BUDAYA SUKU MEE DALAM MASSA PERUBAHAN

BUDAYA SUKU MEE DALAM MASSA PERUBAHAN

BUDAYA SUKU MEE DALAM MASSA PERUBAHAN

Membangun sebuah rumah atas dasar pondasi yang kuat agar dapat bertahan lama atau tidak mudah rubuh. Begitupun dengan manusia menjalani kehidupan berdasarkan pondasi yang kuat supaya tidak mudah terdoktrin dengan pengaruh-pengaruh dari luar  yang berusaha mengarahkan masyarakat pada ambang kehancuran. 
Pondasi yang saya maksud di sini adalah aturan hukum adat dan nilai-nilai budaya suku mee setempat. Orang yang melangkah atas dasar pondasi yang kuat mampu membedahkan mana yang baik dan yang buruk sehingga tidak mudah terpengaruh.

Budaya adalah cara berpikir, berkarya, bergaul dan bertutur yang telah menjadi kebiasaan secara individu maupun kolektif. Dengan demikian, budaya memuat segala aktifitas fisik maupun nonfisik (moril dan materil) yang diaplikasikan dalam kehidupan sosial. Setiap suku bangsa tentu memiliki budaya sangat berbeda-beda yang diwariskan secara turun temurun. Kehidupan masyarakat Papua pada umumnya dan khususnya masyarakat suku Mee pun tidak terlepas dari budaya tersebut. Semua itu, terangkum dan tercermin dalam aktivitas kehidupan sosial. Menurut aturan adat dan norma sosial, ada hal-hal tertentu yang dibatasi sehingga itu tergolong kedalam perilaku setiap individu. Perilaku juga merupakan bagian dari pada budaya tersebut, namun lebih mengarah pada melihat baik dan buruknya aktivitas seseorang. Sedangkan budaya dimengerti menyangkut hal-hal yang baik saja. dengan demikian, sesuatu yang bertentangan budaya dapat digolongkan kedalam perilaku individu.

Berdasarkan budaya suku Mee yang diwariskan secara turun-temurun, tentu memiliki metode tersendiri dalam menata kehidupan sosial, baik itu dari segi sosial, ekonomi, pendidikan dan sistem politik serta keyakinan. semua itu merupakan bagian daripada budaya itu sendiri. Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut budaya suku Mee, di tinjauh dari beberapa segi kehidupan:

1. Segi Sosial 
Kehidupan masyarakat suku Mee tidak terlepas dari jiwa sosial atau rasa empati dan saling menghargai terhadap sesama manusia. Mereka (masyarakat Mee) secara turun temurun, tidak membiarkan sesama yang lain menderita, lapar, susah dan sakit. Hal ini membuat masyarakat Mee bersatu dalam menghadapi persoalan yang timbul dari dalam maupun luar. Dengan kata lain, masyarakat Mee memiliki budaya kolektifitas, empati, humanis dan religius.

Suatu idealisme yang sangat konkrit dan nyata untuk menjadi seorang manusia yang diakui, dihargai, dihormati dan dikagumi yang pertama harus diperbuat dan perlihatkan adalah kebaikan dan kebenaran bersikap. Jikalau hal pertama ini telah ditunaikan, maka hal-hal lain akan datang menyusul. Menjadi diri sendiri adalah idealisme utama leluhur, (Manfred Chrisantus Mote, 2013).Berdasarkan idealisme ini, leluhur memiliki perspektif dalam kehidupannya bahwa harus menjadi yang pertama dalam menolong dan membantu orang-orang atau sesama yang benar-benar membutuhkan bantuan uluran tangan dari orang lain.

2. Sistem ekonomi
Masyarakat suku Mee pada umumnya memiliki satu istilah “Keitai/Ekowai” dalam kehidupan mereka. Keitai/ekowai merupakan suatu landasan hidup sosial yang dipegang teguh oleh masyarakat suku Mee sebagai motivasi bagi setiap orang untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai dengan dengan bidang pekerjaan yang ditekuninya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.Mata pencaharian masyarakat Mee pada umumnya adalah berkebun, beternak dan kegiatan lainnya yang digolongkan kedalam kealihan masing-masing individu.Menurut Manfred Chrisantus Mote, masyarakat suku Mee adalah masyarakat agraris yang hidup dari kegiatan bertani dan berternak. Makanan pokoknya adalah petatas (Notaa) dan keladi (Nomoo). Suatu keluarga etnis Mee, menimal memiliki dua buah lahan kebun petatas atau pun keladi. Pertimbangannya adalah jika mereka sedang mengerjakan sebuah kebun dan hasilnya belum tua, maka sementara itu mereka memanen hasil-hasil dari sebuah kebun yang lain.
Kepentingan pemenuhan kebutuhan makanan tersebut, mereka bekerja setiap hari. Dengan demikian, tidak bolah ada hari tanpa bekerja. Orang yang tidak bekerja, tidak boleh makan atau dilarang untuk makan hasil usaha orang lain, bahkan tidak diberi makan kepada orang yang tidak bekerja kebun, sebab ia tidak mau makan dan itu berarti tidak mau hidup, (Manfred Chrisantus Mote, 2013: 73). Pandangan ini memberikan dorongan bagi setiap individu agar terus-menerus bekerja dan berusaha untuk memenuhi kehidupannya secara mandari.

