WAJAH-WAJAH TERLUKA

WAJAH-WAJAH TERLUKA

Telah terukir sebuah sketsa wajah pada ujung kelopak mata, bahwasanya tergambar sebuah hidup yang berlanjut terus dan menerus, akan di koyak luka hingga di gilas duka, abadi bagai lukisan para dewa yang menjadi tontonan ribuan mata.

Mampuslah kau, insan-insan di bumi koloni. Jika waktumu hanya berandai hura hara di ruang pekikkan yang menindih, dan mencebur angan memprakarsai kefanaan. Untuk dari banyaknya ruang kau memberi leluasa pada tirani kolonial meringkusmu.

Luka tak akan melihat betapa senyap harimu merayakan perihnya dan luka takkan pernah berhenti mengilu tanpa kamu yang membalutinya sendiri. Memar nanarnya tak ada penawarnya, selain kau menemu vaksin bernama kebebasan.

Cerita panjang terpajang di dinding zaman ke zaman, dalam legenda bangsa-bangsa di jagat raya ini. Bahwa, kewahyuan suatu negeri koloni akan terluka dan terus akan terluka dari laku jahanam tirani melalui tangan-tangan jahil serdadunya.

Timah bedilnya, akan selalu melerai dada. Kapanpun tetap akan menghunjam hatimu menuai nyawa tumbang, seperti dedaunan gugur terkulai sebelum musim gugur. Begitulah tingkap laku kekejaman kehidupan yang tersirat bagi bangsa tertindas.

Di negerimu keadilan hanyalah remah-remah roti di persimpanga dan kau hanya anjing-anjing yang menjilat dan terbudak. Namun selalu dan masih saja terbahak tawa menikmati lesatnya kebiadaban di abad keadaban ini.

Bumi Koloni, 15-01-20
Aleks Giyai

Foto: Dicky T
Iklan ada di sini

Komentar