekonomi, dll. Penataan kembali citra perempuan Papua semestinya segera dibangun kembali dengan duduk bersama, seminar, diskusi, penguatan, opera mini, untuk dapat memotivasikan diri agar kembali mengenal akhlak & jati diri sebagai perempuan Papua yang sesungguhnya.

Rajam kekerasan moral yang kian menyelubung sambung menyambung jika dibiarkan berkembang mengikuti perkembangan zaman modern yang semakin ala barat dan melayu, bisa membuat karakter Papua (insan keibuan & paras progressif merosot. Ini namanya mengundang pemusnahan terhadap moral kaum perempuan Papua. Kita dapat tahu bahwa hari ini, perempuan Papua dengan sendirinya menjauhi ahklaknya (sifatnya yang dasar) sebagai bentuk pemenuhan jati diri yang sesungguhnya. Kawin campur, gengsi, malu hati, adalah hasil dari perempuan Papua berlangganan sistem penindasan.

Proses pemberdayaan mandiri (perubahan) yang dilakukan juga tidak secara merata dan menyeluruh, yang membuat sebagian masalah - masalah psikologis semakin membengkak dan itu mempengaruhi kaum perempuan lainnya. Mirisnya, kita ibaratkan saja ; fisiknya Papua, Jiwanya Melayu, perilakunya Bule. Itu yang sekarang nyata terlihat dalam perkembangan anak muda perempuan Papua. Tidak menutup kemungkinan, dengan keadaan seperti ini terus menerus, apa yang menjadi tanggung jawab, hak serta kewajibannya menjadi jauh/sulit untuk di gapai didalam realitas di Papua. 

Pula makin banyak juga manusia ikut - ikutan yang buta prioritas (kebutuhan yang diutamakan) dalam melihat gerakan perubahan dalam banyak segi didalam negri. Dan untuk mencapai kesadaran utuh sebagai seorang perempuan saja terasa sangat sulit. Eskalasi lacur malam perempuan di seantero Papua terbilang tinggi. Fakta ini jangan hanya di sembunyikan, semestinya di koreksi, di pahami, di sadari serta melakukan pembenahan dari tingkat individu sampai komunitas perempuan.

Hal - hal diatas sekarang sedang terjadi dan berlangsung, dan itu yang namanya telah terseret dalam kolam penindasan yang tidak di sadari, dan telah melahirkan jiwa - jiwa fiktif, palsu dan tidak beraturan. 

Berdasarkan kajian ilmu Paulo Freire, dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas, kesadaran manusia melihat realitas dan menyimpulkannya terbagi dalam 3 bentuk kesadaran ;

1. Kesadaran Magis (Utopis)

Memandang dan menyimpulkan hal - hal yang terjadi dengan alasan ada keterkaitan Tuhan, dewa, takdir, dll. 

2. Kesadaran Nai'f

Memandang dan menyimpulkan hal - hal yang terjadi dengan alasan bodoh, malas berusaha, miskin, tidak mampu, salah sendiri, dll. 

3. Kesadaran Kritis

Memandang semua permasalahan dengan ada hubungan sebab akibat dan keterkaitan yang saling merasuki. Bahwa, semua yang terjadi ada alasan, ada aksi reaksi dan ada pemicu dan pengendali yang besar yang mengatur sistem sosial secara menyeluruh. 

Dalam 3 kesadaran ini, hampir kebanyakan kaum perempuan Papua tidak termasuk salah 1 nya (masih kabur) dan tidak menilai secara pasti dalam menanggapi masalah - masalah ekosob (ekonomi sosial budaya) yang sedang terjadi. Proses pembiaran pengendali sistem sosial dengan sengaja mengadopsi kemalastahuan yang mengakibatkan diskriminasi antar kaum, antar geng, antar komplotan, antar ikatan keluarga, suku, agama terus berlanjut. Inilah yang dikatakan telah terlampaui mengenakan kesadaran palsu menjalani hidup sebagai perempuan Papua. 

