MASA DEPAN BUKU

MASA DEPAN BUKU

MASA DEPAN BUKU

Sebuah riset terbaru menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan di dunia buku: anak-anak sekarang kurang membaca buku dan kurang menikmati membaca buku dibanding seluruh generasi sebelumnya! 

Sebagaimana dilaporkan oleh The Observer: pada 2019 hanya 26% dari anak di bawah usia 18 tahun yang suka membaca buku. Ini adalah angka terendah semenjak dilakukannya survei tentang kebiasaan membaca buku di kalangan anak-anak pada 2005. Temuan ini sudah semestinya dianggap sebagai "wake-up call" atau peringatan bagi pemerintah. 

Mari kita tengok lingkungan kita sendiri: anak-anak lebih suka dikasih wifi (gratis apalagi) ketimbang dihadiahi buku, sibuk dengan gadget, dan kurang begitu suka menghabiskan waktu dengan buku. Dulu, setiap jam istirahat sekolah, banyak anak berhamburan ke perpustakaan. Dulu, menenteng buku adalah sebuah kebanggaan. Sekarang bukan lagi, "buku apa yang sedang kau baca?" melainkan "hape-mu merk apa?" atau "kamu sudah tahu aplikasi ini?" dan lain sebagainya.

Ya salah satu alasannya: sekarang anak punya banyak pilihan dalam menghabiskan waktunya ketimbang generasi-generasi sebelumnya. Lagipula, ilmu atau informasi tidak cuma didapatkan dari buku. Google, YouTube, dan medsos adalah timbunan ilmu dan informasi yang bisa didapat semudah menjentikkan jari.

Sekarang tantangannya adalah, bagi penerbit buku dan semua stakeholdernya, membuat dan menyediakan buku yang benar-benar disukai dan dibutuhkan oleh pembaca sekarang, dan bagi keluarga,mendorong dan menciptakan budaya membaca dimulai dari rumah.

Bagaimana masa depan buku? Di tengah pesimisme, kita tetap harus merawat optimisme. Survei yang sama juga menunjukkan bahwa anak-anak perempuan mempunyai minat dan kesukaan membaca buku lebih besar ketimbang anak laki-laki. Jangan heran nanti, jika buku-buku di masa depan punya lebih banyak tema yang dibutuhkan dan disukai perempuan.

Tetap semangat.
Jangan lupa bahagia.
www.indoliterasi.com
Iklan ada di sini

Komentar