BERDOA SAJA SUDAH CUKUP,MENGAPA ORANG HARUS BERPUASA LAGI?
BERDOA SAJA SUDAH CUKUP,
MENGAPA ORANG HARUS BERPUASA LAGI?
---------------------------------------------------------------------
Awikaituma jr, dari berbagai sumber
Saya pernah puasa 40 hari di tahun 2021 jadi paham sedikit soal itu. Sebelumnya saya buta. Duluh waktu kecil, ketika melihat ada orang lain sedang puasa, saya selalu penasaran dan muncul banyak pertanyaan dalam diri saya.
Pertama, puasa itu apa dan untuk apa? Waktu itu Ayahku pernah berkata puasa itu penting tapi saya tidak paham maksudnya.
Seiring waktu, saya mulai tahu sedikit sedikit, orang puasa itu soal tidak makan minum, kalau demikian, waktu itu fikirku puasa itu hanya bikin menderita saja. Kan berdoa saja sdh cukup, pasti Tuhan dengar, ngapain puasa lagi?
Sebagai orang Kristiani, waktu kecil di kampungku Damabagata, di Deiyai, kami sering puasa di masa Prapaskah, tapi saya tidak mengerti di bagian apa kita telah puasa saat itu, yang saya ingat hanya kami tidak boleh makan yang berat atau daging begitu. Itu duluh tapi saat ini saya sering lihat puasanya org muslim tapi saya belum tahu banyak ceritanya.
Yang saya paham sekarang itu seputaran puasanya orang Kristen. Namun pada tahun 1983, saya pernah lihat , ada orang kampung di dusunku Yukudei Tibar yang lakukan pantangan. Aktifitasnya mirip mirip mirip dengan puasanya orang Kristen, ada tujuan puasanya, ada ujud doanya, ada waktu puasanya dan kepada siapa ia pinta serta pantangan pantangan yang wajib ditaati selama puasa agar puasanya terkabul. Orang kampung ini tidak mengerti banyak ajaran kristen dan saya penasaran apa saja isi dan cara doa org ini? Apakah sama dengan orang kristiani?
Kemudian melihat cara puasa orang Kristiani, saya selalu penasaran apakah doa saat puasa itu beda dgn doa di hari-hari biasa? Dan saat puasa itu apa saja yang dilakukannya, apakah duduk diam bersemedi di rumah/goa dari pagi matahari muncul sampai hilang di sore hari atau boleh beraktifitss, jalan jalan sambil puasa? Terus kalau berdiam di rumah, apakah membisu bersemedi atau mulut berkomat kamit ucap kata kata doa? Apakah dalam doa itu manusia akan masuk dalam rerungan, tenggelam dalam dirinya merenung dalam sebuah penerawangan diri?
Selanjutnya selama puasa itu adakah pantangan lain selain larangan makan dan minum? Dan jika seseorang mau puasa itu kapan waktunya yang cocok, berapa hari lamanya atau sampai kapan puasa boleh berakhir? Lalu puasa itu kalau gagal bagaimana dan kalau berhasil seperti apa? Semua pertanyaan pertanyaan ini membuat saya selalu penasaran.
Dari semua penasaran di atas itu ditambah pengalaman saya sendiri ikut puasa, saya tuangkan dalam tulisan berikut ini. Saya harap pembaca tidak bosan dan melanjutkan terus bacanya karena tulisan ini agak panjang dan mungkin amat penting bagi anda.
Waktu itu saya iseng iseng saja ikut puasa di Tahun 2021, puasa untuk Papua Tanah Damai bersama Jaringan Doa Damai Papua. Awalnya saya agak ragu dan bingung karena selain sebagai pemula, saya ini tipe orang yang jarang rutin berdoa, apalagi harus puasa, rasanya tidak pernah. Walaupun demikian, saya tipikal orang yang percaya full pada Kuasa Tuhan. Baik atau buruk dalam hidup saya itu saya selalu terima dengan senang hati karena semua maksud Tuhan. Saya tidak pernah lihat orang lain sebagai penyebab. Klau gagal, saya tidak pernah pandang dunia sebagai penyebab tapi semua kehendak Tuhan, ada maksud Tuhan yang tersembunyi dan saya akan mengerti di kemudian hari.