1. Hak & Moral

Sebagai perempuan Papua, semuanya punya hak untuk hidup, untuk berusaha, kawin, bahkan untuk dilestarikan. Perempuan Papua sederajat dengan Laki - laki Papua, tidak ada beda dalam menerapkan kebutuhan - kebutuhan utama dilingkungan sosial, tidak ada bedanya dalam mengambil kesimpulan membela hak asasi, tidak ada bedanya berdiri di depan umum mengutarakan pendapat dan mengekspresikan tindakan- tindakan mempertahankan moral dan jati diri. 

Pada 2012 lalu, sekelompok perempuan etnis Kurdi di Timur Tengah dibawah pimpinan (nama revolusi ; Kamerad Bahar) dengan semangat kesatuan dan persatuan melawan pasukan khalifah (Isis) dengan sembari memegang AK 47 sebagai bentuk tertinggi perlawanan mereka melawan siapa saja yang merusak moral kaum perempuan di Timur Tengah bahkan dunia. Cara seperti ini menunjukkan bahwa, jika hanya diperintah oleh situasi dan keadaan bahkan sampai menyesuaikan diri (pasrah) akan membentuk pertahanan diri yang rapuh bagi kaum perempuan. Jiwa Patriot dan rasa Nasionalisme tidak akan tumbuh guna merespon setiap segmen dalam realitas penindasan.  

Sebagai perempuan yang sejatinya memiliki insan lemah, semestinya punya hak dan tanggung jawab mempertahankan moral dan nilai sebagai pintu terciptanya generasi sebuah bangsa. Perempuan Papua juga dapat membuat perubahan seperti apa yang ada pada perempuan lain didunia ini. Namun yang telah memiliki kepenuhan subjektif dalam kualitas mengakuisisi realitas kehidupan dan mengenal situasi, tahapan dan bentuk - bentuk penindasan, dialah perempuan Papua yang akan menjadi tonggak perubahan. 

Senjata kaum perempuan Papua saat ini adalah keluhan dan tangisannya di wujudkan dalam praxis, dalam tindakan nyata, dengan mengibaratkan penghormatan akan cinta kepada mama (ibu). Sadar dan berkembang dalam perilaku positif akan mengapresiasi isi seluruh gerakan membebaskan ketertinggalan kaum perempuan di Papua maupun pengaruhnya sampai ke seluruh dunia. 

2. Melawan Patriarki

Rasa minder, tidak cantik, kurang make - up yang merupakan kebutuhan fisik perempuan Papua adalah bentuk kecanduan terhadap hegemoni yang doyan kepada laki - laki. Budaya mempercantik mimik (wajah & penampilan) telah memasuki tahap pra perbudakan seks yang inkonteks, artinya Laki - laki akan berharap apa yang menarik dari perempuan begitu juga sebaliknya, apa yang membuat lelaki tertarik, itulah yang mengharuskan Perempuan. 

Dominasi para lelaki memang lebih kuat dalam menjalin hubungan cinta, kekerabatan, intelektual dan proteksi diri. Namun, bukan berarti perempuan juga tidak bisa melakukan hal serupa. Apa yang menjadi hak tetap hak, kewajiban tetap kewajiban. Memandang perempuan sebagai sosok yang lemah di Papua sudah menjadi kebiasaan (budaya) turun temurun, dan hal itu dapat dilihat dalam rapat - rapat adat, keluarga, tanah warisan, dll. 

Pembawaan kebiasaan sepihak (energi mono) dalam budaya manusia Papua sepatutnya sudah di tinggalkan, demi kebersamaan dan kolektivitas membangun sistem sosial yang rukun dalam hubungan keluarga, antar pasangan, kerabat, dll. Perempuan Papua juga tidak selamanya hanya patron terhadap otoritas laki - laki, melainkan berpikir dan bertindak bagaimana cara melawan pengaruh tingkah laku yang erotif (nafsu) dan represif (kasar). 

Selamat Hari Perempuan sedunia, 
Sa tetap sayang mama🙏 !
Iklan ada di sini

Komentar