3.  Sistem Pendidikan 
Nota/dugi naine gapeko, tai/bugi ekowai, ekina naine gapeko, ekina muni, naapo naine gape, naapo wei dan lain-lain. Itulah beberapa kalimat yang disampaikan oleh orang tuah (Ayah) kepada anaknya yang tidak kerja sambil makan salah satu diantaranya yang disebutkan diatas. Hal ini dilakukan untuk mewujudkan suatu dorongan dalam diri anak tersebut agar ia dapat kerja kebun, pelihara ternak babi, dan juga pekerjaan lainnya. Dengan kata lain, jika orang tuah menginginkan anaknya mempunyai kreatifitas dalam kehidupannya, maka harus pelit terhadap anak yang pemalas. Sedangkan anak yang rajin selalu diarahkan agar kreatifitasnya dapat ditingkatkan.

Selain dari itu, sistem pendidikan masyarakat suku Mee secara adat memiliki metode tersendiri dalam proses pembelajarannya. Metode yang saya maksudkan adalah pada saat memberikan pendidikan adat pria dan wanita dapat dipisahkan sehingga kaum wanita diajari oleh wanita yang lebih tua (mama), begitu juga kaum pria diajari oleh yang lebih tua (bapa). Materinya dimulai dari kasih sayang terhadap orang tua, norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sosial sampai dengan kemandirian hidup. Dan dapat disesuaikan dengan perkembangan umur anak.

Disisi lain, pendidikan secara lisan itu juga disampaikan dalam banyak bentuk, seperti yang dikatakan oleh (Manfred Chrisantus Mote, 2013, iv) yakni melalui cerita, dongeng, mitos, hikayat, pantun, atau dalam bentuk lagu, seperti Uga, totauga, komauga, kotekauga, bedouyouga, yametegauwa, tuupe, gawai dan gaupeuga. Lainnya dalam bentuk nasehat, wasiat dan dalam bentuk perumpamaan dan perbandingan, pepata dan teka-teki. Dengan pendidikan seperti itu, anak dapat dilatih untuk menganalisis dan menangkap makna yang terkandung didalam. Dengan kata lain, bukan hanya sebatas mendengar dan menetahui alur ceritanya saja, melainkan menganalisis apa makna di balik itu.

 
5.  Sistem  Keyakinan 
Suku Mee mempunyai keyakinan dalam kehidupan dari dahulu. Mereka meyakini bahwa ada sesuatu yang membuat, menulis dan menciptakan segala-galanya. Hal ini dapat dilihat dari ungkapan atau penyebutan “UGATAMEE” secara turun-temurun. UGATAMEE (pribadi yang menulis), EBIYATAMEE/KOMUGAYAWITAMEE (pribadi yang menciptakan), IPABOKOUTOMEE (pribadi yang penuh kasih) dll. Dengan demikian, orang Mee meyakini bahwa ada pribadi yang menuliskan, menciptakan dan memberikan segala-galanya dalam kehidupan mereka.

Berdasarkan keyakinan tersebut, suku Mee menjalani kehidupannya atas dasar ajaran yang bersumber dari UGATAME yang kemudian dalam bahasa Mee disebut KABOMANA, TOUYEMANA (ajaran dasar) yang diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai fondasi hidup dan diwariskan secara turun-temurun.

6.  Sistem kesenian
Tarian adat pun tidak terlepas kehidupan setiap suku bangsa di planet bumi ini yang diperbaharui sesuai dengan perkembangan zaman yang semakin mengarahkan masyarakat ke ambang kehancuran, akibat pengaruh global. Begitu juga dengan konteks kehidupan masyarakat suku Mee. Ada beberapa tarian yang dimiliki dan diwariskan secara turun-temurun. Tarian yang dimaksud antara lain, seperti emaida (yosim), gaupe uga (pemberian nama), tegauwa, dll.

7.  Aturan Hukum Adat.
Tentunya masyarakar Mee memiliki aturan hukum adat yang termuat larangan-larangan atau norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sosial. Aturan hukum adat tersebut tidak tertulis sehingga disampai secara lisan kepada generasi penerus agar dapat dipatuhi. Hal menarik dan unik dari aturan hukum adat ini adalah memiliki efek atau dampak yang jelas secara alami bagi yang melanggarnya. Menurut Manfred C Mote (2013:173), manusia etnis Mee mempunyai hukum, norma dan aturan-aturan adat yang mengatur, mengarahkan mengendalikan, mengawasi dan mengontrol seluruh dinamika kehidupan masyarakat.

Berdasarkan penjelasan singkat diatas ini, dapat saya katakan bahwa tidak ada yang kurang dalam kehidupan suku Mee. Segala-galanya telah diberikan oleh UGATAME sejak awal. Namun, itu juga harus diperbaharui sesuai dengan tuntutan zaman untuk terus-menurus menuju prinsip-prinsip keteraturan dan etika demi membuat keteraturan dan pilihan etika baru berdasarkan identitas asli guna mempertahan eksistensi identitas itu sendiri. 
Dititik inilah pemangkasan kekayaan sumber daya manusia (SDM) Mee agar dapat dijebak dalam konteks kehidupan sosial yang kita hadapi saat ini dan itulah tantangan bagi generasi muda saat ini.

Semoga ini menjadi Referensi bagi kita kaum mudah agar terus kritis dalam era globalisasi.

Oleh Sa-Fer M Adii
Jayapura  37/04/2022

Iklan ada di sini

Komentar