Ternyata Puasa itu Derita di awal tapi Bahagia di akhir. Atau dengan kalimat kerennya itu ' Sengsara yang membawa nikmat'. Tapi pembaca mohon maaf, disini saya tidak cerita pengalaman sayanya melainkan penelusuranku tentang makna puasa dan jawaban dari berbagai pertanyaan tadi di atas yang pernah buat saya selalu penasaran tentang puasa.
Pertanyaan pertanyaan tersebut, sebagian telah terjawab setelah saya puasa dan sebagian lagi saya telusuri di alkitab serta kumpul kumpul dari cerita lepas pengalaman orang lain.
Yang pertama, ternyata alasan orang puasa karena ada hal hal dalam hidup ini yang dinilai tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan manusia, ada hal yang perlu Kuasa Allah. Dengan kata lain ada pergumulan dalam hidup manusia yang hanya bisa selesai dengan doa yang disertai puasa (Mat 17:14-21). Misalnya Roh Kuasa gelap yang tidak hanya diusir pakai doa saja tapi dengan puasa. Kuasa gelap ini bisa roh alam atau bisa juga dari roh jahat fikiran manusia, yang kekuatann superdasyat tidak biasa dienyakakan dengan doa umat atau hanya dengan doa syafaat ataupun KKR tetapi dengan Doa Puasa. Puasa ini bisa berupa puasa seorang diri bisa juga puasa massal yang diputuskan bersama. Puasa bersama kalau persoalan itu melanda sebuah suku bangsa.
Lalu kapan orang bisa puasa? Puasa tidak muncul begitu saja. Puasa dilakukan saat orang merasa terancam hidupnya, puasa bisa saat wilayah itu hancur karena perang atau karena kejahatan kemanusia atau bencana alam yang tidak berkesudahan. Kkau bencana atau kekuatan dasyat, puasa itu tidak bisa dienyakan hanya dengan kemampuan seorang diri, melainkan puasa bersama contohnya seperti puasa serentak tiga hari tiga mlm saat kota Niniwe hancur. Sedangkan puasa seorang diri itu hal hal khusus yang dihadapi dirinya seperti yang pernah dilakukan Nabi Elia ketia ia merasa putus asa dalam hidupnya.
Singkatnya puasa itu dilakukan ketika manusia butuh pertolongan Tuhan, ketika butuh jawaban Tuhan atau ketika manusia keadaan sedang gersang atau kering secara rohani. Puasa itu sebuah bukti pengorbanan atau mahar yang harus dibayar manusia agar Allah berkenan. Kalau cuma doa singkat doang apalagi dalam keadaan happy apa artinya di Mata Tuhan?
Pertanyaan adalah mengapa agar doa terkabul harus bersusah payah dengan puasa? Manusia itu sekalipun sudah hafal firman, memang makluk angkuh hati dan keras kepala. Angkuh hatinya manusia ditambah Dosa membuat hubungan manusia dengan Tuhan selalu menjadi jauh. Itulah sebabnya semua Doa yg dipanjatkan manusia terkadang terasa gagal, terasa Allah itu tidak mendengarkannya. Lalu apa yg bisa dilakukan, jawabannya adalah : Puasalah.
Selanjutnya ada tiga pertanyaan yang penting yaitu apa tujuan dari puasa itu? Kondisi apa yang dialaminya orang itu sehingga ia mau puasa? Apa hasil yang diharapkan setelah puasa? Terhadap tiga pertanyaan ini, setelah saya telusuri dan merenung ternyata jawabannya sama, ada dalam sembilan poin berikut ini. Dan ini juga alasan mengapa orang kristiani puasa:
1. Memulihkan hubungan dengan Tuhan (Yes 58 :9)
2. Menghadirkan Tuhan dan Menerangi jalan hidup (yes 58:8)
3. Mendatangkan Kesembuhan (Yes 58:8)
4. Mendatangkan Perlindungan ( Yes 58:8)
5. Mendatangkan Jawaban atau Hadirat Tuhan (Yes 58:9)
6. Mendatangkan Pimpinan & Pemeliharaan Tuhan ( Yes 58:11)
7. Mendatangkan Kesegaran dan Kekuatan baru (Yes 58:11)
8. Mendatangkan Kepuasaan hidup (Yes 58:11)
9. Mendatangkan Perubahan dan Pembaharuan total ( Yes 58:12).
Inilah Ujud Ujud Orang kristiani berpuasa dan ujud ini tidak bisa semua sekaligus secara simultan tapi dipilih salah satunya, misalnya ujudnya itu untuk mohon kekuatan dari Allah atau mohon Allah bersama dalam segala perkara atau mohon kesembuhan atau mohon perlindungan Allah atas hidupnya yang terancam.
Orang berpuasa itu bersifat rahasia dan urusanya hanya dengan Tuhan, tidak perlu tunjukkan ke dunia bahwa ia sedang puasa. Ia harus diam sabar selama puasa walau banyak tantangan dan aneka gangguan datang menghampirinya. Ia tetap tenang sampai puasa berhasil. Karena tantangan itu bisa saja Tuhan yang ciptakan sebagai ujian dari puasa, ujian ternadahap konsentrasi iab ke Tuhan? maka ia diam dan berdoa saja.
Kemudian orang yang sudah berhasil dalam puasa, ia akan diam, tidak banyak berkata kata tapi secara nyata ia sudah bersama Kekuatan Tuhan. Ia Dasyat, semua akan terjadi seperti yg ia fikirkan atau ujudkan.
Namun ingatlah bahwa tidak semua orang yang telah puasa di dunia ini bisa berhasil. Untuk mau meraih harapan seperti yang tertulis dalam sembilan poin di atas, tidaklah mudah, banyak tantangan dan syaratnya. Ketika ada niat puasa, tidak langsung serta merta duduk dalam gua atau rumah lalu berpuasa melainkan orang itu harus bertobat duluh. Dengan rendah hati, menyadari dan mengakui kesalahan dan dosa di hadapan Tuhan. Periksa diri jiwa angkuh dan keras kepalanya, jiwa jiwa kerdil dalam dirinya kemudian menyesali duluh, mohon ampun di hadapan Tuhan kemudian puasa. Orang yang sudah puasa juga belum tentu berhasil, semua butuh proses memasuki hidup baru dengan kuasa Tuhan. Jangankan semua ujud dalam sembilan poin di atas, salah satu poit saja sulit, mengapa? Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jawabannya karena Puasa itu tidak mudah, puasa itu banyak syarat, puasa itu harus berkenaan di hadapan Allah dan Puasa itu tdk bisa disederhanakan manusia mengikuti seleranya misalnya puasa senin kamis atau puasa hanya jam2 tertentu yang disesuaikan kesibukan.
Memang banyak orang pernah melakukan Puasa tapi gagal, serasa tidak ada tanda tanda mujizat Tuhan hadir. Mengapa Puasa itu terasa gagal? Jawabanya karena beberapa hal yaitu yang pertama puasa gagal karena sedari awal niat atau tujuan puasa itu sendiri sudah tidak benar. Isi puasa itu seharusnya bertujuan untuk memerdekakan orang, menolong orang yg teraniyaya dan memperaktekan Kasih ( Yes 58:6-7). Hal kedua yang membuat puasa gagal adalah banyak org berfikir puasa itu sekedar menahan lapar dan haus padahal bukan sekedar makan minum. Tetapi syarat hakikinya itu kita sedang puasa terhadap sifat kita yang buruk, puasa sifat keangkuhan hati dan amarah terhadap sesama, kita sedang belajar mengendalikan jiwa harimau yang selama ini ada dalam diri kita. Itu jauh lebih penting daripada sekedar puasa makan minum. Selanjutnya hal ketiga mengapa puasa gagal yaitu soal kesadaran, dimana puasa itu harus terjadi karena kesadaran sendiri, bukan sekedar ikut-ikutan atau demi mengejar formalitas belaka. Itu namanya Puasa yang tidak menyiapkan waktu, hati dan fikiran yang terfokus pada Tuhan (Yes 58:3). Kemudian yang terakhir puasa bisa gagal juga karena tidak singkronnya antara ujud puasa dan model puasa yang dipilih. Tidak mungkin permohonan ke Tuhan itu ujudnya berat tapi model puasanya dipilih cara yang sederhana dan biasa biasa saja. Seseorang puasa tapi puasanya disesesuaikan kesibukan dan kemampuan tubuh, dengan kata lain Puasa tidak sesuai kehendak Allah.
Demikian beberapa hal mengapa puasa itu berat dan penuh tantangan, akan tetapi siapapun manusiandi bawah kolong langit ini mau sukses puasa harus lewati tantangan yang berat itu.
Selanjutnya kita bertanya : mungkinkah puasa itu berhasil jikakalau orang yang sedang puasa itu terjebak dalam hal hal bersifat manusiawi?. Banyak, orang telah melakukan puasa tapi kaki masih injak bumi. Beberapa sifat manusia bisa dijelaskan berikut ini. Yang pertama, niat puasa itu hanya untuk kepentingan dirinya sendiri ataupun niatnya meminta ke Tuhan kekuatan untuk mencelakakan orang lain atau kepentingan kejahatan lain? Kemudian yang kedua, ketika Puasa, fokusnya tidak ke Tuhan, tetapi konsentrasinya terbagi ke kesibukan kerja, sibuk on line WA, facebook, sibuk baku maki atah terlalu sibuk dengan hal hal duniawi lain? Kita sedang puasa tapi aktifitssnya berat seoerti kerja kebun, kerja kantor atau olaharaga berat yang melelahkan sampai raga ini jadi lapar dan haus lapar? Hal yang ketiga adalah kita berpuasa bukan karena kesadaran kita tapi ajakan orang lain, tidak tahu apa ujud kita berdoa dan puasa. Kalau demikian maka kita hanya ikut ikutan, ketika org lain puasa kita juga puasa, kalau mereka kerja kitapun juga ikut kerja, ketika org lain makan atau minum kita juga ikut serta? Dan sifat manusiawi yang terakhir yaitu puasa yang tidak totalitas sesuai ujud doanya. Misalnya orang puasa itu meminta ke Tuhan ujud yang tidak tanggung tanggung yaitu memulihkan hubungan dengan Tuhan atau mendatangkan perubahan dan pembaharuan total. Namun cara puasanya itu ringan saja yaitu tetap makan minun hanya batasi makan daging, buah atau makanan kesukaan? Atau sedang puasa makan minum dan rutin berdoa tapi masih maki2 orang, masih menyaksikan konser musik, masih olaraga, kerja kebun atau berkantor yang bikin lelah sampai tubuh perlu nutrisi dan makan dan minum, tidak konsen dan gagal puasa.
Itulah tantangan beratnya puasa. Puasa butuh kekuatan fisik dan mental serta kesiapan bathin. Ketika sudah memutuskan puasa, kita sudah siap tahan lapar dan haus, kita sudah siap tidak tergoda hal hal duniawi yang kita gemari dalam hal makanan, minuman, kegemaran main facebook, WA serta semua keingininan lain yang muncul melalui pandangan mata dan penciuman hidung serta hawa nafsu pada lawan jenis.
Selain tantantangan di atas, faktor lamanya waktu puasa menentukan keberhasilan puasa. Tidak mungkin puasa satu dua hari saja untuk ujud doa yang berat pasti bisa berhari hari. Lama puasa itu bisa 3, 7, 21 atau 40 puluh hari, tergantung ujud doa, kesiapan yang bersangkutan dan Kehendak Allah.
Selama puasa itu akan ada banyak tantangan, masa yang penuh tantangan itu ada di saat awal dan di akhir waktu. Saat awal itu tantangan yang berkaitan dengan ketidaksiapan tubuh yang sudah terbiasa kondisi enak enak sebelum puasa dengan aneka kenikmatan duniawi berubah ke masa puasa yang tidak makan minum serta pantangan lain. Sedangkan tantangan di akhir waktu itu, ujian dari dari Allah terhadap orang sedang puasa. Orang yang dinilai sdh berhasil memasuki akhir akhir puasa sesuai kehendakNya akan ada banyak cobaan. Bisa saja Allah bikin orang yang puasa itu benar benar lapar dan sediakan roti atau ubi didekat orang yang sedang puasa itu. Atau Allah sengaja datangkan musuh untuk menghina atau menghasutnya apakah orang yang sedang puasa itu terpancing atau atau bertahan fokus pada Tuhan?
Klau terjadi kejadian kejadian seperti itu, Ini tanda2 bahwa doa puasa sudah berkenan di mata Allah. Rumusnya hanya satu: bertahan dan berdoa saja. Untuk mendapatkan hasil yang luar biasa dari Allah, harus lewati ujian yang luar biasa juga. Yesus saja puasa 40 hari lamanya dengan ujian luar biasa yaitu didatangi iblis untuk menggoda agar tidak taat pada Allah. Demikian juga Abraham ketika sebelum ia mendapatkan gelar Bapak beriman dari segala bangsa, ia harus lewati ujian terakhir yg tidak masuk akal di akal manusia, yaitu harus korbankan anak satu satunya Isak sebagai korban persembahan. Namun Abraham tetap taat dan fokus pada Allah dan berhasil menjadi bapak orang beriman dan Allah memberi janji kepadanya yaitu Yesus dan Kita yang ada sekarang ini. Luar biasa!
Demikianlah pemahaman saya tentang puasa yang saya tahu, dari tulisan ini mungkin ada yang perlu dikoreksi untuk disempurnakan pada tulisan lain. Sebagai penutup, ujung bawah dari tulisan ini, saya ingin tambahan hal hal yang bersifat saran. Yaitu sebelum memasuki puasa, seseorang atau kelompok yang mau puasa perlu menetapkan tujuan atau ujud dari puasa. Kemudian kalau puasa itu sifatnya kelompok perlu bangun kesadaran dan kesiapan hati dan fikiran agar semua terfokus ke Tuhan. Klau sifatnya pemulihan negeri, Pemerintah harus mekibirkan rakyatnya. Kemudian memilih model puasa yang cocok dengan ujud doa. Model puasa itu ada tiga tingkat, pertama puasa biasa yaitu puasa yang hanya tidak makan daging dan anggur, yg kedua puasa mutlak yaitu puasa yang tidak makan, hanya minum putih saja atau makan ringan seperti bubur itupun pada jam 18.00 malam. Puasa tingkat tiga adalah puasa tingkat berat yaitu puasa total beberapa hari, tidak makan minum, semua konsentrasinya total ke Allah. Dan itu yang Tuhan Yesus lakukan selama 40 hari. Apakah kita bisa model Yesus yang puasa tingkat berat itu?
Jawabannya, jangankan tingkat yang berat, puasa tingkat biasa itu saja pasti sulit. Kita ini terkadang saat puasa sudah makan minum pula doa di jam tertertu saja lupa. Kita sudah susun schedule doa tapi lupa doa pada pukul 06,00, pukul 09,00, pukul 12.00, pukul 15.00 dan 18.00. Dia kita tidak konsisten dan terlewat. Tapi terlewat lebih baik dari pada tidak pernah puasa sama sekali. Orang yang puasa itu memang pengalaman pertama bisa gagal tapi puasa yang ke dua atau ketiga akan berhasil. Selain itu doa puasa itu wajib dilakukan manusia selain untuk selalu mendekatkan diri pada Allah, juga agar manusia itu tidak menjadi makluk yang maniak duniawi. Maksudnya dengan puasa manusia bisa bebas dari kuasa duniawi. Ilustrasinya, manusia itu kalau bisa hidup dengan makan satu senduk nasi mengapa harus tiga senduk, kalau bisa dengan air putih mengapa harus dengan kopi susu misalnya. Pada tingkat moral, kalau bisa selamatkan manusia lain mengapa tenggelam dalam iri hati, benci dan amarah kepada sesama. Pengalaman membuktikan bahwa orang yang puasa itu fikiran selalu positif dan memiliki hati yang gembira sebagai obat yang mujarab. Dan orang puasa akan terbebas dari komsumsi makan dan minum yang berlebihan, sehingga badan sehat dan panjang umur. Orang demikian akan hidup dan usianya mencapai tujuh puluh sampai delapan puluh tahun sesuai Firman Allah (Mazmur 90:10).
Amin
Dari berbagai sumber
Awik@ituma jr 22.
Iklan ada di sini
Komentar